Islamic Golden Age

Salah satu topik yang paling sering dibangga-banggakan oleh Muslim apologetic adalah Masa Kejayaan Medieval Islam. Dengan bangganya mereka selalu berkata bahwa seluruh dunia harus berterima kasih pada Islam karena kemajuan teknologi bisa terjadi berkat Islam. Mereka membawa-bawa sejarah masa keemasan Islam untuk menjustifikasi opininya bahwa Islam adalah agama yang sangat sempurna, Islam melahirkan modern science, menjustifikasi dukungannya mengenai syariah, khilafah dan sebagainya.

Golden Age Syndrome akut yang dialami para muslim ini kadang memang membuat saya greget juga. Seakan-akan tanpa Islam tidak akan ada dunia modern, dunia akan tetap berada dalam “kegelapan”, dan sebagainya.

Apakah benar memang kemajuan Islamic Golden Age itu karena Islam? Atau ada faktor lainnya?

👉 Pemerintahan Abbasid yang “liberal”, menjunjung tinggi pemikiran bebas dan sains 👈

Islamic Golden Age sendiri terjadi pada masa Caliph of Abbasid Dynasty, dimana pada masa ini pemikiran liberal dan freethinking merajalela. Pada masa ini kebebasan berpendapat, berekspresi, berpikir sangat dijunjung.

Harun al-Rashid, Abbasid Caliph saat itu, merupakan seorang yang menjunjung tinggi pengetahuan. Dialah yang mendirikan House of Wisdom, di Baghdad yang diperuntukkan untuk menjadi pusat sains dan intellectual centre.

Al-Ma’mun, anaknya al-Rashid, bahkan lebih ekstrim lagi, dia adalah seorang pengikut Mu’tazila yang “menuhankan” logika dan pemikiran rasional. Al-Ma’mun berpendapat bahwa kepercayaan itu harus dipertimbangkan dengan akal dan logika, berbeda dengan pengikut Islam lainnya yang berpendapat bahwa kepercayaan itu nomer satu dan mempraktikan Quran secara literal. Bahkan fanatismenya terhadap Mu’tazila yang berlebihan, membuatnya sering “menekan” beberapa ulama-ulama besar Islam sendiri. Sampai-sampai salah satu tokoh besar Islam masa itu, Ahmad ibn Hanbal, dipenjara olehnya.

Berbeda dengan Dinasti Kekhalifahan Islam sebelum-sebelumnya, Abbasid lebih welcome terhadap bantuan dan support dari pihak lain. Bahkan pemerintahan Abbasid ini mengadopsi sistem administrasi dari Kekaisaran Sassanids Persia). Pemerintahannya sendiri terkesan jauh lebih “liberal” dibandingkan pemerintahan Kekhalifahan sebelumnya.

Pada masa inilah kejayaan Islam dimulai. Al-Ma’mun mensponsori beberapa ekspedisi besar dan eksperimen untuk ilmu pengetahuan. Dia membiayai ekspedisi untuk mengambil semua ilmu pengetahuan dan skriptur-skriptur dari berbagai belahan dunia dan mentranslatenya kedalam Arabic. Dia juga mengundang semua intelektual-intelektual dari berbagai tempat, muslim dan non-muslim, arab non-arab untuk datang ke Baghdad dan membagikan pengetahuan yang dimilikinya serta mensponsori mereka. Pengetahuan dari Yunani, Roma, India, Mesir hingga China semua dikumpulkan di perpustakaan terbesar di dunia pada masa itu yang terletak di Baghdad.

👉 Peradaban bangsa lain memunculkan “Islamic Science” 👈

Banyak sekali penemuan-penemuan baru pada masa ini dipengaruhi oleh peradaban-peradaban dan penemuan terdahulu negara-negara yang ditaklukan oleh Kekhalifaan Islam seperti Byzantine dan Sassanid Persia). Belum lagi penemuan yang disempurnakan dari peradaban lainnya seperti India, China, Yunani, dan sebagainya. Bahkan beberapa penemu-penemu muslim menganut paham-paham adopsi dari budaya lain seperti paham Aristotelianism dan Neoplatonism dari Yunani kuno.

Banyak yang membanggakan bahwa aljabar, trigonometri, konsep angka nol, decimal number, Arabic numeral, bubuk mesiu, sampai teori gravitasi sebagainya hasil dari Islam sebelum disempurnakan oleh “barat”, menuduh “barat” tukang klaim. Padahal Islam sendiri tidak membuat konsep tersebut dari nol, konsep-konsep dan penemuan tersebut sudah ada dan ditransfer ke Arab dari berbagai peradaban lainnya lalu disempurnakan. Moyangnya konsep trigonometri, decimal number dan Arabic numeral sebenarnya berasal dari India. Aljabar sendiri kalau dirunut sebenarnya sudah ada sejak jaman Babilonia, dan pengetahuan ini mempengaruhi Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi yang dianggap sebagai pencipta Aljabar. Bubuk mesiu sudah ditemukan oleh China jauh sebelum Arab. Astronomi diadopsi dan dikembangkan dari pengetahuan Yunani, India, dan Persian.

Beberapa ilmuwan kebanggaan Islam diantaranya adalah orang-orang Persia (sebagian diantaranya juga oleh non-muslim yang jarang disebut-sebut seperti Ibn Butlan, Ibn al-Tilmīdh, dll). Persia memang salah satu peradaban termaju sudah sejak dahulu jauh sebelum Islam muncul, sering memberikan kontribusi besar terhadap teknologi dan ilmu pengetahuan, bisa disejajarkan dengan peradaban Yunani, India, Mesir dan China. Al-Ma’mun sendiri pernah mengatakan “The Persians ruled for a thousand years and did not need us Arabs even for a day. We have been ruling them for one or two centuries and cannot do without them for an hour.”

👉 Penemu-penemu “sesat” 👈

Abbasid Caliphate yang lebih menekankan pada science dan logical thinking ini mengakibatkan munculnya banyak pemikir-pemikir bebas dan penemu-penemu cerdas. Yang menariknya, beberapa dari mereka memiliki pemikiran yang mungkin bagi beberapa muslim dianggap “sesat”.

★ Al-Razi, Persian dokter, filsuf, dan alchemist. Dia sangat vokal dalam mengkritik agama. Dalam salah satu bukunya, dia berkata: “The prophets—these billy goats with long beard—cannot claim any intellectual or spiritual superiority. These billy goats pretend to come with a message from God, all the while exhausting themselves in spouting their lies, and imposing on the masses blind obedience to the ‘words of the master.’ The miracles of the prophets are impostures, based on trickery, or the stories regarding them are lies.”

★ Ibn Sina, juga seorang Persian Scholars yang berkontribusi terhadap pengobatan, astronomi, kimia, psikologi, matematika, geografi, dan filosofi. Inilah salah satu tokoh ilmuwan kembanggaan muslim yang sering dipuja-puja. Dia beranggapan bahwa Tuhan bukanlah “law giving” dan tidak adanya eternal reward or punishment. Pemikirannya yang kritikal dicap sebagai “ateis” oleh tokoh besar Islam seperti Al-Ghazali dan Al Faranbi.

★ Al-Kindi, seorang filsuf, dokter, mathematician, dan musician. Dia memiliki kontribusi besar dalam bidang astronommi, filosofi, optik, pengobatan, dan ilmu kimia. Dia juga dianggap kafir karena pemikirannya yang menyatakan jagad raya ini eternal, menentang konsep kebangkitan jiwa, dll.

★ Ibn Rushd, seorang ilmuwan dan filsuf yang berkontribusi dibidang astronomi, pengobatan, fisikam dan psikologi. Karena paham Aristoteliannya, dia dituduh sesat. Sayangnya nasibnya tidak sebagus ilmuan lainnya yang lahir di Abbasid Caliphate sekitar satu abad sebelumnya, masa dimana pemikiran bebas lebih berkembang. Pemikiran-pemikiran dan beberapa bukunya yang dianggap “sesat” oleh pemuka-pemuka Islam saat itu membuat karirnya jatuh. Yakub Al-Manshur, pimpinan saat itu, sambil berkata “May God curse the one who wrote this”, membakar beberapa buku-buku Ibn Rushd lalu mengasingkan Rushd.

★ Al-Farabi, tokoh ilmuan terkenal yang berkontribusi di bidang matematika, kimia, psikologi, fisika, dan filosofi. Dia juga seorang tokoh yang menekankan reason diatas kepercayaan buta. Menurut dia seperti yang dikutip oleh Nicholson “reason should govern and control the life of man.”

Dilihat dari contoh tokoh terkenal diatas, mereka terkesan skeptik atau pemikir bebas yang tidak jarang dicap “sesat” oleh kalangan muslim sendiri. Seribu tahun kemudian, kalangan muslim seakan-akan berubah pikiran dan mulai mengangung-agungkan mereka, menganggapnya sebagai “true” muslim yang telah merubah dunia.

Jika kita lihat dari sejarah, hampir semua bangsa maju yang berhasil menciptakan dan berkontribusi pada kemajuan peradaban manusia memiliki satu kesamaan. Dari Medieval Islam, Yunani kuno, Persia, Babylonia, Mesir, India, bangsa mereka menjunjung tinggi pengetahuan, reasoning, dan kebebasan berpikir.

Lihatlah sekarang bangsa mana yang menjunjung tinggi kebebasan berpikir? Negara mana yang lebih terbuka dan liberal? Negara yang mendukung kemajuan sains tanpa sedikit-sedikit membicarakan halal-haram kafir. Kalau kita perhatikan, negara-negara tersebutlah yang sekarang paling banyak memberikan kontribusi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan sains.

Islamic Golden Age sendiri berhasil menjadi salah satu peradaban maju lebih karena Abbasid Caliphate beserta pimpinannya yang mendukung rasionalitas dan ilmu pengetahuan. Mungkin peran Islam sendiri hanyalah sebagai ideologi pemersatu yang menjadikan Kekhalifahan bisa terjadi. Tanpa Islam, kekhalifahan Islam mungkin tidak akan ada dan Islamic Golden Age pun tidak akan ada.

Apakah dunia modern sekarang harus berterima-kasih pada Islam? Menurut saya kita bisa berterima kasih kepada Medieval Islam, khususnya kepada Abbasid Caliphate yang memang turut berjasa dalam memajukan perkembangan ilmu pengetahuan. Sama seperti kita juga bisa berterima kasih pada peradaban Yunani, Romawi, Mesir Kuno, Persia, India dan peradaban-peradaban lainnya yang turut berkontribusi dalam memajukan peradaban modern yang kita tau sekarang ini. Lagipula pertukaran pengetahuan dan teknologi antar peradaban memang bukanlah hal yang aneh dan sering terjadi.

Peradaban manusia bisa semaju sekarang ini juga bukanlah berkat satu peradaban saja, melainkan berkat akumulasi pengetahuan dari berbagai peradaban yang ada. Kebudayaan dan peradaban kuno yang maju itu banyak, bukan hanya Medieval Islam saja. Untuk apa membanding-bandingkan peradaban satu dengan yang lainnya? Masing-masing peradaban memiliki kontribusinya dan tanpa salah satu dari peradaban mereka, yang jelas dunia yang kita tinggali sekarang mungkin akan berbeda. Karena itu kita perlu berterima kasih pada setiap peradaban yang telah memberikan kontribusinya tanpa perlu pilih kasih. Enggak perlu lah kita terlalu mengagung-agungkan satu peradaban, apalagi sampai mengaku-ngaku segala sesuatu karena agamanya.
FH @ Perspektif

Advertisements

One thought on “Islamic Golden Age

  1. Boleh minta sumber2 lainnya min yg credibel ttg biografi mereka (knp mereka statusnya ilmuwan “islam” tp skeptik dan tdk diakui sekuwahnya sndri)
    Dan sumber2 adakah ilmuwan muslim tsb jg mengembangkan sains bersama ilmuwan non muslim lainnya?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s