Bullying or Empathy?

“<3, cantik gak orangnya?”, tanya pacar Jester. 

Sebelum berani menjawab, Jester berpikir sebentar. “Ini jebakan, bukan?”, batinnya. Setelah menimbang dan meraut dengan benar, pacar Jester dijadikan layang-layang. Eh, bukan.

Agar aman, Jester bertanya. “Emang itu siapa?”.

“Ini anak yang kena kasus itu, yang ngaku-ngaku anak kepala BNN”, terang pacar Jester.

“Oooh…”, kata Jester mengangguk. “Selamat”, batinnya lagi.

Selanjutnya, karena penasaran, Jester ikut membaca berita-berita tentang SE (inisial) dan mulai sedikit terusik dengan kejadiannya. SE yang sedang konvoi ditilang oleh seorang polisi. Entah mengapa, SE membela diri dengan mengatakan dirinya merupakan anak seorang kepala BNN. Singkat cerita, video SE tersebar dan diketahui oleh publik. Akhirnya, instagram SE sendiri jadi tempat orang-orang “menasehati” dirinya. Yak, kalau saya lihat sih banyak banget; sudah bisalah buat endorse barang (ups). Terakhir, ayah SE dikabarkan meninggal.


Masih soal komentar netizen di Instagram SE. Kalau saya baca, banyak yang berusaha “menasehati” SE: ada yang marah-marah, ceramah, penuh belas kasih, dan sebagainya. Yang jadi pertanyaan saya,  komentar-komentar ini sebenarnya apa? Bullying kah? Atau bentuk empati netizen terhadap SE?

Oke, saya jelaskan dulu apa itu empati dan bullying.


Empati merupakan perwakilan pengalaman perasaan orang lain (Myers, 2010), atau bahasa gampangnya adalah bagaimana seseorang dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain. Seperti merefleksikan diri; “bagaimana kalau saya di posisi dia?”. Bila dilihat dari rute altruistic dalam menolong, dia tidak akan memikirkan bagaimana tekanan pada dirinya dan lebih berfokus pada perasaan orang yang ingin ia tolong. Dengan simpati yang tulus, orang termotivasi untuk mengurangi tekanan pada orang yang ingin ditolong. Akibatnya, perilaku yang muncul pun merupakan perilaku Jester,menolong orang tersebut keluar dari masalahnya, atau sekadar meringankan pikirannya.


Sekarang, bullying.

Bullying adalah segala perilaku yang dilakukan dengan sengaja, berbahaya, melibatkan ketidakseimbangan dalam kekuatan, dan ada unsur pengulangan. Well, mending saya bahas setiap dimensinya.

1. Bullying is deliberate: terdapat intensi yang dapat menyebabkan rasa sakit atau rasa tidak nyaman secara fisik atau psikologis pada korban.

2. Bullying involves a power imbalance: terdapat hubungan yang tidak setara antara korban dengan pelaku, seperti dari umur, SES (socioeconomic status), jumlah pelaku, gender, dan lain-lain.

3. Bullying has an element of repetition: perilaku yang dilakukan berulang-ulang tiap waktu. Bisa saja satu orang melakukan perilaku yang sama kepada beberapa korban, dan bisa juga banyak perilaku dilakukan terhadap satu target.

4. Bullying is harmful: terdapat kerusakan/gangguan yang dirasakan oleh korban, baik secara fisik maupun psikis.

Perilaku bullying sendiri biasanya tidak hanya dilakukan sendirian. Peer groups, keluarga, komunitas, dan masyarakat pun dapat memengaruhi seseorang melakukan perilaku bullying. Jika kasusnya adalah cyber bullying, orang yang tidak dikenal pun dapat ikut melakukan bullying.

Lalu, bagaimana dampak bullying terhadap korban? Korban bullying umumnya mengalami depresi dan kecemasan. Sering juga dampaknya menyerang kesehatan korban, apalagi jika yang diserang adalah fisiknya. Tetapi bukan berarti verbal bullying tidak memberi efek khusus ke tubuh. Bayangkan saja apa yang akan terjadi bila korban bullying merupakan orang dengan gangguan psikosomatis.

Namun, verbal bullying biasanya lebih berdampak terhadap segi psikis orang tersebut. Verbal bullying biasanya menyebabkan turunnya self-esteem, depresi, anxiety, dan mungkin keinginan untuk bunuh diri. Pernah dengar kan orang bunuh diri karena dalam hidupnya dia sering di-bully?


“Tapi saya tidak bermaksud nge-bully dia!”

Apapun bentuk perilakunya, apabila dilakukan dengan sengaja, berulang, dan menyebabkan rasa sakit atau rasa tidak nyaman bagi segi fisik atau psikis korban, perilaku tersebut bisa dikategorikan sebagai bullying.

Bila semua orang mengejek korban namun korban santai-santai saja, ya artinya itu bukan bullying bagi korban (walaupun pelaku sudah niat banget). Jadi, self-esteem korban juga berpengaruh pada kasus bullying. Namun, bukan berarti perilaku bullying dibenarkan hanya karena korban tidak merasakan apa-apa ya.


Lalu, kembali ke pertanyaan awal. Apa yang sebenarnya dilakukan netizen di Instagram tersebut? Bentuk empati atau bullying?

Saya yakin setiap orang pasti punya jawaban mereka sendiri.

Tetapi, saya punya satu pertanyaan:

“Jika kalian di posisi SE, apakah kalian merasa terbantu?”

Jester @ Perspektif

All Rights Reserved


Sumber :

David Myers. 2010. Social Psychology (10th Edition).

Bullying Pervention and Response: a guide for schools. https://www.hrc.co.nz/files/5714/3226/0531/MOEBullyingGuide2015Web.pdf

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s