SEBATAS HAPAL RUMUS DAN MINIMNYA PEMAHAMAN KONSEP – INDIKASI KEPUTUSASAAN PENDIDIKAN SAINS DI INDONESIA?

Insight must precede application

Suatu hari, saya pernah mengajar anak-anak SMA dan lulusan SMA yang sedang berjuang untukmenghadapi ujian masuk perguruan tinggi. Ketika saya sedang menjelaskan hubungan antara usaha dan energi pada kasus rangkaian listrik, saya menanyakan kepada mereka,

Saya: “Bagaimana menentukan energi yang dilakukan oleh listrik?”

Murid: “Ha? Apa kak?”

Saya: “Kalau ada rangkaian listrik seperti ini, bagaimana cara mencari energinya?”

Murid: “Oh iya kak, V dikali I dikali t”

Saya: “Apa itu V, apa itu I, apa itu t?”

Mereka diam. Sejenak, saya ikut diam. Saya sadar bahwa ada yang salah dengan pendidikan kita.

Sejak dulu, saya memang merasa hal ini adalah masalah. Oke, tidak masalah apabila mereka adalah orang-orang yang katanya korban sistem pendidikan – mereka yang tidak mempelajari apa yang mereka butuhkan/yang mereka mau. Tapi, dengan berencana untuk mengambil program saintek di ujian masuk perguruan tinggi, artinya mau tidak mau mereka harus paham dengan apa yang mereka pelajari. Namun apa kenyataannya? Mereka tidak paham. Ya, mereka hapal rumus. Mereka tahu.

Tapi tidak tahu apa yang diceritakan oleh huruf-huruf yang berderet tersebut.

SALAH SISTEM?

Mungkin, demikian. Guru-guru mereka di sekolah tidak cukup baik mengajarkan konsep-konsep mendasar dalam sains. Tapi, sudahkah murid-muridnya cukup mencari informasi yang mereka butuhkan dalam belajar? Kalau mereka memang benar-benar ingin melanjutkan hingga jenjang yang lebih tinggi daripada sekedar tamatan SMA, mereka mau tidak mau harus sadar bahwa pengetahuan, atau insight, adalah hal yang krusial dalam pencarian ilmu.

Ketika hendak masuk perguruan tinggi, terutama dalam program sains dan teknologi, bagaimanapun pengetahuan dasar akan konsep ini adalah hal yang akan dinilai kemampuannya dari siswa. Dari puluhan ribu peminat yang mendambakan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, tidakkah sistem tes yang menguji pemahaman konseptual calon mahasiswa adalah sebuah indikator yang baik untuk menentukan apakah individu tersebut laik untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

Namun, apa yang terjadi? Ya, siswa lebih banyak dihadapkan pada ‘hapalan’ rumus yang isinya hanya huruf-huruf yang simbolnya aneh sampai huruf-huruf Yunani yang sulit dibaca, tanpa mendalami apa sih maksud huruf-huruf tersebut dan bagaimana implikasinya di dunia nyata.

Terlebih lagi, guru-guru tidak menjelaskan materi secara komprehensif. Lantas, siswa-siswa tersebut tidak ada niatan sama sekali untuk memperdalam kemampuan mereka akan ilmu-ilmu tersebut dan terus menerus menyalahkan sistem. Ketika tes usai kemarin, bahkan beberapa siswa merasa mereka diberikan cobaan yang sulit. Betulkah? Atau hanya mereka yang kurang banyak belajar? Entahlah.

EFEK JANGKA PANJANG

Mungkin, ketika kita awal-awal baru lulus SMA dan akan kuliah, kita menganggap tak ada gunanya mempelajari konsep dasar. Yang penting, rumus dulu hapal. Tapi hal ini dapat bersifat detrimental pada pola pikir kita, yang sama bahayanya dengan percaya ramalan zodiak dan golongan darah (ups). Bahayanya adalah, akan semakin berkurangnya keinginan untuk mencari tahu dan berpikir kritis yang berakibat pada semakin kurangnya minat pembelajar terhadap sains, dan hal ini sudah dapat terlihat dari kurangnya publikasi universitas di Indonesia di mata internasional.

“Tapi kak, kita kan nggak ada teknologi untuk riset?”

Yakin? Kita nggak punya, atau nggak ada niatan untuk kesana? Pemerintah udah mulai mengucurkan dana untuk periset Indonesia lho, mau sampai kapan kita akan begini terus? Terlebih lagi, apabila kita ingin menelurkan orang-orang yang hendak belajar sains di masa depan, pola pikir diri kita sendirilah yang mencegah orang-orang berkembang. Ketika ada yang hendak menjadi guru sains, lagi-lagi mereka menekankan hapalan karena mereka menganggap bahwa pemahaman konsep tidaklah penting.

Selain itu, kekurangan pemahaman akan sains inilah yang membuat kebanyakan orang-orang Indonesia, walaupun sudah pernah belajar IPA di SMA, mudah terjebak oleh isu-isu hoax seperti “seafood dan vitamin C dapat menyebabkan kematian”, “kita dibodohi oleh air mineral”, “gas helium dapat meledak”, dan sebagainya. Ya, saya sangat yakin ketidakpahaman akan sains berandil besar dalam mudahnya orang-orang dibohongi oleh berita sensasional yang tidak ada juntrungannya, dan pada akhirnya menyebabkan ketakutan massal pada konsep-konsep tidak jelas.

Sekarang, saya kembalikan kepada pembaca, sebegitu tidak pentingkah pemahaman konsep yang mendasar?


By Agastya Wiraputra
Alumni Fisika, Institut Teknologi Bandung

All rights belong to the respective owner and author of the article. While perspektif! consider the article to be worth sharing, we have no liability whatsoever for the content of the article.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s