From Physics and Beyond (Part 2 of 3)

Pada saat yang bersamaan, Paul Dirac bergabung bersama kami. Ia baru saja memasuki usia 25 tahun, dan memiliki sedikit waktu untuk toleransi. “Saya tidak tahu mengapa kita berbicara tentang agama,” dia berkeberatan. “Jika kita jujur—dan ilmuwan memang seharusnya begitu—kita harus mengakui bahwa agama merupakan pencampuradukan pernyataan palsu, tanpa dasar dalam kenyataan. Gagasan tentang Tuhan sendiri merupakan produk imajinasi manusia. Bisa dimengerti mengapa orang-orang primitif, yang jauh lebih banyak terpapar dengan kekuatan dashyat alam dibandingkan kita sekarang, membuat personifikasi akan kekuatan tersebut dalam gemetar ketakutan mereka. Tetapi saat ini, ketika kita telah memahami begitu banyak proses alami, kita tidak lagi membutuhkan solusi seperti itu. Saya tidak bisa melihat bagaimana dalil mengenai Tuhan Yang Maha Kuasa membantu kehidupan kita dengan cara apa pun. Yang saya lihat adalah bahwa asumsi tersebut mengarah ke pertanyaan-pertanyaan yang tidak produktif, seperti mengapa Tuhan membiarkan begitu banyak kesengsaraan dan ketidakadilan, eksploitasi orang miskin oleh yang kaya dan semua kengerian lainnya yang bisa dicegah oleh-Nya. Jika agama masih diajarkan, itu tidak berarti ide-ide dalam agama masih kita yakini, tetapi hanya karena sebagian dari kita ingin membuat masyarakat kelas bawah tenang. Orang-orang yang tenang lebih mudah diperintah daripada mereka yang ribut dan tidak puas. Mereka juga lebih mudah untuk dieksploitasi. Agama adalah semacam opium yang menjadikan suatu bangsa membuai diri dalam mimpi dan angan sehingga mereka lupa akan ketidakadilan yang sedang dilakukan terhadap rakyat. Hal itulah yang menyebabkan adanya aliansi erat antara dua kekuatan politik yang besar, Negara dan Gereja. Keduanya membutuhkan ilusi bahwa ada Tuhan baik hati yang memberikan ganjaran—di surga nanti jika bukan di bumi—bagi semua orang yang tidak bangkit melawan ketidakadilan, yang telah melakukan tugasnya dengan tenang dan tanpa mengeluh. Justru inilah alasan mengapa pernyataan jujur bahwa Tuhan hanyalah produk imajinasi manusia dicap sebagai yang terburuk dari semua dosa besar.”

“Anda hanya menilai agama dari sisi penyalahgunaan politiknya,” bantah saya, “dan karena kebanyakan hal di dunia ini dapat disalahgunakan—bahkan ideologi komunis yang baru saja Anda kemukakan—semua penilaian tersebut tidak dapat diterima. Bagaimanapun, masyarakat manusia akan selalu ada, dan mereka harus menemukan bahasa yang sama untuk membicarakan kehidupan dan kematian, dan tentang konteks yang lebih luas di mana hidup mereka ditetapkan. Bentuk spiritual yang telah secara historis dikembangkan berdasarkan pencarian akan bahasa tersebut pastinya memiliki kekuatan persuasif yang besar—apa lagi yang membuat banyak orang telah hidup dengannya selama berabad-abad? Agama tidak bisa dihilangkan begitu saja. Tetapi mungkin Anda tertarik ke agama lain, seperti Cina kuno, yang mana tidak ada gagasan tentang Tuhan yang personal?”

“Pada prinsipnya saya tidak menyukai mitos agama,” jawab Paul Dirac, “karena mitos dari berbagai agama bertentangan satu sama lain. Bagaimanapun, adalah murni suatu kebetulan bahwa saya lahir di Eropa dan bukan di Asia, dan yang pasti tidak ada kriteria untuk menilai apa yang benar atau apa harus saya percayai. Dan saya hanya bisa mempercayai apa yang benar. Mengenai tindakan yang benar, saya dapat menyimpulkannya cukup dengan akal berdasarkan situasi di mana saya berada: saya hidup di masyarakat dengan orang lain yang, pada prinsipnya, harus saya beri hak yang sama seperti yang saya tuntut untuk saya sendiri. Saya hanya mencoba untuk memberikan keseimbangan; tidak ada lagi yang bisa diminta dari saya. Semua perbincangan mengenai kehendak Tuhan ini, tentang dosa dan pertobatan, tentang alam baka yang mana hidup kita harus diarahkan padanya, hanya berguna untuk menyamarkan kebenaran. Kepercayaan akan Tuhan hanya mendorong kita untuk berpikir bahwa Tuhan menghendaki kita untuk tunduk kepada kekuatan yang lebih tinggi, dan ide inilah yang membantu untuk melestarikan struktur sosial yang mungkin sangat sesuai di zaman mereka tetapi tidak lagi cocok dengan dunia modern. Semua perkataan Anda tentang konteks yang lebih luas dan sejenisnya tak dapat saya terima. Hidup, kalau dipikirkan lagi, sama saja seperti sains: kita menghadapi berbagai masalah dan harus memecahkannya. Dan kita tidak akan pernah dapat memecahkan lebih dari satu masalah pada satu waktu; konteks lebih luas Anda tidak lebih dari suprastruktur mental yang ditambahkan secara a posteriori (sebagai pengetahuan yang didapat setelah pengalaman).

Dan demikianlah diskusi tersebut berlangsung, dan kami semua terkejut melihat bahwa Wolfgang terus bergeming diam. Dia mengekspresikan muka masam atau tersenyum menyeringai dari waktu ke waktu, tetapi tidak mengatakan apa pun. Pada akhirnya, kami harus meminta dia untuk menyatakan pikirannya. Dia tampak sedikit terkejut dan kemudian berkata: “Baiklah, teman kita Dirac juga memiliki agama, dan prinsip penuntunnya adalah: ‘Tidak ada Tuhan dan Dirac adalah Nabi-Nya.’” Kami semua tertawa, termasuk Dirac, dan malam kami di kamar hotel tersebut berakhir.

Beberapa waktu kemudian, mungkin di Kopenhagen, saya mengatakan kepada Niels Bohr tentang percakapan kami. Dia segera membela anggota termuda dalam kelompok kami. “Saya menganggap hal itu luar biasa,” katanya, “bahwa Paul begitu keras kepala dalam pembelaannya terhadap semua hal yang dapat dinyatakan secara jelas dan logis. Ia percaya bahwa apa yang dapat dikatakan semestinya dapat dinyatakan dengan jelas—atau, seperti kata Wittgenstein, bahwa ‘siapa pun yang tak dapat membicarakan sesuatu, sudah semestinya diam.’ Setiap kali Dirac mengirimkan saya sebuah naskah, tulisannya begitu rapi dan bebas dari koreksi sehingga melihatnya saja merupakan kenikmatan estetis. Jika saya sarankan bahkan perubahan kecil saja, Paul menjadi sangat tidak senang dan biasanya tidak mengubah apa pun. Karya dia, dalam setiap kasus, sangat cemerlang. Baru-baru ini kami berdua pergi ke pameran yang di dalamnya terdapat pemandangan laut biru-abu-abu karya Manet. Di latar depannya terdapat sebuah perahu, dan di sampingnya, di dalam air, ada bintik abu-abu gelap, yang maknanya tidak terlalu jelas. Dirac berkata, ‘Titik ini tidak dapat diterima.’ Cara yang aneh dalam memandang seni, tetapi ia mungkin cukup tepat. Dalam sebuah karya seni yang baik, seperti halnya karya ilmiah yang baik, setiap rincian harus ditetapkan dengan tegas; tidak ada ruang untuk hal yang bersifat semata-mata kecelakaan.

“Namun, agama adalah hal yang cukup berbeda. Saya merasa sama seperti Dirac: gagasan tentang Tuhan personal adalah asing bagi saya. Tetapi kita harus ingat bahwa agama menggunakan bahasa secara agak berbeda dengan sains. Bahasa agama terkait lebih erat dengan bahasa puisi daripada bahasa sains. Memang benar, kita cenderung berpikir bahwa ilmu pengetahuan berhubungan dengan informasi tentang fakta objektif, dan puisi berhubungan dengan perasaan subjektif. Karena itulah kita menyimpulkan bahwa jika agama memang berurusan dengan kebenaran objektif, ia haruslah mengadopsi kriteria yang sama dengan kebenaran dalam sains. Tetapi saya sendiri menganggap pembagian dunia menjadi sisi objektif dan subjektif terlalu sewenang-wenang. Fakta bahwa agama-agama selama berabad-abad berbicara dalam gambaran, perumpamaan, dan paradoks berarti bahwa tidak ada cara lain untuk memahami kenyataan yang mereka lihat. Tetapi tidak berarti bahwa itu bukanlah realitas yang sejati. Dan dengan membelah kenyataan ini menjadi sisi objektif dan sisi subjektif tidak akan membawa kita terlalu jauh.

“Itulah sebabnya saya memerhatikan perkembangan-perkembangan dalam fisika selama dekade terakhir yang telah menunjukkan bagaimana problematisnya konsep-konsep seperti ‘objektif’ dan ‘subjektif’, sebuah pembebasan dalam berpikir. Semuanya diawali dengan teori relativitas. Di masa lalu, pernyataan bahwa dua peristiwa terjadi secara simultan (bersamaan) dianggap sebagai pernyataan objektif, yang bisa dikomunikasikan secara sederhana dan terbuka terhadap verifikasi oleh siapapun. Sekarang kita tahu bahwa ‘simultaneity‘ mengandung unsur subjektif, sebab dua peristiwa yang tampak simultan bagi seorang pengamat yang diam tidak selalu simultan untuk pengamat yang bergerak. Namun, deskripsi relativistik jugalah objektif sebab setiap pengamat dapat mengetahui melalui perhitungan tentang apa yang pengamat lain persepsikan atau telah persepsikan. Untuk semua itu, kita telah berangkat jauh dari gagasan klasik mengenai deskripsi objektif.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s