Series on Our Perception (1/3): Introduction to Perception

duck-rabbit

Apa yang Anda lihat pada gambar di atas?

Bebek? Atau kelinci?

Gambar tersebut adalah rabbit-duck illusion yang awalnya dipopulerkan oleh Ludwig Wittgenstein. Mungkin Anda sudah tahu tentang rabbit-duck illusion. Gambar ini banyak digunakan untuk menjelaskan bagaimana persepsi seseorang bekerja.

Mari kita coba satu contoh lagi. Apa yang Anda lihat pada gambar berikut?

ladyCrone

Mungkin Anda melihat gambar wanita muda, tetapi mungkin juga Anda melihat nenek tua renta. Bahkan ada beberapa orang yang bertengkar karena perbedaan ini. Apa yang Anda lihat tergantung dari persepsi anda. Konon (katanya lho), para pria—terutama yang jomblo—cenderung melihat gambar wanita muda 😛

Gambar tersebut tampak seperti wanita muda berkalung yang sedang memalingkan wajahnya. Namun, gambar tersebut juga terlihat sebagai nenek tua yang sedang menundukkan kepalanya dan memiliki hidung besar. Kalung yang digunakan oleh si wanita muda bisa dilihat sebagai mulut si nenek. Hidung si nenek renta bisa dipersepsikan sebagai dagu si wanita muda. Apabila Anda dapat melihat keduanya (wanita muda dan nenek renta) tanpa perlu penjelasan terlebih dahulu, selamat. Artinya tingkat imajinasi Anda cukup tinggi. Kalau Anda tidak bisa melihat salah satunya, mungkin video berikut bisa membantu Anda melihat keduanya: https://www.youtube.com/watch?v=7f1G6Nx5VDw

Masih banyak contoh ilusi-ilusi optik lainnya yang berkaitan dengan persepsi. Contoh konkret yang pernah viral di internet dan media sosial adalah fenomena The Dress. Mungkin Anda sudah pernah mendengar tentang fenomena tersebut, di mana terjadi perbedaan persepsi akan warna sebuah gaun: biru dan hitam atau emas dan putih. Saking viralnya, di internet banyak orang yang ribut sampai-sampai bertengkar, antara tim “blue and black” dan tim “gold and white”. Masing-masing tim saling menuduh bahwa tim lainnya buta warna, penipu, pranking joke, dan bahkan idiot.

white gold dress

Jika Anda belum tahu mengenai kejadian tersebut, coba lihat gambar di atas. Warna apakah yang anda lihat? Beberapa orang akan menjawab biru dan hitam, sedangkan beberapa lainnya akan menjawab emas dan putih. Kenapa bisa begitu? Ini hanyalah masalah bagaimana masing-masing individu mempersepsikan warna dan juga chromatic adaptation.

Ketika Anda melihat sesuatu, warna suatu benda dipengaruhi oleh pencahayaan di sekitarnya (fotografer pasti tahu tentang masalah white balance ini). Ketika Anda berada di ruangan dengan pencahayaan oleh lampu kuning, benda berwarna putih akan menjadi sedikit berwarna kuning. Tetapi otak Anda bisa secara otomatis mempertimbangkan cahaya di sekitarnya dan mempersepsikan warna tersebut sebagai putih, bukan kuning.

Itulah yang membuat Anda bisa memberdakan warna dan melihat suatu benda. Tanpa persepsi warna dan chromatic adaptation, Anda akan kebingungan dalam melihat suatu benda karena Anda tidak akan bisa membedakan warna suatu benda yang sama setiap kali pencahayaan ruang berubah.

Pada foto tersebut, pencahayaan kuning dalam ruangan mengakibatkan warna hitam baju terlihat kekuningan dan warna biru terlihat sedikit lebih muda keputihan. Beberapa orang akan otomatis mempersepsikan lingkungan dengan pencahayaan kuning. Sementara itu, sisanya mempersepsikan baju pada pencahayaan putih sehingga melihat warna emas dan putih.

Saya sendiri melihat gaun tersebut sebagai emas dan putih. Beberapa orang bisa melihat kedua pewarnaan tersebut dengan mengubah persepsinya. Sama seperti Anda mungkin bisa melihat bebek dan kelinci pada gambar pertama. Hal itu dikarenakan Anda masih bisa dengan mudah mengganti persepsi Anda.

Sayangnya, gambar gaun tersebut melibatkan banyak faktor dalam proses persepsi. Akibatnya, banyak orang (termasuk saya sendiri) tidak bisa mengubah persepsi mereka untuk melihat baju tersebut dengan warna lain selain yang mereka lihat pertama kali.

Apa warna gaun tersebut sebenarnya? Warna aslinya adalah hitam biru. Untuk penjelasan lengkapnya mengenai fenomena ini, Anda bisa melihat video berikut: https://www.youtube.com/watch?v=jexnhNfOzHg

Kasus-kasus di atas hanyalah beberapa contoh sederhana mengenai persepsi. Tetapi bagaimana persepsi terbentuk dan seberapa besar pengaruhnya? Saya akan membahasnya lebih lanjut di post berikutnya.

Up next: (2/3) Perception can be Deceiving. Stay tuned 🙂

Oktober 2015
FH @ Perspektif
All Rights Reserved

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s