On Virginity

Virgin atau perawan adalah perempuan yang belum mengalami hubungan intim. Tanda hilangnya keperawanan selama ini diukur dari robeknya selaput dara (selanjutnya saya sebut hymen), sebuah sekat rongga yang terletak di sekitar vagina.

Normalnya, setiap perempuan memiliki hymen tipis dengan satu lubang utama di tengah. Namun karena setiap manusia berbeda dan unik, tidak semua perempuan lahir dengan hymen, atau pun memiliki ciri-ciri hymen yang sama. Mengatakan sebuah hymen berbentuk normal hanyalah sebuah indikasi bahwa bentuk tersebut adalah bentuk yang paling umum ditemukan, tanpa berusaha mendiskreditkan maupun mengingkari bentuk-bentuk lainnya.

Sayangnya, miskonsepsi mengenai keperawanan masih terus diajarkan tanpa diperbaiki di sekolah-sekolah (tidak hanya di Indonesia), sehingga banyak sekali orang masih percaya bahwa perempuan yang perawan, pasti:
1. Memiliki hymen berbentuk normal.
2. Berdarah saat hubungan intim yang pertama.

Apabila perempuan yang dinikahi terbukti tidak memiliki hymen ataupun berdarah, perempuan tersebut langsung dicap tidak terhormat, tidak murni dan tidak suci lagi. Di Arab, beberapa perempuan bahkan rela menghabiskan uang 2000 Euro demi memastikan malam pertamanya berdarah. Mereka pergi pada seorang dokter di Paris yang akan mengoperasi bentuk hymennya menjadi ‘sempurna’.

Di Indonesia, operasi hymenoplasty mungkin masih terdengar asing, namun perlakuan masyarakat terhadap kehormatan perempuan masih sama. Pada tahap terekstrem, perempuan yang dianggap tidak perawan dilarang bergabung dalam angkatan militer dan kepolisian Indonesia. Para pembuat peraturan ini beralasan, “Bagaimana kamu menjaga kehormatan bangsamu apabila kamu sendiri tidak bisa menjaga kehormatanmu?”

Padahal, kehormatan pribadi dan kehormatan bangsa tidak ada hubungannya, dan kehormatan pribadi perempuan tidak dapat diukur hanya dari robekan hymen pada tubuhnya. Mengatakan bahwa perempuan tidak lagi terhormat hanyak karena bentuk hymen yang tidak normal sama saja dengan mendegradasi nilai kemanusiaan pada dirinya.

Sebenarnya pengecekan hymen pada perempuan juga tidak sepantasnya dilakukan dan tidak dapat dijadikan sumber akurat untuk menentukan keperawanannya. Mengapa?

1. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bentuk hymen setiap perempuan unik. Untuk mengetahui apakah ia baru saja mendapatkan sexual abuse atau tidak, pengecek harus tahu terlebih dahulu bentuk awal hymen perempuan tersebut. (Siapa tahu dari awal memang sudah begitu bentuknya.)

2. Meminta perempuan membuka celana dalamnya hanya untuk dicek hymen robek atau tidak adalah sebuah tindakan yang tidak etis, membuat malu, dan bahkan dapat berakibat trauma pada pasien. (Kasihan juga sama pengeceknya dapet kerjaan nggak penting, baca: ngecekin pantat.)

3. Hymen bersifat seperti karet gelang. Ia elastis dan bentuknya dapat kembali ke semula seiring waktu berjalan (meski tidak seelastis karet gelang!). Tingkat keelastisan hymen setiap wanita berbeda. Ada yang sangat elastis sehingga ia tidak akan berdarah di hubungan intim pertama, ada pula yang terlalu kencang sehingga vaginanya berdarah. Karena hymen bersifat mirip seperti karet, apabila ia terus-menerus diregangkan dan ditarik, maka tingkat keelastisannya juga dapat berkurang. Terutama ketika tarikannya begitu dahsyat seperti saat melahirkan bayi. Namun, seiring waktu berjalan, hymen memiliki kemungkinan untuk kembali mengecil, dan kemungkinan lagi tidak, karena semuanya lagi-lagi tergantung pada individu tersebut.

4. Tes keperawanan ini sangat sexist karena hanya perempuan yang dicek, sementara pria dengan enaknya boleh ‘tusuk’ ke mana saja tanpa dianggap kehilangan kehormatannya.

Berdasarkan keempat alasan di atas, saya berharap Perspekter lebih terbuka lagi dalam menilai kehormatan perempuan. (Khususnya para pria) coba Anda bayangkan, mana yang lebih baik, memiliki istri yang hymennya robek tapi kepribadiannya mandiri dan dapat diandalkan; atau memiliki istri yang hymennya sempurna tapi tidak bisa diandalkan dan hanya bisa mempercantik penampilan? Well, jawabannya memang menjadi hak Anda, tapi perempuan pun memiliki hak untuk dihormati dan dinilai lebih dari sekadar robekan selaput daranya!

 

👉 READING GUIDE

Anonim. 2014. Types of Hymens. Sumber: http://youngwomenshealth.org/2013/07/10/hymens/ (diakses 19 Desember 2015).
Guharaj, P.V. dan M.R. Chandran. 2003. Forensic Medicine 2nd Edition. India: Orient Longman.
Kwok, Yenni. 19 Mei 2015. Indonesia’s ‘Virginity Tests’ Obsession Highlights Its Truly Rotten Armed Forces. Sumber: http://time.com/3883558/indonesia-virginity-tests/ (diakses 19 Desember 2015).
Mehri, Najlaa Abou dan Linda Sills. 24 April 2010. The Virginity Industry. Sumber: http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/8641099.stm (diakses 19 Desember 2015).
Nagoski, Emily, Ph.D. 2015. Come As You Are: The Surprising New Science That Will Transform Your Sex Life. New York: Simon & Schuster Paperbacks.

Desember 2015
Cae

Advertisements

One thought on “On Virginity

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s