Sudut Pandang Lain dari Kasus yang Kau Katakan ‘Drama Queen’

“Dia ngasi contoh yang ngga bener!”

“Pergaulan bebas, dasar!”

“Kan seumuran kamu ngga boleh ngerokok?”

Mungkin itu kali ya yang kalian bicarakan ketika seorang remaja perempuan melanggar norma masyarakat. Ketakutan demi ketakutan bahwa orang tersebut akan memengaruhi adik, anak, atau anak tetangga kalian dengan perilakunya kian bermunculan. Tetapi ketimbang hanya berkata demikian, sebenarnya adakah yang benar-benar ingin tahu ‘dia kenapa?’. Atau ternyata semuanya menyalahkan bahwa dia yang tidak bisa berpikir mengenai dirinya? Ah, sudahlah.

‘Melanggar norma’. Sebenarnya jika hanya mengatakan itu, mungkin kalian pernah melakukannya sekali, dua kali, atau sering. Nah, ketika hal itu terjadi, apa kamu akan mengatakan hal yang sama sebagaimana kamu mengatakannya kepada orang tadi? Jawabannya beragam.

Ketika sampai saat ini masih melakukannya, jawaban kalian akan seperti ini: “Aku kan ngelakuin itu karena…”. Kalau sudah tobat, jawaban kalian seperti ini: “Iya waktu itu aku salah, tapi aku sekarang sudah berubah.”. Gitu weh terus. Terkadang situasi dan kondisilah yang disalahkan.

Lalu, apa sih yang sebenarnya ingin saya jelaskan?

Mungkin masalah tanggung jawab, atau apalaaahh


Bukan… saya bukannya berkampanye mendukung perilaku yang melanggar moral. Saya lebih ingin membahas bagaimana peran kita sebagai lingkungan bagi orang lain. Maksudnya?

Begini loh

Jika kita telusuri lagi, menurut teori perkembangan psikososial Erik Erikson, remaja biasanya berada pada tahap Identity versus Identity Confused. Tahap ini menjelaskan bahwa remaja saat itu sedang berusaha mencari jati dirinya. Dalam rangka mencari jati diri, ia belajar dari lingkungan. Sebentar… ini terlalu cepat.

Mari kita mulai dengan mengetahui apa itu belajar.

Belajar adalah perubahan yang relatif menetap akibat latihan. Belajar tidak hanya berarti pergi ke sekolah dan lulus ujian nasional. Belajar adalah kata yang menjelaskan mengenai sebuah usaha yang kamu lakukan untuk dapat melakukan sesuatu. Misalnya saya dapat mengetik dengan lancar karena dulu saya secara berulang melakukan aktivitas mengetik di laptop. Hal-hal kecil seperti berbahasa, berjalan, menggunakan alat-alat makan, ataupun menggunakan handphone semuanya adalah hasil belajar. Lalu, bagaimana awal seseorang belajar?

Untuk membahas hal itu, saya akan menggunakan social cognitive theory Albert Bandura.

Social cognitive theory menjelaskan bahwa dalam perilaku seseorang, manusia dan lingkungan merupakan kunci dalam perkembangan. Perilaku yang dimaksud di sini adalah proses mental manusia, atau biasanya disebut sebagai kognitif. Pada penelitiannya, Bandura lebih berfokus pada observational learning, yaitu proses belajar di mana seseorang mengamati perilaku orang lain dan kemudian mencontohnya. Observational learning sendiri dibagi menjadi dua jenis, yaitu imitation dan modelling. Imitation dimaksudkan ketika seseorang semata-mata mengikuti tingkah laku seseorang tanpa mempertimbangkan akibat atau penilaian orang lain. Biasanya hal tersebut dilakukan guna meniru apa yang dilakukan idolanya. Berbeda dengan imitation, modelling merupakan proses belajar di mana seseorang tidak semata-mata mengikuti tingkah laku seseorang. Ia juga memerhatikan konsekuensi  apa yang akan ia dapat ketika ia melakukannya. Jika baginya menguntungkan, maka ia akan mengadopsi tingkah laku tersebut. Setelah melakukannya, ia kembali melihat bagaimana reaksi dari lingkungan ketika ia melakukan hal tersebut. Jika menurutnya reaksi lingkungan menguntungkan, maka perilaku tersebut ia pertahankan.

Terdapat kesamaan yang dapat kita tarik dari sini, yaitu bahwa kedua proses belajar berasal dari lingkungan. Ya tentu saja, paling tidak itulah yang dikatakan pada akar teori ini. Perkembangan seseorang benar-benar bergantung pada kognitif, perilaku, dan lingkungan orang tersebut. Lalu, bagian mana yang saya ingin fokuskan di sini? Yak, tentu saja lingkungan.

Setelah saya jabarkan mengenai observational learning, sadarkah kalian bahwa lingkungan merupakan penyedia informasi untuk seseorang belajar? Sadarkah kalian bahwa peran kalian sebagai lingkungan adalah hal yang dicontoh oleh orang lain dalam kehidupan mereka?

Sampai sini, mungkin ada beberapa orang yang tidak setuju dengan perkataan saya. Mungkin kita punya andil sekian persen salah dalam kasus orang tersebut. Mungkin, dan mungkin. Tetapi mengapa saya katakan hal tersebut?

Sadarkah kalian bahwa selain menjadi sumber informasi, kita bertindak sebagai kontrol perilaku seseorang. Contoh: ketika seorang anak kecil membeli rokok, mungkin si penjual akan tetap akan memberikannya. Tentu saja hal ini terlihat lucu jika setelahnya si penjual merasa takut kalau anaknya merokok seseperti si pembeli tersebut. Tetapi ia tetap membolehkan anak kecil itu membeli rokok. Bukankah ini aneh? Bukankah saat itu kita dapat katakan bahwa penjual tidak menjalankan dirinya sebagai peran kontrol, paling tidak agar anaknya tidak terpengaruh pada hal tersebut? Atau memang seperti itu? “Biarkan saja anak lain rusak, yang penting anak saya tidak berada di jalan yang salah.”

What a selfish person.

Jika kita kembali ke kasus remaja merokok, clubbing, dan minum minuman keras, bukankah kita seharusnya sadar bahwa ada beberapa pihak yang tidak menjalankan kontrolnya dengan baik? Mengapa remaja tersebut bisa membeli rokok? Bagaimana ia bisa pergi clubbing? Bukankah ada orang-orang yang membolehkan dia berperilaku seperti itu?
Itu baru dari pihak orang-orang yang paling dekat dengan perilaku si remaja.

Lalu, bagaimana dengan keluarganya? Tidak… saya bukannya mau mengatakan “bagaimana sih ortunya ngga bener!”. Tidak adakah yang berusaha berhipotesis mengenai pola asuh yang diberikan orang tuanya? Atau paling tidak, apa yang terjadi dengan keluarganya? Mungkin saja lack of control yang terjadi akibat absensi orang tua menjaga anaknya. Tetapi mengapa orang tuanya absen? Karena sakit kah? Masalah rumah tangga kah? Jarak kedekatan kah? Atau apa?

Lalu, tidakkah media juga memengaruhi perilakunya? Ada sebagian dari kita yang menjual gaya hidup yang buruk di dunia maya sehingga dapat dicontoh oleh anak-anak. Lalu, mungkin sebagian dari orang-orang ini dengan seenaknya mengatakan bahwa para remaja inilah yang akan menjadi contoh yang buruk untuk generasi berikutnya. Contohnya adalah remaja berinisial SE dulu yang mengaku anak pejabat pemerintahan agar tidak jadi ditilang. Sadarkah bahwa beberapa tahun silam, mungkin ketika dia menginjak bangku sekolah dasar, mengaku anak pejabat untuk menghindari tilang merupakan joke sebagian dari kita? Mungkinkah itu yang mendorongnya melakukan hal tersebut di dunia nyata? Mungkinkah waktu kecil ia tidak bisa membedakan joke kita? Atau yang mana yang patut ditiru dan tidak?

Tetapi bukankah apa yang masuk ke dalam pikiran dia harus disaring terlebih dahulu? Iya, memang. Akan tetapi, penyaring apa yang digunakan? Jelas, itu merupakan nilai dan norma yang ia anut selama ini. Nilai-nilai yang ia anut juga berdasarkan hasil belajar yang terinternalisasi, YANG ARTINYA ada pengaruh lingkungan juga. Macam lingkaran setankah? Atau macam rantai? Satu hal akan memengaruhi yang lainnya.

Sekali lagi, instead of blaming her 100%, kenapa kita tidak mencoba untuk introspeksi diri kita sendiri? Mungkin ini adalah efek samping dari apa yang dulu kita lakukan. Mungkin saja. Memang tidak besar, tapi tetap ada kemungkinan. Mungkin hal tersebut terjadi karena lack of control pihak lingkungan. Bukan untuk mengontrol dirinya, tetapi mengontrol diri kita sendiri. Andai benar apa yang kita junjung adalah nilai-nilai masyarakat yang ada di Indonesia, tidakkah kita seharusnya kita bekerjasama untuk menjalankan nilai-nilai tersebut di Indonesia? Atau ternyata kita sebenarnya tidak mengalami kesepakatan mengenai nilai-nilai tersebut? Atau ternyata setiap orang memiliki nilai yang berbeda-beda pada dirinya?

Ingat. Domino ini akan tetap berjalan. Perilaku. Manusia. Lingkungan.

Juli 2016

Jester @ Perspektif

All Rights Reserved

Advertisements

10 thoughts on “Sudut Pandang Lain dari Kasus yang Kau Katakan ‘Drama Queen’

  1. Dalam sudut pandang Sosiologi agen sosalisasi ada 4 yaitu keluarga, teman sebaya (peer group), lembaga pendidikan, media. Agen sosialisasi yang paling utama dan pertama adalah keluarga. Jadi sebenernya kalau dari sudut pandang sosiologi bukan masalah seberapa dekat dia dengan keluarganya atau apapun, ya karena tidak ada yang tau akan hal itu. Tapi bagaimanapun keluarga merupakan tempat sosialisasi primer bagi seseorang, yang selanjutnya ketika besar lebih banyak diambil oleh lingkungan, sekolah, teman sebaya sebagai sosialisasi sekunder. Dalam hal ini keluarga memegang pernanan yang sangat vital sebagai sebuah pranata sosial yang berfungsi mensosialisasi nilai dan norma yang ada di masyarakat terhadap seseorang (terutama seorang anak). Jadi ketika ada deviasi sosial, hal tersebut dilihat sebagai sebuah proses sosialisasi yang tidak sempurna yang terjadi terutama di keluarganya atau sosialisasi primernya. Hal ini tentu saja bukan berarti sebuah judgment bagi keluarga KN ataupun KN sendiri, karena ini sebuah analisis sederhana saja, yang sebenarnya sangat menarik untuk dikaji lebih mendalam lagi.

    -Novi

    Like

  2. Setuju banget sama Jesper yang menekankan kalau perilaku seseorang dipengaruhi banget oleh lingkungan. Gw mau nambahin aja sih. Menurut gw, pembentukan perilaku/karakter seseorang ya dimulai sejak lahir, which means lingkungan pertama dia orangtua dan keluarga (atau siapapun yang membesarkan dia). Ditambah lagi, kalau belajar adalah hasil latihan yang dipengaruhi oleh waktu juga, bisa dibilang bahwa lingkungan yang akan paling berpengaruh adalah lingkungan di mana seseorang paling lama berada di dalamnya. Dalam kasus kn ini, yang dari kecil tinggal sama orangtua dan baru 3 tahun belakangan tinggal jauh dari ortunya (cmiiw), artinya ya orangtuanya lah yang paling berpengaruh.

    You see where I’m heading to?

    Like

  3. Yesss maybe lingkungan paling utama, tp mnurut w sih emg anaknya kaget gaul aja. Even tmn2ny almost ky dia but see her ko kyny dia yg paling show of her life bgt? Ya maybe ga mau kalah dr yg lain tp jatuhnya ……. yaaa u know. So keep positivs guys boleh mengenal hal spt itu but it depens how u control it. Hahaha sorry klo sotoy

    Like

  4. Sejak KN dan masalahnya jadi booming, aku jadi banyak baca mengenai cyberbullying etc yang terkait dengan masalah ini. Makasih ya sudah menambah wawasan dari artikel ini! Walaupun ga punya basic psikologi tapi tetap bisa dimengerti 😊

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s