Agama dan Komoditas

Agama bisa menjadi dorongan nafsu seksual yang mendapatkan saluran, dia tidak hanya berbuat dan bereaksi tetapi menanggapi perbuatan dan karenanya agama diperuntukkan untuk manusia, dengan muslihat ini manusia memikirkan alam semesta. Agama disini memberikan proyeksi atas penyelasaian yang diberikan atas wahyu dan perintah – perintah yang diberikan, yang dimana agama akhirnya menjadi sebuah unsur kebudayaan yang memuncak pada manusia dan dengan sarana itu manusia mampu menyesuaikan diri dengan pengalamannya termasuk dirinya sendiri dan lingkungan lain yang dia rasakan sebagai suatu yang transendental. Keberadaan agama seperti menjadi alat refleksi manusia ketika dalam situasi apapun, kehadiran tuhan me-inklusifkan sosok supersensual dan sosok jiwa yang solutif.

Depedensi masyarakat kepada agama menemui bermacam – macam paradoks, karena masyarakat yang agamis bisa ditelaah menurut keberadaan secara materialistis, dan letak geografis. Masyarakat yang terbelakang dengan golongan kelas rendah dan berada di pedesaan memiliki kesamaan minat pada satu agama dan memiliki keterikatan satu dengan yang lainnya karena sistem afiliasi nya dari mulut ke mulut. Sedangkan masyarakat yang berada di daerah pra-industrial tetapi memasuki kaum proletar, atau kaum kelas menengah yang dimana agama disini memiliki arti ikatan kepada sistem nilai dalam tipe masyarakat ini, masyarakat berkembang akan saling memakai agama yang cocok untuknya dan mempercayai dogma yang diberikan kepada orang lain, akan tetapi agama disini tidak bisa memberikan dukungan penuh dan sempurna seperti masyarakat yang berada di desa.

Masyarakat industri sekuler ini memiliki ketimpangan dalam melihat agama, karena ditelaah bahwa keberadaan modernisasi dan kepemilikan modal dengan melihat sekulerisasi ini mempersempit ruang gerak dan kepercayaan pada aspek keagamaan, realitas yang ada menjadi realitas modal. Lantaran perbedaan sosial telah maju dalam kondisi ekonomi dan status kemuliaan tidak hanya dianugerahi oleh kekayaan dan para kaum borjuis berpikir untuk mendapat citra baik dalam lingkungan akhirnya melakukan praktek sedekah, yang dimana sedekah ini diperuntukkan kepada kaum kelas proletar dan kaum menengah, ketika hal itu berlanjut secara kontinu maka terjadi segregasi yang dimana kaum proletar dan kaum kelas menengah sadar betul, bahwa agama yang dianut oleh pemberi sedekah ini cukup baik.

Akhirnya kepelakan ini dipakai kapitalis untuk mengembangkan antek – antek nya dalam meraup keuntungan, permasalahan masyarakat dalam menuju delusi kepada tuhan mengundang aposematik yang dimana masyarakat sangat depeden dengan agama dengan “kontrol sosial” akhirnya dalih yang diambil oleh kapitalis dengan mempergunakan simbol keagamaan yang mengundang unsur religusitas dan sakral. Kepetahan ini dieksploitasi habis – habisan oleh kapitalis dalam termasyhur nya simbol ustad/zah atau pendakwah, konstruksi media dalam menampilkan sesosok mahluk yang menciptakan pamor sebagai seorang yang solutif dan suci. Dalam cara penyampaianya pun sesosok ini dikonstelasikan sebagai seorang penyayang dan sosok baik, retorika yang muncul menuju pada tendensi bahwa “wah ini dia” ini menjadi jawaban bagi masyarakat mayoritas yang termakan hyperrealitas media dalam konstruksi secara kontinuitas penggambaran ustad/zah.

Keberadaan ini menjadi signifikan terhadap hipokrit kapitalis dengan dalih agama, penguatan simbol yang menjadi polemik dan juga eksploitasi ini dipakai dalam kemunculan label halal, karena kemunculan sertifikasi halal kepada mayoritas masyarakat agama islam, akan mengundang euforia bahwasannya makanan ini mengundang unsur ke”surgaan” dan menjauhi unsur “dosa” yang bilamana media memperlihatkan tayangan iklan produk makanan ataupun minuman dengan menampilkan keberadaan label halal tersebut, yang kemudian eskalasi dalam jumlah produksi meningkat dikala masyarakat menaruh kepercayaan bahwa barang ini tidak memiliki unsur haram atau “dosa”. Dinamika ini menjadi privelese bagi kapitalis dalam mencium aroma simbol keagamaan masyarakat agamis. Apakah mungkin keberadaan agama hanya melanggengkan status quo kapitalistik ataukah kita harus menjadi masyarakat yang apostasi?


By Aria Mahatamtama – Mahasiswa biasa saja

All rights belong to the respective owner and author of the article. While perspektif! consider the article to be worth sharing, we have no liability whatsoever for the content of the article.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s