Earth: The Pale Blue Dot

Kalau kalian lihat foto di atas, itu apa sih? Ga jelas banget gambarnya

Foto tersebut adalah foto Bumi yang diambil tahun 1990 dari wahana antariksa Voyager 1 ketika berjarak 6 miliar kilometer dari Bumi. Di sini, Bumi hanya tampak seperti satu titik berwarna biru. Foto yang terkenal ini bernama Pale Blue Dot. Hayo Perspekter, ketemu tidak titik biru—our home planet—di mana kita tinggal?

Sebagai informasi, Voyager 1 adalah wahana antariksa yang diluncurkan pada tanggal 5 September 1977. Sekarang, wahana ini sudah berjarak 1.99 × 10¹º km (19,900,000,000 km) dari Bumi dan  akan terus menjauhi Bumi untuk menjalankan misinya. Wahana antariksa ini merupakan salah satu man-made object terjauh dari Bumi yang pernah ada.

Carl Sagan, one of the most brilliant scientist di bidang astronomi dan kosmologilah yang mengatur pengambilan gambar Bumi ini. Gambar ini menjadi highlight dalam salah satu tulisan beliau yang tertera dalam buku Pale Blue Dot karyanya pada tahun 1994.

Sagan mungkin termasuk salah satu ilmuwan yang bisa memberikan perspektif yang jelas pada masanya, bahwa meskipun Bumi kita ini terlihat sangat luas bagi kita, ternyata Bumi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan alam semesta. Dalam bukunya, beliau menjelaskan dengan sangat indah dan puitis mengenai gambar titik biru pucat ini. Di bawah ini adalah terjemahan pernyataan Carl Sagan:

“Tataplah lagi titik itu. Titik itulah yang dinamai ‘di sini.’ Itulah rumah. Itulah kita. Di satu titik itu semua orang yang kamu cintai, semua orang yang kamu kenal, semua orang yang pernah kamu dengar namanya, semua manusia yang pernah ada, menghabiskan hidup mereka.

“Segenap kebahagiaan dan penderitaan kita, ribuan agama, pemikiran, dan doktrin ekonomi yang menganggap dirinya benar, setiap pemburu dan perambah, setiap pahlawan dan pengecut, setiap pembangun dan penghancur peradaban, setiap raja dan petani, setiap pasangan muda yang jatuh cinta, setiap ibu dan ayah, anak yang bercita-cita tinggi, penemu dan penjelajah, setiap pengajar kebaikan, setiap politisi busuk, setiap “bintang pujaan”, setiap “pemimpin besar”, setiap orang suci dan pendosa sepanjang sejarah spesies manusia, hidup di sana. Di atas setitik debu yang melayang dalam seberkas sinar.

“Bumi adalah panggung yang amat kecil di tengah luasnya arena kosmik. Renungkanlah sungai darah yang ditumpahkan para jenderal dan maharaja sehingga dalam keagungan dan kejayaan itu, mereka dapat menjadi penguasa sementara di sebagian kecil dari titik tersebut. Renungkanlah kekejaman tanpa akhir yang dilakukan orang-orang di satu sudut titik ini terhadap orang-orang tak dikenal di sudut titik yang lain, betapa sering mereka salah paham, betapa siap mereka untuk membunuh satu sama lain, betapa bergejolak kebencian mereka.

“Sikap kita, keistimewaan kita yang semu, khayalan bahwa kita memiliki tempat penting di alam semesta ini, tidak berarti apapun di hadapan setitik cahaya redup ini. Planet kita hanyalah sebutir debu yang kesepian di alam yang besar dan gelap. Dalam kebingungan kita, di tengah luasnya jagat raya ini, tiada tanda bahwa pertolongan akan datang dari tempat lain untuk menyelamatkan kita dari diri kita sendiri.

“Bumi adalah satu-satunya dunia yang, sejauh ini, diketahui memiliki kehidupan. Tidak ada tempat lain, setidaknya sampai beberapa waktu ke depan, yang bisa dijadikan tempat tinggal. Ada yang bisa kita kunjungi, tetapi belum ada yang bisa kita tinggali. Suka atau tidak, untuk saat ini, Bumi adalah satu-satunya tempat kita hidup. Sering dikatakan bahwa astronomi adalah sebuah pengalaman yang menumbuhkan kerendahan hati dan membangun kepribadian. Mungkin tak ada yang dapat menunjukkan laknatnya kesombongan manusia secara lebih baik selain citra dunia kita yang mungil ini. Bagiku, gambar ini mempertegas tanggung jawab kita untuk bertindak lebih baik terhadap satu sama lain, dan menjaga serta merawat sang titik biru pucat, satu-satunya rumah yang kita kenal selama ini.”


This post is created in the memory of Carl Sagan (9 November 1934 – 20 December 1996)

For the full script of Pale Blue Dot in English:

https://en.wikipedia.org/wiki/Pale_Blue_Dot#Reflections_by_Sagan

For the animated video, I recommend you guys to visit this beautifully made Youtube unofficial video of Pale Blue Dot:

https://www.youtube.com/watch?v=4PN5JJDh78I

In the end, I want to emphasis this part of the writing by Carl Sagan:

To me, it underscores our responsibility to deal more kindly with one another and to preserve and cherish the pale blue dot, the only home we’ve ever known.”

So, let us be more understanding of one another and cherish our beautiful pale blue dot.
Protect and care for our home. For we do not inherit the Earth from our ancestors; we borrow it from our children.

Kita tidak mewarisi dunia ini dari leluhur kita, tetapi kita hanya meminjamnya dari anak-cucu kita. Jadi, jagalah baik-baik dunia ini untuk kita kembalikan pada anak-cucu kita kelak.

PS: This post should have been released on 9 November, which coincided with the birthday of Carl Sagan, one of the scientist that I personally admire. Yet I missed the date, so I post it today 🙂

13 November 2015
FH @ Perspektif
All Rights Reserved

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s