Our Place in the Universe

Our posturings, our imagined self-importance, the delusion that we have some privileged position in the Universe, are challenged by this point of pale light. Our planet is a lonely speck in the great enveloping cosmic dark. In our obscurity, in all this vastness, there is no hint that help will come from elsewhere to save us from ourselves. 

— Carl Sagan in Pale Blue Dot: A Vision of the Human Future in Space

Sejauh yang kita ketahui, spesies kita adalah satu-satunya spesies yang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi. Di saat makhluk hidup lain hanya memedulikan keberlangsungan hidup dan reproduksinya, kita mempertanyakan berbagai hal mengenai eksistensi kita. Salah satunya adalah: “Di manakah tempat kita di alam semesta?”

Pada zaman dahulu, ketika pengetahuan manusia mengenai alam semesta masih minim, manusia menempatkan Bumi sebagai pusat jagat raya. Wajar saja, karena perspektif manusia pada masa itu masih terbatas pada planet rumah kita. Sekilas, memang tampaknya Bumi diam di tempat, sementara Matahari, Bulan, planet, dan bintang bergerak mengitari Bumi. Model yang demikian disebut model geosentris. Paradigma tersebut dipopulerkan oleh Claudius Ptolemaeus pada abad ke-2 Masehi dan dianut oleh hampir setiap orang selama lebih dari seribu tahun.

Namun, seiring berkembangnya teleskop serta sains dan matematika, model geosentris tampaknya memiliki masalah dalam menjelaskan berbagai pengamatan objek langit. Beberapa hasil observasi, seperti gerak retrograde dan adanya satelit yang mengitari planet selain Bumi, dapat dijelaskan secara lebih mudah dan sederhana apabila Bumi bergerak mengelilingi Matahari. Oleh karena itu, akhirnya model geosentris tergantikan oleh model heliosentris yang menyatakan bahwa Matahari adalah pusat tata surya, dengan planet-planet, termasuk Bumi, bergerak dalam orbitnya masing-masing, mengelilingi Matahari. Posisi Bumi mengalami penurunan dari pusat jagat raya menjadi hanya satu dari delapan planet dalam tata surya.

Lalu, apakah Matahari adalah pusat alam semesta? Apakah Tata Surya kita spesial?

Ternyata tidak. Dahulu, Matahari dianggap berbeda dengan bintang. Konsepsi seperti itu wajar saja muncul; Matahari tampak lebih besar dan memiliki pengaruh yang lebih signifikan terhadap kehidupan di Bumi dibandingkan bintang-bintang. Tetapi, sekarang kita tahu bahwa Matahari hanyalah satu dari 100—400 miliar bintang di galaksi kita, Bima Sakti (Milky Way). Bayangkan, Matahari yang kita anggap spesial hanyalah satu bintang biasa di antara ratusan miliar bintang di Bima Sakti! Terlebih lagi, Matahari beserta anggota tata surya lainnya juga bukanlah pusat galaksi kita. Tata surya yang ditinggali oleh manusia berada di sekitar tepi Bima Sakti, relatif jauh dari pusat galaksi tersebut (kurang lebih 25,000 tahun cahaya).

Sampai di sini, kita telah melihat bergesernya posisi Bumi dari pusat jagat raya menjadi sebuah planet yang mengitari satu bintang biasa di pinggiran galaksi Bima Sakti. Nah, ternyata Bima Sakti pun bukan satu-satunya galaksi di dunia ini.

Pada 1 Januari 1925, Edwin Hubble menyajikan penemuan beliau kepada American Astronomical Society bahwa Andromeda bukanlah bagian dari Bima Sakti, melainkan galaksi tersendiri yang jauh dari Bima Sakti. Penemuan Hubble memperluas lagi perspektif manusia mengenai alam semesta, bahwa terdapat banyak galaksi selain galaksi kita. Diperkirakan ada 100—200 miliar galaksi di alam semesta, masing-masing memiliki sekitar 100 miliar bintang.

Tidak berhenti sampai di situ, batas alam semesta yang dapat kita amati sekarang pun (observable universe, berukuran sekitar 92 miliar tahun cahaya) bukanlah keseluruhan alam semesta. Bahkan, diperkirakan bahwa alam semesta ini tidak terbatas. Terlebih lagi, pada tahun 1929, Hubble menemukan bukti bahwa ternyata alam semesta juga mengalami ekspansi. Ekspansi tersebut bersifat homogen (ekspansi teramati dari lokasi mana pun di alam semesta) dan isotropik (ekspansi teramati dari arah mana pun kita melihat). Salah satu konsekuensi dari ekspansi yang demikian adalah bahwa tidak ada titik yang menjadi pusat alam semesta. Ya, bukan Bumi, Matahari, ataupun Bima Sakti…

Ada juga hipotesis bahwa alam semesta yang kita ketahui hanyalah satu dari banyak alam semesta lainnya (multiverse). Keberadaan multiverse memang belum terbukti, namun kemungkinan keberadaannya dapat membuat manusia merenungkan kembali posisi mereka di dunia ini…

Terlihat bahwa seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi, pemahaman manusia mengenai jagat raya berubah. Dengan bertambahnya pengetahuan kita mengenai dunia, perspektif kita mengenai alam semesta beserta isinya mengalami perluasan.

Bumi yang dahulu kita pandang sebagai pusat dunia ternyata hanyalah batuan bulat yang mengelilingi Matahari. Matahari pun hanyalah sebuah bola gas besar, sama seperti miliaran bintang lainnya di galaksi Bima Sakti. Matahari, Bumi, serta anggota tata surya lainnya bahkan terletak jauh dari pusat galaksi tersebut. Bima Sakti pun, yang dahulu dianggap sebagai satu-satunya galaksi, hanyalah kumpulan bintang yang sama seperti miliaran koleksi bintang lainnya di jagat raya. Dan mungkin saja alam semesta yang kita ketahui bukanlah satu-satunya…

Dilihat dari sudut pandang alam semesta, Bumi bagaikan seberkas titik biru pucat yang tidak ada apa-apanya di alam semesta nan luas ini. Planet yang kita tinggali hanyalah batuan kecil yang mengembara di tepian salah satu dari betapa banyaknya galaksi. Planet Bumi tidaklah sespesial seperti yang diperkirakan manusia.

Di antara lautan kosmik yang sepertinya tiada batas, tampaknya keberadaan kita tidaklah berarti…

Rumah kita hanyalah sebuah titik yang tidak terlihat dari mata alam semesta.

Ya, titik biru pucat yang tidak signifikan.
Di situlah kita mempermasalahkan siapa yang terpenting.
Di situlah kita saling memperebutkan kekuasaan.
Di situlah kita berusaha menimbun kekayaan.
Di situlah kita membunuh dan menindas satu sama lain.
Di situlah kita mengalami segala permasalahan hidup.

Di situ jugalah kita hidup bersama segala bentuk kehidupan yang kita ketahui.
Di situ jugalah kita merasakan cinta dan kebahagiaan bersama satu sama lain.
Di situ jugalah kita menjelajahi setiap ujung tempat tinggal kita di jagat raya.
Di situ jugalah kita berusaha mempelajari dan memahami alam semesta.
Di situ jugalah kita belajar dan berkembang untuk mencapai kesuksesan.

Di sebuah titik biru pucat, kita menanyakan tempat dan arti kehidupan kita di Kosmos.

2 Januari 2016
Cosmos @ Perspektif


Anda dapat menonton dua video berikut untuk mendapat gambaran mengenai tempat kita di alam semesta.
The Known Universe by AMNH

https://www.youtube.com/watch?v=17jymDn0W6U


Referensi:

American Physical Society (tanpa tahun). “Snapshots from Physics History: Edwin Hubble expands our view of the universe.” Diakses pada 1 Januari 2016 dari http://www.aps.org/publications/capitolhillquarterly/200802/physicshistory.cfm

Cain, F. (31 Mei 2010). “Where is Earth in the Universe?”. Diakses pada 1 Januari 2016 dari http://www.universetoday.com/65601/where-is-earth-in-the-milky-way/

Howell, E. (1 April 2014). “How Many Galaxies Are There?”. Diakses pada 1 Januari 2016 dari http://www.space.com/25303-how-many-galaxies-are-in-the-universe.html

Howell, E. (21 Mei 2014). “How Many Stars Are in the Milky Way?”. Diakses pada 1 Januari 2016 dari http://www.space.com/25959-how-many-stars-are-in-the-milky-way.html

Redd, N. T. (24 Desember 2013). “How Big is the Universe?”. Diakses pada 1 Januari 2016 dari http://www.space.com/24073-how-big-is-the-universe.html

Schneider, S. E & Arny, T. T. (2015). Pathways to Astronomy (4th edition). New York, NY: McGraw-Hill Education.

Sumber gambar: http://www.uwindsor.ca/dailynews/2015-03-01/our-place-universe-subject-physics-lecture

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s