From Physics and Beyond (Part 1 of 3)

It’s all bound to end in tears.

— Wolfgang Pauli

Werner Heisenberg (1901-1976) lahir di Würzberg, Jerman  dan menerima gelar doktor dalam fisika teori dari University of Munich. Heisenberg menjadi terkenal karena terobosannya, yakni prinsip ketidakpastian. Beliau juga menerima Penghargaan Nobel Fisika pada tahun 1932. Setelah Perang Dunia II, beliau diangkat sebagai direktur Max Planck Institute untuk fisika dan astrofisika.

Tulisan berikut adalah terjemahan dari Science and Religion yang ditulis oleh Werner Heisenberg dalam buku Physics and Beyond: Encounters and Conversations. Narasi berikut ditulis dari sudut pandang Heisenberg sebagai orang pertama.


SAINS DAN AGAMA

Suatu malam pada masa Konferensi Solvay, beberapa anggota muda tetap tinggal di kamar hotel. Yang termasuk dalam kelompok tersebut adalah Wolfgang Pauli dan saya sendiri, dan tak lama kemudian bergabunglah Paul Dirac. Salah satu dari kami berkata: “Einstein terus berbicara tentang Tuhan: apa yang bisa kita perbuat dengan hal itu? Sangat sulit untuk membayangkan bahwa seorang ilmuwan seperti Einstein harus memiliki ikatan yang kuat dengan tradisi keagamaan.”

“Einstein tidak seburuk Max Planck,” seseorang berkeberatan. “Dari beberapa ucapan Planck terlihat bahwa ia tidak melihat adanya kontradiksi antara agama dan sains, bahwa ia memang percaya keduanya benar-benar cocok.”

Saya ditanyakan tentang apa yang saya tahu mengenai pandangan Planck atas subjek tersebut, dan pikirkan saya sendiri tentangnya. Saya baru berbicara kepada Planck hanya dalam beberapa kesempatan, kebanyakan tentang fisika dan bukan tentang pertanyaan umum, tetapi saya berkenalan dengan beberapa teman dekat Planck, yang menceritakan banyak hal kepada saya mengenai sikapnya.

“Saya pikir,” jawab saya, “Planck menganggap agama dan sains cocok karena, menurut pandangan dia, keduanya mengacu pada aspek yang sangat berbeda mengenai kenyataan. Sains mengurusi dunia yang bersifat material dan objektif. Sains mengajak kita untuk membuat pernyataan yang tepat mengenai kenyataan objektif dan memahami hubungan-hubungan di dalamnya. Agama, di sisi lain, berkaitan dengan dunia nilai. Agama mempertimbangkan bagaimana sesuatu seharusnya atau apa yang seharusnya kita lakukan, bukan mengenai apakah sesuatu itu. Dalam sains kita ingin mengetahui apa yang benar atau salah; dalam agama mengenai apa yang baik atau jahat, mulia atau hina. Sains adalah dasar teknologi, sementara agama adalah dasar etika. Singkatnya, konflik antara keduanya, yang telah berkecamuk sejak abad ke-18, tampaknya didirikan atas dasar kesalahpahaman, atau lebih tepatnya atas kekeliruan dalam mengenali gambaran dan perumpamaan dalam agama dengan pernyataan ilmiah. Tentu saja, hasilnya sama sekali tidak masuk akal. Pandangan ini, yang saya kenal dengan baik dari orang tua saya, mengasosiasikan kedua bidang tersebut masing-masing dengan aspek objektif dan subjektif dunia ini. Sains, bisa dikatakan, adalah sikap bagaimana kita menghadapi sisi objektif kenyataan. Sebaliknya, kepercayaan agama adalah ekspresi keputusan subjektif yang membantu kita memilih acuan bagaimana kita hidup dan bertindak. Memang, kita umumnya membuat keputusan sesuai dengan sikap kelompok kita, baik itu keluarga, bangsa, atau budaya. Keputusan kita dipengaruhi dengan kuat oleh faktor pendidikan dan lingkungan, tetapi pada akhirnya keputusan itu bersifat subjektif dan karenanya tidak diatur oleh kriteria ‘benar atau salah’. Max Planck, bila saya memahami dia dengan benar, telah menggunakan kebebasan ini dan hadir tepat di sisi tradisi Kristen. Pikiran dan tindakan dia, terutama yang memengaruhi hubungan pribadinya, benar-benar sesuai dengan kerangka tradisi tersebut, dan tak seorang pun akan menghormatinya kurang daripada itu. Sejauh yang dia pikirkan, kedua alam tersebut—segi objektif dan subjektif dunia—sangat terpisah, tetapi saya harus mengakui bahwa saya sendiri tidak merasa sama sekali senang dengan pemisahan ini. Saya ragu apakah masyarakat manusia dapat hidup dengan perbedaan yang begitu tajam antara pengetahuan dan iman.”

Wolfgang sepemikiran dengan saya. “Semua ini pasti berakhir dengan air mata,” katanya. “Pada masa awal agama, semua pengetahuan yang dimiliki komunitas tertentu disesuaikan dengan kerangka spiritual, yang didasarkan sebagian besar pada nilai dan gagasan keagamaan. Kerangka spiritual itu sendiri harus dapat dipahami oleh anggota masyarakat yang paling lugu, meskipun aneka perumpamaan dan gambaran yang disampaikan tidak lebih dari tanda-tanda samar mengenai nilai dan gagasan yang mendasarinya. Tetapi jika seseorang ingin hidup dengan nilai-nilai tersebut, ia harus diyakinkan bahwa kerangka spiritual tersebut telah mencakup seluruh pengetahuan yang dimiliki masyarakatnya. Baginya, ‘mempercayai’ tidaklah berarti ‘menerima begitu saja’, melainkan ‘meyakini petunjuk’ dari nilai-nilai yang telah diterima oleh masyarakat. Itulah sebabnya masyarakat berada dalam bahaya setiap kali pengetahuan baru mengancam wujud-wujud spiritual yang lama. Pemisahan sepenuhnya antara pengetahuan dan iman bisa menjadi langkah darurat yang memberikan kelegaan sementara. Dalam budaya Barat, misalnya, kita mungkin akan mencapai titik dalam waktu dekat di mana perumpamaan dan gambaran dari agama-agama kuno akan kehilangan kekuatan persuasifnya bahkan untuk orang awam sekalipun; ketika hal itu terjadi, saya khawatir bahwa semua etika kuno akan runtuh seperti rumah kartu dan bahwa kengerian yang tak terbayangkan akan terjadi. Pendek kata, saya tidak bisa benar-benar setuju dengan filosofi Planck, walaupun hal itu logis dan meskipun saya menghormati sikap manusia yang melahirkannya.

“Saya lebih sepakat dengan konsep Einstein. Tuhan dia, bagaimanapun caranya, terlibat dalam hukum alam yang kekal. Einstein mempercayai adanya pusat tatanan akan segala hal. Ia dapat merasakan hal tersebut dalam kesederhanaan hukum alam. Kita mungkin bisa memandang bahwa ia merasakan kesederhanaan tersebut dengan sangat kuat dan secara langsung pada masa penemuan teori relativitas. Tidak dapat dipungkiri, hal ini sangat berbeda jauh dengan isi ajaran agama. Saya tidak percaya Einstein terikat dengan tradisi keagamaan apa pun, dan saya pikir gagasan tentang Tuhan yang bersifat pribadi sepenuhnya asing bagi dia. Tetapi, menurut Einstein tidak ada perpecahan antara sains dan agama: pusat tatanan merupakan bagian dari ranah subjektif serta objektif, dan menurut saya hal ini merupakan titik awal yang jauh lebih baik.”

“Titik awal untuk apa?” tanyaku. “Jika Anda menganggap sikap manusia terhadap tatanan pusat semata-mata urusan pribadi, maka Anda boleh setuju dengan pandangan Einstein, tetapi kemudian Anda juga harus mengakui bahwa sama sekali tidak ada apa pun yang terjadi setelahnya menurut pandangan tersebut.”

“Mungkin saja ada,” jawab Wolfgang. “Perkembangan ilmu pengetahuan selama dua abad terakhir pastinya telah mengubah cara pikir manusia, termasuk di luar Kristen Barat. Oleh karena itu, apa yang para fisikawan pikirkan cukup berarti. Justru gagasan mengenai dunia objektif yang berjalan dalam waktu dan ruang sesuai dengan hukum sebab akibat yang ketatlah yang menyebabkan perselisihan tajam antara sains dengan perumusan spiritual berbagai agama. Jika sains melampaui pandangan ketat tersebut—dan memang telah terjadi dengan adanya teori relativitas dan mungkin akan jauh lagi dengan munculnya teori kuantum—maka hubungan antara sains dan isi yang ingin diekspresikan ajaran agama suatu waktu harus berubah lagi. Mungkin sains, dengan mengungkapkan keberadaan hubungan-hubungan baru selama 30 tahun terakhir, telah memperdalam pikiran kita. Konsep komplementaritas, misalnya, yang Niels Bohr anggap sangat penting dalam interpretasi teori kuantum, bukan berarti tidak diketahui para filsuf, walaupun mereka tidak mengungkapkannya secara ringkas. Namun, kemunculannya dalam ilmu pasti telah menciptakan perubahan: gagasan bahwa objek material sepenuhnya tidak bergantung pada cara kita mengamatinya terbukti tidak lebih dari ekstrapolasi abstrak, sesuatu yang tidak muncul di alam. Dalam filsafat Asia dan agama-agama Timur kita mendapatkan bahwa gagasan komplementaritas adalah subjek pengetahuan murni, yang tidak mengurusi objek apapun. Ide ini juga meupakan ekstrapolasi abstrak, yang tidak sesuai dengan kenyataan spiritual atau mental. Jika kita memikirkan konteks yang lebih luas, di masa depan mungkin kita akan terpaksa untuk berada di jalur tengah antara dua ekstrim tersebut, mungkin seperti yang dipetakan oleh konsep komplementaritas Bohr. Sains yang selalu menyesuaikan diri dengan bentuk pemikiran tersebut tidak hanya akan lebih toleran terhadap berbagai bentuk agama, namun, karena memiliki pandangan yang lebih luas secara keseluruhan, juga dapat berkontribusi terhadap dunia nilai.”


Nantikan bagian dua dari seri From Physics and Beyond minggu depan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s