Why we grow old and die?

Halo Perspekter! Pernah gak kalian mempertanyakan kenapa seh kita lahir, tumbuh besar, jadi tua, keriput, lemah, dan pada akhirnya meninggal? Kenapa kita mengalami proses penuaan?

Mungkin kita berpikir menjadi tua adalah hukum alam yang universal. Tapi tahukah kalian kalo sebenernya terdapat beberapa binatang yang setelah mencapai umur tertentu, mereka tidak menjadi tua? Dalam hal ini binatang yang tidak bisa menjadi tua ini memiliki kemampuan yang disebut sebagai biological immortality. Ibaratnya kalau manusia bisa biologically immortal, udah seperti di film-film vampir dimana mereka berusia 400 tahun tapi masih seperti berumur 21 tahun.

Binatang apa aja seh yang punya kemampuan “hidup abadi”? Beberapa diantaranya adalah naked mole rat, rockfish, beberapa jenis lobster, jellyfish, planarian flatworm, hydra, jellyfish, hingga beberapa tipe bakteri.

Jadi sekarang, apa seh yang sebenarnya membuat kita tua? Apa yang membuat beberapa spesies bisa “forever young” sedangkan beberapa lainnya tidak?

Rahasia anti-ageing ini berhubungan dengan kemampuan sel-sel untuk terus bereplikasi. Sel-sel pada tubuh kita setiap saat akan selalu mereplikasi dirinya. Dalam satu menit, sekitar 300 juta sel dalam tubuh kita meninggal dan digantikan oleh sel-sel baru.

Di ujung setiap kromosom dalam sel kita, terdapat bagian yang disebut sebagai telomere. Telomere ini berfungsi sebagai ujung yang melindungi kromosom. Tetapi sayangnya setiap kali sel kita bereplikasi, ujung-ujung kromosom yang kita sebut sebagai telomore ini akan memendek. Dan setelah berkali-kali replikasi, telomere ini menjadi terlalu pendek dan pada akhirnya tidak bisa memendek lagi. Ini mengakibatkan sel tubuh kita mulai berhenti bereplikasi dan menyebabkan kita menjadi tua.

Dengan mengukur panjangnya telomere, scientist bisa memperkirakan berapa kali sel dapat bereplikasi yang disebut sebagai hayflick limit. Dari Hayflick limit ini kita bisa memperkirakan harapan hidup spesies tersebut.

Sedangkan pada kasus bintang yang “forever young” seperti naked mole rat, mereka memiliki kemampuan untuk memperbaiki telomere ini setiap kali sel mereka bereplikasi yang membuat sel-sel mereka secara teknis tidak memiliki hayflick limit dan bisa terus bereplikasi. Hal ini membuat umur mereka sangat puaanjaaang, bisa hidup dengan sangat-sangat lama dalam usia yang tetap produktif hingga mereka mengalami kecelakaan, penyakit, atau mati oleh predator.

Saat ini peneliti telah berhasil menemukan gen pada cacing C. Elegans yang bertanggung jawab pada masalah penuaan ini. Dengan memanipulasi gen tersebut, peneliti berhasil menjaga cacing itu tetap muda dan berumur 2 kali lebih panjang dari umur rata-rata. Hal ini lalu diuji coba pada tikus dan berhasil memperpanjang harapan hidup tikus hingga 33%.

Apakah kedepannya jika kita memanipulasi gen tersebut, kita bisa mencegah telomere memendek dan menghambat proses penuaan manusia? Secara teori, ya. Tetapi hal ini akan menimbulkan masalah baru yaitu kanker. Lha kok kanker?

Ya, kanker adalah penyakit yang terjadi karena mutasi dan kerusakan DNA pada manusia. Ketika sel manusia bereplikasi, mereka akan melakukan proses pengkopian DNA untuk sel baru. Setiap proses pengkopian DNA ini, akan selalu terjadi yang namanya error dalam proses penulisan kembali kode genetik. Untungnya sel kita memiliki berbagai macam cara dan proses untuk melakukan proof-reading dan memperbaiki kesalahan dalam penulisan. Sayangnya proses ini tidak sempurna dan saat-saat tertentu akan ada beberapa kesalahan yang lolos dalam proses ini.

Semakin sering sel kita mereplikasi, maka semakin rentan sel kita untuk mengalami mutasi yang merugikan akibat dari akumulasi-akumulasi kesalahan kecil setiap replikasi tersebut. Kesalahan inilah yang pada akhirnya menyebabkan berbagai jenis kanker dimana pertumbuhan sel menjadi tidak terkendali atau tidak teratur.

Jadi memang tidak mengherankan kalau jaman sekarang lebih banyak manusia terkena penyakit kanker karena jaman sekarang ini angka harapan hidup manusia jauh lebih baik dari jaman dulu, sehingga banyak manusia yang panjang umur. Semakin panjang umur, semakin besar total replikasi sel yang sudah terjadi, maka semakin besar resiko kesalahan pengkopian yang bisa menimbulkan kanker.

Ajaibnya binatang-binatang yang memiliki kemampuan memperbaiki telomere mereka ini, ternyata kebal terhadap kanker. Sampai saat ini scientist masih belum mengetahui apa yang menyebabkan mereka imun terhadap kanker.

Jika kita berhasil menanggulangi masalah kanker dan mencegah telomere memendek, maka secara teori kita bisa hidup muda selamanya dan mungkin hidup lebih panjang. Tapi bagaimanapun juga, tidak mengalami penuaan bukan berarti kita benar-benar immortal. Semakin lama kita hidup semakin besar kemungkinan kita meninggal karena kecelakaan, kelaparan, pembunuhan, dan penyakit. Itulah kenapa binatang yang disebut-sebut “biologically immortal” seperti naked mole rat pun memiliki angka harapan hidup sekitar 30 tahun. Bukan karena faktor penuaan, tetapi karena faktor eksternal lainnya seperti predator, kecelakaan dan penyakit.

Jadi ya, pada akhirnya manusia pun akan meninggal, setidaknya untuk saat ini. Kecuali di kemudian hari kita menciptakan teknologi yang bisa mentransfer otak manusia ke dalam komputer. Tapi yang namanya elektronik pun bisa mengalami kerusakan bukan?

Kematian memang sudah menjadi takdir setiap manusia semenjak kita dilahirkan. Tapi daripada menganggap kematian sesuatu yang perlu ditakuti, mungkin kita bisa melihat kematian dari sudut pandang lain.

Terdapat beberapa jenis sel yang bermutasi dan memiliki kemampuan untuk tetap hidup,. Mereka “menolak” untuk mati. Dan pada akhirnya sel ini terus bereplikasi tanpa generasi tua mengalami kematian sehingga pertumbuhannya tidak terkontrol. Sel ini kita sebut sebagai sel kanker. Ya, salah satu jenis kanker diakibatkan oleh sel yang menolak untuk mati. Dan dari cerita ini, sepertinya kematian memang diperlukan. Kematian sel ini, serve a bigger purpose untuk menjaga kita tetap hidup.

Tiga orang scientists dari Harvard membuat sebuah model dikomputer yang mensimulasikan kehidupan antara yang immortal (tidak mengalami proses kematian) dan yang mortal (yang mengalami proses kematian). Dalam model ini, terdapat indikasi bahwa kematian memang diperlukan. Kita secara evolusi memang sudah diprogram untuk mati.

Menurut mereka, keematian kita akan memberi kesempatan dan ruang bagi generasi muda untuk bertumbuh dan berkembang. Dengan sumber daya yang terbatas, kematian dan regenerasi memberikan benefit untuk perkembangan dan kehidupan generasi selanjutnya.

Menurut saya pribadi, generasi muda memang biasanya generasi yang akan meneruskan dan memajukan peradaban bukan? Obsesi dan  semangat generasi muda selalu lebih besar daripada generasi tua. Kita memerlukan semangat dan visi generasi muda agar kemanusiaan dan peradaban tetap berkembang.

Dengan meninggalnya kita, kita memberikan sumber daya yang ada pada anak cucu untuk berkembang. Sama seperti halnya kematian sel yang memiliki tujuan mulia mencegah kemunculan kanker, kematian kita juga untuk melayani tujuan yang lebih besar. Untuk mencegah kita menjadi “kanker” bagi kehidupan lain dan generasi muda di bumi ini.

Ya, itu manfaat secara keseluruhan. Bagaimana manfaatnya bagi diri kita sendiri? Menurut saya, dengan menyadari bahwa kita akan mati justru membuat kita jadi lebih menghargai kehidupan. Dengan menyadari bahwa waktu kita terbatas akan memberikan kita sense of urgency dalam hidup. Membuat kita menjadi lebih berani menjalani hidup dan make the most of it.

Coba bayangkan jika kalian tau kalian akan mati dalam seminggu misalnya, apa yang akan kalian lakukan? Kalian akan lebih menghargai waktu-waktu kalian bersama dengan keluarga dan orang yang dicintai. Hal-hal dan keinginan yang ingin kalian lakukan, akan kalian lakukan.

Sekarang bayangkan jika kita tidak akan pernah mati. Apa yang akan kalian lakukan? Anggapan akan adanya hari esok, membuat kita malas. Kita menjadi lebih takut dalam bertindak dan mengambil resiko. Mau berkenalan dengan cewek cakep? Ah, masih ada hari esok. Mau daftar kuliah? Ah masi ada tahun depan. Toh saya akan hidup selamanya. Mau berbisnis, takut gagal. Nanti saja lah.

Terdapat sebuah riset oleh Ronnie-Janoff Bulman of The University of Massachusetts mengenai “post-traumatic growth”. Ronnie mengamati kehidupan-kehidupan para korban yang selamat dari penyakit mematikan. Pasien yang selamat dari kematian ini mayoritas mengalami perubahan persepsi akan kehidupan yang sangat mendalam. Mereka menjadi lebih jarang stress, lebih menghargai kehidupannya, lebih sering menghabiskan waktunya melakukan hal-hal yang berarti bagi mereka, cenderung melihat sisi positif dalam kehidupan, dan secara umum lebih bahagia.

Riset lainnya oleh Laura Carstensen dari Stanford University, ketika para subjek penelitian diingatkan akan kematian, para subjek tersebut menjadi lebih fokus akan hal-hal positif dari hal negatif. Mereka juga jadi lebih berani dalam mengambil resiko dalam hidup.

Jadi, apa hikmah yang bisa kita ambil dari kematian? Kesadaran akan kematian membuat kita lebih menghargai hidup dan lebih berani menjalaninya. Dan ini memang trik yang sering saya pakai ketika saya menghadapi masalah dan rasa takut akan hal-hal tertentu. Ketika saya takut melangkah dalam hidup, saya selalu mengingatkan diri saya akan kematian.

Mengetahui bahwa saya akan meninggal membuat semua perasaan takut, kegagalan, pengalaman buruk dan hal buruk lainnya dalam hidup saya menjadi tidak berarti. Hanya satu hal yang berarti, yaitu perasaan bangga dan puas akan hidup ketika saya melihat kebelakang dan merefleksikan kembali hidup saya sesaat sebelum saya meninggal. Menghembuskan nafas terakhir dengan senyum lebar, tanpa meninggalkan penyesalan dalam hidup 🙂

FH @ Perspektif

PS: Penasaran apa yang terjadi secara psikologis terhadap diri kita ketika kita bertumbuh dewasa dan menjadi tua? Admin Jester kita tercinta akan menjelaskannya sebagai lanjutan dari seri “Why we grow old and die”. Stay tuned with us 😉


Further reading & information:

http://www.livescience.com/32477-why-do-we-die.html

http://www.bustle.com/articles/90301-why-do-we-die-the-answer-is-more-complex-than-you-think

http://journals.aps.org/prl/abstract/10.1103/PhysRevLett.114.238103

https://www.psychologytoday.com/blog/the-big-questions/201309/the-psychology-yolo

https://www.youtube.com/watch?v=jqCo-McgHLw

https://en.wikipedia.org/wiki/Biological_immortality

https://en.wikipedia.org/wiki/Naked_mole-rat

Bicara mengenai kematian, apakah perspekter penasaran apa yang akan terjadi ketika kita mati? Kunjungi The Dying Process, Near Death Experience & Life After Death

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s