Science and Reason

One, remember to look up at the stars and not down at your feet. Two, never give up work. Work gives you meaning and purpose and life is empty without it. Three, if you are lucky enough to find love, remember it is there and don’t throw it away.

― Stephen Hawking

Dengan sains, kita bisa membangun jembatan dengan kekuatan yang dapat dihitung dengan tepat menggunakan bahasa matematika.

Dengan sains dan akal, kita bisa merencanakan masa depan generasi manusia yang tentu jauh lebih baik daripada generasi sebelumnya, terutama dalam urusan kemanusiaan.

Dengan sains, kita bisa bermain dengan alam dan menjelajah ruang dan waktu. Saat ini, sains yang kita punya masih dalam level yang bagi Albert Einstein hanya sekelas mainan anak-anak. Tetapi inilah mainan terbaik yang dimiliki oleh manusia hingga saat ini.

Dengan sains, kita bisa menciptakan lapangan pekerjaan kreatif, di mana kompetisi adalah aturan yang paling utama. Seperti kata Darwin, bukan yang paling cerdas atau yang paling kuat yang akan bertahan, tetapi mereka yang paling bisa beradaptasi atas situasi yang senantiasa berubah sebab perubahan adalah kekuatan fundamental yang bekerja secara konstan di alam semesta ini.

Dengan sains, kita bisa menjadi bangsa yang bermartabat, bangsa yang bisa dipandang tinggi oleh bangsa lain. Selama ini kita hanya menjadi bangsa yang dicemooh, bangsa yang dimaki, dan bangsa yang dianggap dungu sekaligus biadab. Harus kita terima bahwa tampilan yang disajikan memang berbicara apa adanya. Tidak ada yang bisa kita tutupi dari image yang memang sedang dalam posisi rusak-serusaknya, walau kita selalu berusaha untuk menghibur diri bahwa kita adalah bangsa yang besar, kaya, dan berbagai ilusi lainnya yang kita hadirkan untuk membuat perasaan kita lega. Tetapi bagi saya semua itu adalah BOHONG—kebohongan besar—dan inilah penyakit terbesar yang dimiliki oleh bangsa ini; bangsa yang suka menipu dirinya sendiri, dan parahnya ngotot atas kenyataan itu.

Science is the engine of prosperity. Di tangan mereka yang memahami sains dengan rasa kemanusiaan, akan terlahir sebuah peradaban yang berkemanusiaan pula.

Saya kira sebagai bangsa kita sedang hidup di era di mana ketidakpedulian akan masa depan disebabkan oleh ketidakmengertian secara mendasar mengenai apa yang sesungguhnya kita sebut sebagai bangsa. Ini terjadi karena proses transformasi pengetahuan akan berbangsa dari satu generasi ke generasi selanjutnya tidak memiliki dasar pijakan pengetahuan yang jelas. Semua berjalan tanpa visi, tanpa gagasan yang jelas. Kita ingin menjadi bangsa seperti apa?

Pertanyaan ini sangat penting, karena selama lebih dari setengah abad merdeka kita masih dihadapkan pada begitu banyak persoalan sederhana—persoalan sepele yang sudah dilewati oleh banyak bangsa yang tidak kalah susahnya dalam melewati sejarah.

Kita adalah bangsa yang sangat rapuh ditinjau dari segala sudut kehidupan. Tetapi saya pikir kita bisa menjadi bangsa yang kuat dan dewasa ketika perbedaan yang kita hadapi dijawab dengan cara-cara yang berkualitas. Untuk itu bangsa ini membutuhkan sistem pembelajaran yang berdiri atas satu identitas, yakni ke-Indonesia-an. Tanpa itu, kita hanya akan terpecah menjadi bangsa yang berantakan. Kita sudah terpecah menjadi bangsa dengan kepulauan terbesar di dunia, dan kita sama sekali tidak menyadari realitas yang sangat elegan itu.

Indonesia butuh generasi yang bukan hanya tangkas dalam berpikir, tetapi juga tangkas dalam membangun realitas pikirannya dalam ruang-ruang kehidupan yang nyata.

Egoisme dimiliki oleh semua manusia yang ada di atas planet ini. Tetapi sikap egois bisa diruntuhkan ketika kita telah memiliki satu cita-cita bersama sebagai bangsa, yang mampu menghadirkan kehidupan yang berkualitas manusia, membuka ruang interaksi yang saling menghormati antara satu dengan yang lain, rasa hormat terhadap aturan hukum yang berlaku tanpa memandang apapun (di hadapan konstitusi kita berdiri sama tinggi, duduk sama rendah). Inilah Indonesia yang ada dalam bayangan saya, dan mungkin juga Indonesia yang ada dalam banyangan sebagian dari kita yang lelah berhadapan dengan realitas yang itu menampilkan kedunguan kita sebagai sebuah bangsa.

Saya membayangkan kondisi di mana masyarakat Indonesia memiliki kebebasan dalam membangun imajinasinya dengan ekspresi yang elegan dalam setiap sudut kehidupan. Tidak ada lagi ketakutan atas nama otoritas selain kebenaran (sains).

Kebanggaan itu harus dibuktikan dengan kualitas kemanusiaan. Jika Anda adalah seorang dokter, jadilah dokter yang profesional yang memiliki gairah otentik. Berbeda itu asik; jangan dijadikan alasan sebagai sesuatu yang tabu. Era tabu sudah lewat; manusia saat ini sudah memikirkan bagaimana membangun peradaban di luar planet bumi. Sementara itu, kita masih sibuk dengan urusan perceraiaan dan keperawanan yang tidak ada artinya.


Credit to Andi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s