Paradoks Agama

Tidak cerdas itu memakai agama sebagai alat ukur kebaikan/kecerdasan seseorang. Siapa saja bisa beragama, tetapi tak semua bisa melakukan kebaikan.

Di zaman sekarang orang sering mempertanyakan posisi agama, terutama dalam konteks kultural modern. Kritik semacam ini sebenarnya sudah terlontar sejak agama itu lahir, karena apabila kita runut ke masa lalu dapat dikatakan bahwa agama merupakan produk kultur. Oleh karena itu, agama dengan sendirinya sudah mengalami benturan kepentingan dengan kultur itu sendiri. Tragisnya, ia malah dituduh telah memorak-porandakan kultur.

Memang benar bahwa pada awalnya agama dianggap sebagai solusi ampuh nan berkhasiat bagi persoalan hidup manusia di zaman mereka. Itu dulu! Sekarang, coba kita lihat realitas yang ada.

Agama nyaris tersingkir dari pentas peradaban modern. Kini, kita sering mendengar omongan-omongan ringan semacam ini: “Saya juga bisa bahagia tanpa agama.”, “Ah, peduli setan dengan agama!”, dan “Agama enggak pernah memberikan jaminan yang pasti soal kebahagiaan saya”. Tragisnya lagi, pernyataan ini bukannya datang dari orang tak berpendidikan. Filsuf besar seperti Friedrich Nietzsche bahkan dikenal dengan pernyataan “Tuhan sudah mati!”. Tetapi jangan berprasangka buruk dan jangan langsung menghakimi.

Mari kita cari akar permasalahannya dan kita penjarakan segala kekeliruannya. Apabila kita telusuri lebih mendalam, agama penuh dengan ilusi. Agama bagaikan seorang cowok yang suka mengumbar janji sama pacarnya tetapi tak pernah ditepati. Agama terlalu banyak memberi janji-janji gombal yang tak kunjung terealisasi. Oleh karena itu, hilanglah kehormatan dan keanggunannya.

Ada beberapa ilusi yang tampak dalam agama. Misalnya bahwa agama diyakini mengurus perkara rohani, soal Tuhan, dan realitas transenden. Padahal, dalam kenyataannya agama justru berlaku sebagai otoritas paling berkuasa atas perkara duniawi. Dengan mengatasnamakan Tuhan, agama malah menjadi hakim yang mengurusi soal boleh atau tidak melakukan suatu hal. Misalnya soal makanan, persepuluhan, bahkan sampai soal uang. Dalam hal ini, agama identik dengan institusi beserta aturan-aturannya.

Agama konon berurusan dengan kesucian dan merupakan benteng nurani dan jalan ke arah kewarasan jiwa. Nyatanya, institusi-institusi keagamaan plus kekuasan absolut yang dimilikinya justru sangat rentan untuk menjadi benteng KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme). Agama tak lebih daripada kesadaran palsu yang tidak realistis, naif dan tidak otentik. Ia adalah benteng hipokrasi, identik dengan perilaku yang artifisial.

Agama adalah energi ke arah pembebasan dan demokrasi? Alih-alih mengurusi soal pembebasan, agama—dalam sejarahnya—malah sangat identik dengan penindasan, eksploitasi, ketidakadilan, penyiksaan, diskriminasi, dan sebagainya. Agama konon memberikan pengetahuan sejati dan mendorong pencarian ilmu terus-menerus. Pada kenyataannya, agama identik dengan kemandegan, penyensoran yang berlebihan, dan rasa puas diri yang sangat naif.

Agama diyakini sebagai jalan menuju keselamatan, perdamaian, ketenangan, dan kasih sayang. Sementara pada praktiknya agama adalah sumber persoalan yang jauh lebih ganas dan mengerikan daripada persoalan sekular duniawi. Lihat saja perang di berbagai belahan dunia yang mengatasnamakan agama: Armenia (Yahudi-Islam), Irlandia (Katolik-Protestan), Irak (Syiah-Sunni), dan lain-lain. Tantangan dan peluang baru di zaman kita, ketika krisis kemodernan menggumpal, kiranya perlu bagi agama untuk meredefinisi diri sehubungan dengan berbagai fenomena baru yang berkembang dalam masyarakat, memodernisasi diri (terutama soal klaim “kebenaran”), dan peka terhadap nuansa perbedaan sehubungan dengan persoalan individual (narsisme yang berlebihan harus dihindari).

Orang beragama sering merasa puas dengan anggapan bahwa dia adalah manusia-manusia pilihan Tuhan. Selanjutnya, agama hendaknya jangan memenjarakan “kebenaran” dalam muatan doktrinnya. Perlu, bahkan harus mau, melirik kebenaran di luar doktrin yang sudah dibangunnya. Akhirnya agama harus menghindari ekslusivitas berlebihan, karena hal itu akan menjadi pemicu konflik. Oleh karena itu, jangan terlalu memberi penekanan pada unsur organisasi atau institusi, doktrin dan hukum, serta sistem ritual.

Refleksi melihat segala peta permasalahan di atas, kita mungkin saja merasa kaget, sontak bak orang jantungan. Tapi, kita toh harus merefleksikan ulang makna keagamaan kita masing-masing.

Keruntuhan dan kebinasaan suatu kebudayaan, agama, atau bangsa memiliki seribu satu sebab, di antaranya yang terpenting adalah perversi moral di satu pihak dan apati moral di pihak yang lain, sebagai lawan dari motivasi dan persepsi moral yang tajam. Jenis-jenis kejahatan yang menghancurkan masyarakat ini banyak sekali jumlahnya, seperti disequilibrium ekonomi, tekanan politik, atau eksploitasi terhadap rakyat kecil.

Hukuman sejarah ini adalah hukum alam yang ditimpakan kepada suatu masyarakat atau bangsa yang merupakan akibat dari “dosa kolektif” mereka, yang melibas siapa saja termasuk orang baik yang hanya “diam” saja. Banyak sekali contoh kebudayaan yang telah menjadi sekedar pajangan di museum, seperti Mesir kuno, Romawi, Yunani, Parsi, Bizantium, Sriwijaya, Majapahit dan lain-lain. Begitu juga dengan agama yang telah lama mati dan telah menjadi fosil, seperti dewa-dewa Yunani, totem dan taboo, dan latta dan uzza

Mungkin alangkah lebih baik jika kita bertanya kepada diri sendiri sebagaimana seorang ateis bertanya: “Untuk apa saya beragama ?”.

Resedivis_ @ Perspektif


Sumber:

https://www.opendemocracy.net/openglobalrights/jeremy-carrette/paradox-of-religion-and-rights

http://boards.straightdope.com/sdmb/showthread.php?t=625929

 

Advertisements

9 thoughts on “Paradoks Agama

  1. Keren artikelnya
    Yang ingin saya pertanyakan, saya pernah mendengar mengenai jika kita belajar harus pahami juga sejarahnya, nah disini jika kita ingin kembali mengambil esensi awal sejarah agama itu sendiri untuk melirik suatu kebenaran bagaimana tindakan kita ?
    Apa lagi ditambah masalah mengenai, “sejarah adalah pemilik sang pemenang”

    Like

  2. Artikel bagus tapi mau sedikit koreksi. Nietzsche itu bilang “Tuhan sudah mati” dengan nada sedih bukan nada merayakan. Tapi selain itu saya setuju 🙂

    Like

  3. Penonjolan hal2 yang terlihat siapapun terlepas dari biasnya cukup bagus, tidak terlihat penuh pemaksaan standar & sudut pandang.

    “Perlu, bahkan harus mau, melirik kebenaran di luar doktrin yang sudah dibangunnya.”
    Kalau meliriknya dengan penolakan terhadap “cara berpikir yang salah” bagaimana?

    “Agama tak lebih daripada kesadaran palsu yang tidak realistis, naif dan tidak otentik”
    Klaim “kebenaran”kah?

    Komunisme yang katanya mengedepankan kesetaraan dan kemakmuran malah identik dengan kediktatoran, pembunuhan masal oleh pemimpin2 Ateis, serta pencabutan hak beragama oleh negara. Perang anti teror malah terlihat seperti penghujanan “demokrasi”(baca:bom) demi pasir beralas ladang minyak. Riset medis dan psikologis yang seharusnya membuka jalan menuju penyembuhan beragam penyakit(misalnya kanker) pun pada prakteknya penuh kebohongan sensasional jurnalistik serta pemalsuan data demi dukungan dana. Begitu pula dengan propaganda pengeksposan “kebenaran” agama yang katanya memperjuangkan moralitas (versi konstruksi sosial), namun pada prakteknya penuh fallacy, standar ganda, & klaim kebenaran atas asumsi sirkular, dengan label rasionalitas dan moralitas sebagai tameng hipokrasi serta hal2 lainnya. Dan masih banyak lagi tindakan yang dikemas dengan tujuan yang terlihat baik, namun pada prakteknya terlihat mengecewakan.

    Apakah semua itu sekedar janji2 muluk?

    Like

  4. Saya setuju dengan beberapa hal yang anda sampaikan. Seringkali agama yang idealnya mengarahkan manusia untuk menjadi lebih baik justru digunakan sebagai alat untuk memonopoli kebenaran dan menghalalkan perbuatan buruk. Yang anda kritik disini adalah orang-orang yang mengaku-ngaku sebagai orang yang beragama. Namun apakah sejatinya agama itu membenarkan perbuatan mereka? Saya rasa itu belum tentu.

    Like

  5. Untuk residivis,
    Kalo boleh sy mengkritik, bhw di beberapa poin anda sepertinya hanya menunjukkan rasa frustasi thd agama. Bgmn anda bisa melihat bahwa agama melanggengkan KKN, arogansi, dan kesewenang2an? Sementara anda tidak memberikan contoh satupun agama mana yg melanggengkan hal2 spt itu? Anda lupa bahwa agama yg sama juga menjadi pembebas bagi orang2 tertindas, di Amerika Latin, Afrika, dan sebagian Asia. Sy rasa anda telah mencampuradukan antara agama sebagai panduan hidup dengan agama sebagai katalisator rezim otoriter. Taruhlah jika satu agama mayoritas di satu negara kemudian mendukung rezim otoriter? Apakah kita akan menggulingkan rezim dan memulai babak baru kehidupan berbangsa atau alih2 melakukan revolusi, anda akan membenci agama tsb sedemikian rupa hingga ke akar2nya tapi hanya diam tanpa gerakan??

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s