On Being a Physicist by Brian Greene

Ketika saya membalik halaman terakhir The Myth of Sisyphus karya Albert Camus bertahun-tahun yang lalu, saya dikejutkan oleh kemampuan karya tersebut untuk mencapai perasaan optimis yang menyeluruh. Bagaimanapun, seorang pria yang dihukum untuk mendorong batu ke atas bukit dengan pengetahuan penuh bahwa batu itu akan menggelinding kembali, sehingga mengharuskan ia mendorongnya lagi, bukanlah jenis cerita yang Anda harapkan berakhir dengan bahagia.

Namun Camus menemukan harapan besar dalam kemampuan Sisyphus mengerahkan kehendak bebas, menghadapi rintangan yang tidak dapat diatasi, dan menegaskan pilihannya untuk bertahan hidup walaupun ketika dihukum dengan tugas yang mustahil dalam alam semesta yang tak acuh. Dengan meninggalkan segala sesuatu di luar pengalaman langsung, dan berhenti mencari pemahaman yang lebih dalam atau makna yang lebih dalam, Sisyphus, dalam pandangan Camus, memperoleh kemenangan.


Iming-Iming Fisika

Saya terkesan dengan kemampuan Camus melihat harapan di mana kebanyakan orang lain melihat hanya keputusasaan. Tetapi sebagai seorang remaja, terlebih pada dekade-dekade setelahnya, saya mendapatkan bahwa saya tak bisa menganut pernyataan Camus bahwa pemahaman yang lebih dalam mengenai alam semesta akan gagal membuat hidup menjadi lebih berharga atau bermakna.

Sementara Sisyphus adalah pahlawan Camus, para ilmuwan besar—Newton, Einstein, Niels Bohr, dan Richard Feynman—adalah pahlawan saya. Dan ketika saya membaca deskripsi Feynman tentang sekuntum mawar—di mana ia menjelaskan bahwa ia bisa merasakan aroma dan keindahan bunga sepenuhnya seperti siapapun, tetapi pengetahuannya akan fisika memperkaya pengalaman tersebut dengan hebat sebab ia juga menemukan keajaiban dan keindahan dalam proses-proses molekuler, atomik, dan subatomik yang mendasarinya—saya menjadi selamanya ketagihan. Saya ingin mengetahui apa yang Feynman jelaskan: menilai kehidupan dan menghidupi alam semesta pada setiap tingkatan yang ada, bukan hanya yang dapat digapai oleh indra manusia yang rapuh. Pencarian akan pemahaman terdalam atas kosmos menjadi sumber kehidupan saya.


Keterlibatan yang Mendalam

Sebagai seorang fisikawan profesional, saya sudah lama menyadari bahwa banyak sekali kenaifan dalam kecintaan saya terhadap fisika pada masa sekolah. Fisikawan umumnya tidak menghabiskan hari-hari mereka dengan merenungkan bunga dalam kekaguman kosmis. Sebaliknya, kami mengabdikan banyak waktu untuk bergulat dengan rumus-rumus matematika rumit yang tercoret-coret di papan tulis. Perkembangan bisa lambat. Ide-ide menjanjikan biasanya tidak menuntun ke mana pun. Begitulah sifat penelitian ilmiah.

Namun, selama periode kemajuan yang minimal pun saya mendapatkan bahwa upaya yang dihabiskan untuk memecahkan teka-teki dan melakukan perhitungan membuat saya merasakan hubungan yang lebih dekat dengan alam semesta. Saya sekarang tahu bahwa kita bisa mengenal alam semesta tidak hanya dengan memecahkan misteri-misterinya, tetapi juga dengan membenamkan diri dalamnya. Jawaban memang baik. Apalagi jawaban yang dikonfirmasi oleh eksperimen. Tetapi jawaban yang pada akhirnya terbukti salah pun menunjukkan hasil keterlibatan yang mendalam dengan kosmos—keterlibatan yang memberi pencerahan hebat terhadap pertanyaan-pertanyaan, dan karenanya terhadap kosmos itu sendiri. Sekalipun batu yang kita asosiasikan dengan eksplorasi ilmiah tertentu bergulir kembali ke titik awal, kita tetap mempelajari sesuatu dan pengalaman kita akan alam semesta semakin kaya.


Di Bahu Para Raksasa

Tentu saja, sejarah ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa batu yang berupa penyelidikan ilmiah kolektif—melalui kontribusi para ilmuwan yang tak terhitung banyaknya dari seluruh benua dan selama berabad-abad—tidak menggelinding turun dari gunung. Tidak seperti Sisyphus, kita tidak memulai dari nol. Setiap generasi mengambil alih dari generasi sebelumnya, memberi penghargaan terhadap kerja keras, wawasan, dan kreativitas para pendahulunya, serta mendorong sedikit lebih jauh.

Teori-teori baru dan pengukuran yang lebih baik merupakan tanda kemajuan ilmiah, dan kemajuan tersebut dibangun atas apa yang ada sebelumnya, hampir tidak pernah menghapus papan tulis sampai tuntas. Oleh karena itulah yang terjadi, tugas kita jauh dari mustahil atau sia-sia. Dalam mendorong batu ke atas gunung, kita melakukan tugas yang paling istimewa dan mulia: menyingkap tempat yang kita sebut rumah, bersuka ria dalam keajaiban yang kita temukan, dan menyerahkan pengetahuan kita kepada generasi berikutnya.


Intimasi dengan Kebenaran

Untuk spesies yang, pada skala waktu kosmis, baru saja belajar berjalan tegak, tantangan yang kita hadapi mengejutkan. Meskipun begitu, selama 300 tahun terakhir, seiring perkembangan dari klasik ke relativistik dan kemudian ke realitas kuantum, dan sekarang telah menuju ke penjelajahan realitas sebagai kesatuan, pikiran dan instrumen kita telah menyapu hamparan besar ruang dan waktu, mengantar kita lebih dekat terhadap dunia yang ternyata adalah ahli menyamar yang cekatan. Dan seiring kita terus membuka kedok alam semesta secara perlahan, kita memperoleh keintiman yang didapat hanya dengan mendekatkan diri pada kejelasan akan kebenaran. Masih banyak yang perlu dicapai oleh penjelajahan kita, tetapi untuk sebagian orang rasanya seakan-akan spesies kita telah mencapai akhir masa kanak-kanaknya.

Yang pasti, pendewasaan kita di tepi Bima Sakti telah lama berlangsung. Bagaimanapun, kita telah menjelajahi dunia kita dan merenungkan alam semesta selama ribuan tahun. Tetapi pada sebagian besar waktu tersebut kita hanya membuat lompatan singkat menuju hal yang tidak diketahui, setiap kali pulang semakin bijaksana namun tidak banyak berubah. Butuh kelancangan Newton untuk menancapkan bendera penyelidikan ilmiah modern dan tidak kembali lagi. Kita telah mengarah lebih tinggi lagi sejak saat itu.


Sumber : http://www.pbs.org/wgbh/nova/physics/on-being-physicist.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s