Mitos di Balik Gangguan Identitas Disosiatif

Gambaran Umum

Pernah mendengar istilah “kepribadian ganda”? Atau barangkali pernah menonton film/acara televisi yang melibatkan kasus kepribadian ganda? Atau Anda malah pernah merasa atau mengaku memiliki kepribadian ganda?
Apa sih, kepribadian ganda itu, dan apa yang sebenarnya terjadi pada orang yang memiliki “kepribadian ganda”?

Dissociative Identity Disorder (DID) – sebelumnya bernama Multiple Personality Disorder (MPD) – adalah gangguan mental dimana individu mengalami identitas yang terbagi-bagi dan tidak terintegrasi seperti orang pada umumnya yang memiliki ‘sense of self’ yang satu dan utuh. Hal ini ditandai dengan adanya identitas-identitas lain pada individu yang disebut ‘alter-states’ yang bergantian mengambil alih kesadaran individu untuk mengakomodasi situasi-situasi tertentu.

Pada umumnya, penyebab DID adalah pengalaman traumatik pada masa lampau, seperti penyiksaan atau pengabaian, yang mendorong individu untuk secara tidak sadar menciptakan alter-state / identitas baru sebagai mekanisme pertahanan untuk mengatasi konsekuensi dari trauma seperti stres, agresi, dan depresi. Proses pemisahan identitas ini disebut disosiasi. Fungsinya adalah agar individu dapat melepaskan diri dari tekanan mental melalui pemisahan pikiran, memori, perasaan, dan tindakan.

Dalam ranah ilmiah, DID masih mengundang kontroversi karena validitasnya sebagai suatu gangguan kejiwaan masih dipertanyakan. Beberapa ilmuwan beranggapan bahwa DID tidak benar-benar nyata atau palsu. Salah satu alasannya adalah karena individu dapat saja “mengarang” pengalamannya.
Namun, menurut Bethany Brand, Ph.D, pakar gangguan disosiatif dari Universitas Towson, kontroversi ini muncul akibat kurangnya edukasi dan pemahaman mengenai DID. Selain itu, masih banyak mitos yang mengelilingi DID, salah satunya yang paling umum dikatakan orang awam adalah bahwa penderita DID “memiliki orang-orang yang berbeda di dalam dirinya”.
(Orang-orang dengan DID juga sering mendapatkan misdiagnosa sebagai mengalami kerasukan roh.)

Beberapa Mitos Populer Mengenai DID

1. DID merupakan gangguan yang tergolong langka

Penelitian menunjukkan bahwa di dalam populasi yang umum terdapat 1-3% yang memenuhi seluruh kriteria untuk DID. Ini menjelaskan bahwa kasus DID ditemukan sama seringnya dengan Bipolar Disorder dan skizofrenia. Meskipun begitu, penelitian mengenai DID masih sangat minim dan kekurangan dana sehingga pengetahuan mengenai gangguan ini masih terbatas.

2. Penderita DID mudah dikenali

Penggambaran media mengenai penderita DID seringkali dilebih-lebihkan dan sama sekali tidak seperti pada kenyataannya, membuat orang awam beranggapan bahwa DID mudah dikenali melalui gejala-gejala ekstrimnya. (Seperti bagaimana orang awam dengan mudah melabel pembunuh sebagai psikopat meskipun psikopat tidak sama dengan pembunuh.) “DID jauh lebih tidak kentara dari penggambaran Hollywood,” ujar Brand. Nyatanya, penderita DID rata-rata menghabiskan sekitar 7 tahun dalam perawatan kesehatan mental sebelum didiagnosa dengan DID.

3. Penderita DID memiliki kepribadian-kepribadian yang terlihat jelas

Daripada kepribadian-kepribadian yang terlihat jelas, individu dengan DID memiliki keadaan pikiran yang berbeda-beda. Brand menjelaskannya sebagai “memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengekspresikan dirinya, yang kita semua lakukan hingga batas tertentu, tetapi bedanya penderita DID tidak selalu dapat mengingat apa yang mereka perbuat atau katakan ketika berada dalam keadaan pikiran lain.” Contohnya adalah dalam kasus Karen Overhill dimana dia kebingungan ketika menemukan $25,000 dalam tasnya ketika di Las Vegas (yang awalnya hanya memiliki $25), tanpa sadar bahwa dia telah masuk ke kasino. (Ini merujuk kepada gejala amnesia pada kriteria DSM untuk DID.)

4. Hanya penderita DID yang berdisosiasi

Orang-orang berdisosiasi sebagai respon terhadap trauma atau situasi-situasi luar biasa lainnya seperti rasa sakit yang intens atau kegelisahan. Jadi, orang-orang dengan gangguan lain seperti gangguan kegelisahan (anxiety disorders) dan PTSD juga mengalami disosiasi.

[Bagi yang masih penasaran dengan “rupa” DID dalam kehidupan nyata, penulis menganjurkan pembaca untuk membaca lebih jauh mengenai kasus Karen Overhill dan 17 identitasnya sebagai salah satu contoh kasus DID yang telah dipublikasikan.
Salah satu artikel yang memuat kasus Karen dapat dibaca disini: https://www.dailymail.co.uk/femail/article-558521/Meet-17-personalities-inside-mind–read-I-ruthlessly-killed-one

Reading Guide:

https://psychcentral.com/lib/dispelling-myths-about-dissociative-identity-disorder/2/

Contemplating the Controversies of Dissociative Identity Disorder

https://www.mentalhealthamerica.net/conditions/dissociation-and-dissociative-disorders

– Syndrigast @ Perspektif

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s