​Feminisme (Part 1 of 3)

Jika seorang individu mempercayai bahwa setiap gender memiliki hak dan kesempatan yang sama, maka dia adalah feminis. Feminisme muncul karena adanya ketimpangan hak dan kesempatan terhadap gender wanita pada umumnya, sebagaimana sama dengan ide persamaan hak lainnya. Ide gerakan persamaan tersebut disebut sesuai dengan representasi kaum mana yang mengalami diskriminasi, dalam hal feminisme, gender non-maskulinlah yang mengalami diskriminasi. Misalnya, gay rights muncul karena kaum gay mengalami opresi dan diskriminasi, atau anti-apartheid muncul karena kaum kulit hitam di Afrika mengalami diskriminasi oleh kaum kulit putih, maka disebut demikian.

Definisi feminisme sebagai ide akan persamaan hak bagi tiap gender nampaknya sulit untuk diterima dan dilihat oleh khalayak umum, mengingat di abad 21 peradaban manusia berada dalam suasana patriarkis-modern dimana hak-hak perempuan mulai tersuarakan dan emansipasi pun santer terdengar (akan tetapi seksisme masih banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari). Sehingga akan lebih mengena jika kita mengenal definisi feminisme sebagai “a movement to end sexism, sexist exploitation, and oppression” sebagaimana tertuang dalam Feminism is for Everybody oleh Bell Hooks 2000. Definisi tersebut menyatakan bahwa yang merupakan musuh feminisme bukanlah pria, tetapi praktik seksisme itu yang harus dihentikan. Perjuangan ini tidak akan berhasil jika hanya dilakukan dari pihak wanita saja. Sulitnya dalam menghentikan seksisme adalah karena tidak hanya pria saja yang melakukannya, namun seringkali wanita sendiri membenarkan dan juga melakukan seksisme. Jika praktik seksisme dihentikan, sebenarnya bukan hanya perempuan yang mendapatkan keuntungan, namun juga bagi laki-laki dan bagi gender-gender lainnya. Keuntungan-keuntungan yang dimaksud antara lain dapat memberi keuntungan secara ekonomi, memicu perubahan definisi pemerkosaan termasuk pada laki-laki, memberi ruang lebih bagi para ayah untuk bersama-sama dengan anaknya, memperluas definisi hate crimes bagi para identitas gender, memperbaiki hubungan rumah tangga, dan sebagainya (Plank, 2014). Jika terdapat gerakan mengatasnamakan feminisme namun tujuannya adalah untuk menggulingkan kekuasaan laki-laki, maka hal tersebut bukanlah feminisme—walaupun dapat dimengerti bahwa gerakan femen muncul dikarenakan sakit hati terhadap patriarkis yang telah menindas wanita selama berabad-abad—namun seksis semata yang menginginkan dominasi.


Seksisme: Seks, Gender, Orientasi Seksual, dan Kodrat

Untuk melawan seksisme, maka kita perlu mengetahui perbedaan seks, gender, orientasi seksual, dan kodrat. Seks secara sederhana adalah jenis kelamin biologis yang menempel pada organ tubuh manusia, yaitu perempuan dan laki-laki sedangkan gender merupakan konstruksi budaya yang diinternalisasi oleh manusia lewat proses belajar dan diidentifikasi dengan struktur masyarakat (Bhinneka, Gender, 2013 : 22), yang secara umum dikenal terutama di Indonesia adalah feminin, maskulin, dan waria. Waria seringkali terendahkan dan tersisihkan terutama dalam kehidupan, akan tetapi di bidang hiburan dan kecantikan mereka sangat diterima. Tidak ada suatu angka tetap mengenai persepsi gender ini, karena misalnya suku Bugis mengenal 5 gender, atau di Muangthai, yang mengenal sekitar 10 gender (Jurnal Gandrung, 2010 : 4). Ada pula transgender, ada juga androgini. Namun dari konsep patriarki, gender hanya ada dua dan masing-masing menempel pada satu jenis kelamin saja—feminin pada wanita, dan maskulin pada pria. Dan sifat-sifat feminin ataupun maskulin tidak murni dimiliki satu saja pada tiap orang, oleh karena itu kita mengenal sifat tomboy atau banci. Orientasi seksual merupakan hal lain lagi yang berbeda, yaitu terdapat heteroseksual, homoseksual, dan aseksual. Anggapan yang disebut “normal” atau straight adalah heteroseksual, yaitu menyukai lawan jenis. Homoseksual terbagi menjadi gay yaitu pria yang menyukai pria kembali, dan lesbian yaitu wanita yang menyukai wanita. Dan yang terakhir adalah aseksual, di mana seseorang benar-benar tidak memiliki daya tarik secara seksual terhadap orang lain. Namun orang aseksual tidak sepenuhnya “tidak tertarik” kepada manusia lainnya—jika melihat pria tampan maka dia akan tetap menyebut tampan, tetapi hanya tidak tertarik secara seksual.

Sedangkan kodrat, hakikatnya adalah fungsi dari tubuh tiap individu itu sendiri. “Kodrat” yang seperti wanita harus menyukai laki-laki, lembut, perasa, lemah, atau pria harus menyukai wanita, agresif, dan kuat sejatinya adalah hasil dari konstruksi sosial. Konstruksi sosial berubah setiap waktu, oleh karena itu, sejatinya “kodrat” seharusnya dilihat dari sudut pandang biologis. Contohnya yaitu kodrat wanita adalah mengalami menstruasi dan melahirkan, sedangkat kodrat laki-laki adalah memiliki jakun dan memproduksi sperma.


Gelombang-gelombang Feminisme

First-wave Feminism

Pada akhir abad 19, konsep feminisme mulai tumbuh. Meskipun demikian, terdapat perbedaan antara tiap kelompok feminis. Beberapa mendukung konsep “persamaan melalui perbedaan”, yaitu menerima bahwa tetap terdapat perbedaan antara wanita dan pria, sehingga perbedaan tersebut akan membedakan kekuatannya dalam kehidupan sosial. Kelompok lain memandang bahwa wanita seharusnya tidak diperlakukan berbeda sama sekali, dan sangat berfokus pada hak berpolitik, yaitu untuk memilih (The Politics Book, 2013: 286).

Second-wave Feminism

Gelombang kedua memiliki tujuan politik dan khalayak yang lebih luas. Pada tahun 1960an, gerakan ini disuarakan banyaknya oleh radikal feminis mengenai diskriminasi terhadap wanita di rumah dan di tempat kerja. Pada gelombang kedua pun menjadi ajang kelompok lain untuk bersuara seperti kaum kulit hutam dan homoseksual. Gelombang kedua memprotes kontes kecantikan dan simbol komersialisasi wanita lainnya, seperti kosmetik, high heels, dan makeup yang mengasumsikan bahwa penampilan wanita adalah yang terpenting (Krolokke dan Sorensen, 2006 : 1, 8).

Third-wave Feminism

Mulai tahun 1990-an, feminisme gelombang ketiga berfokus pada lingkup politik yang lebih luas. Gelombang ketiga menyuarakan mengenai kesempatan yang luas bagi tiap gender dan menekan seksisme untuk menghilangkan harapan tertentu mengenai gender dan stereotip. Isu yang dibahas menjadi kompleks mengenai gender, seksualitas, kelas, dan usia (Krolokke dan Sorensen, 2006 : 15-21).

The Great Goddess

Kepercayaan Tuhan pertama dan nabi-penyair priest-poet pertama yang tercatat sejarah adalah Innana dengan Enheduanna yang berasal dari Sumeria sekitar 2.300 S.M. Rentang historis lebih mengejutkan, karena berdasarkan temuan arkeologis, pada 25.000 S.M. terdapat “Venus figurines” dari batu dan gading di Eropa, dalam lumpur sungai Nil Mesir, sebagai gambaran “the Great Mother” (Miles, 2001 : 34-35). Kepercayaan awal merujuk pada sosok perempuan bukan tanpa alasan, yaitu karena perempuan merupakan sumber kehidupan: kelahiran—oleh karena itu hingga saat ini kita mengenal istilah ibu pertiwi, mother earth, bahkan hingga sebutan motherboard pada istilah teknologi, dan kita tidaklah mengenal bapak pertiwi atau father earth sama sekali.

Matrifokus, bukan matriarki

Jika saat ini kita hidup dalam patriarki, maka di saat tersebut merupakan matrifokus: wanita dan pria memiliki peran dan kesempatan yang sama dalam berpolitik, bermasyarakat, dan aspek kehidupan lainnya, meskipun ketua suku atau suatu perkumpulan politik didominasi oleh wanita. Hal ini muncul dikarenakan sistem kepercayaan yang berkembang di saat itu, dan yang uniknya, semua menunjukkan bahwa kekuatan berada dalam wanita sebagai primal Goddess, namun tetap ada powersharing. Misalnya tanpa Isis (Mesir kuno), Ra akan mati, sehingga dunia akan dikuasai kegelapan dan kematian. Garis kekuasaan dan properti diwariskan lewat garis perempuan, yang kemudian masih tetap diadaptasi pada periode awal patriarki.

(Tunggu penjelasan selanjutnya di Feminisme Part 2 of 3)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s