The Mind-Controlling Parasites: 404 Free Will Not Found

Perdebatan mengenai ada atau tidaknya free will memang belum juga berakhir, meskipun neurosains telah membuktikan bahwa kita tidak sebebas yang kita pikirkan. Ada begitu banyak aspek yang memengaruhi perilaku kita, yang sebagian besar tak kita sadari. Salah satunya, mungkin, adalah parasit yang berada dalam tubuh Anda.


Beberapa jenis parasit dapat menyebabkan perubahan perilaku inangnya. Perubahan perilaku ini biasanya bertujuan untuk membantu transmisi, penyerapan nutrisi, dan hal-hal lain yang menguntungkan si parasit. Hal ini sering berakhir pada kematian inang.

Salah satu parasit yang demikian adalah cacing rambut (Nematomorpha). Dalam siklus hidupnya, cacing rambut memiliki masalah; ia biasanya menginfeksi serangga-serangga darat seperti jangkrik atau belalang, tetapi parasit ini hanya dapat bereproduksi di dalam air. Sebagai jalan keluar, cacing itu pun memanipulasi jangkrik inangnya, membuatnya bergerak mendekati air (sungai atau danau) dan melompat ke dalamnya. Saat kontak dengan air, cacing tersebut akan segera keluar dari badan jangkrik dan melanjutkan siklus hidupnya, sementara si jangkrik tenggelam dan mati.

Contoh parasit lainnya adalah Toxoplasma gondii. Mungkin Anda sudah pernah mendengar mengenai penyakit toksoplasmosis yang berbahaya bagi ibu yang sedang hamil. Tetapi masih sedikit yang mengetahui bahwa T. gondii juga memiliki kemampuan untuk mengontrol perilaku inangnya.

Berdasarkan suatu studi, tikus yang terinfeksi dengan T. gondii tidak menunjukkan perbedaan fisik yang signifikan. T. gondii memanglah parasit yang tidak menunjukkan gejala infeksi yang jelas pada inangnya (asymptomatic). Tetapi apabila diteliti perilakunya, tikus yang terinfeksi terlihat lebih berani mendekati kucing dan bahkan tertarik dengan tempat-tempat yang berbau kucing. Hal ini jelas menjadikan tikus tersebut sasaran yang empuk bagi kucing. Apabila kucing memakan tikus tersebut, T. gondii dalam tubuh tikus pun masuk ke dalam tubuh si kucing dan melanjutkan siklus hidupnya (kucing adalah inang utama T. gondii).

Sementara itu, pada manusia infeksi T. gondii dapat menyebabkan peningkatan extraversi dan penurunan conscientiousness (cenderung santai, kurang berorientasi tujuan, dan kurang ambisius; lebih mungkin terlibat dalam perilaku antisosial dan kriminal) (Lindová et al., 2012). Mereka juga menunjukkan kinerja psikomotor yang cenderung buruk. Hal ini mungkin menjelaskan bagimana mereka yang terinfeksi memiliki risiko lebih tinggi mengalami kecelakaan, baik ketika mengemudi maupun di tempat kerja (Alvarado-Esquivel et al., 2012; Flegr et al., 2002; Kocazeybek et al., 2009; Yereli et al., 2006).

Beberapa studi bahkan menemukan hubungan antara T. gondii dengan skizofrenia. Dalam studi mereka, para peneliti menemukan bahwa:

  • Infeksi T. gondii mengakibatkan kerusakan astrosit (sel glial yang mengelilingi dan membantu kerja neuron). Skizofrenia juga berhubungan dengan kerusakan astrosit.
  • Ibu hamil dengan kadar antibodi terhadap T. gondii yang tinggi memiliki kemungkinan besar melahirkan anak yang menderita skizofrenia.
  • Sel manusia yang dikembangkan dalam cawan petri yang terinfeksi T. gondii akan bereaksi terhadap haloperidol (obat antipsikotik yang biasa digunakan untuk merawat penderita skizofrenia), yang mengakibatkan pertumbuhan T. gondii terhenti.

Bagian paling mengerikan dari T. gondii adalah tingkat penyebarannya yang sangat tinggi. Diperkirakan 2-3 miliar orang terinfeksi parasit tersebut. Angka yang cukup fantastis, bukan?


Nah, sedikit tips untuk pecinta kucing. Ada langkah-langkah yang bisa Anda lakukan agar terhindar dari infeksi T. gondii:

  • Pastikan litter box kucing Anda diganti setiap hari. Hal ini karena parasit tersebut baru dapat menular sekitar 1-5 hari setelah menempel pada feses kucing.
  • Peliharalah kucing Anda di dalam rumah.
  • Jangan adopsi kucing jalanan sembarangan.
  • Jangan biarkan kucing Anda makan makanan mentah (apalagi kalau kucingnya berburu tikus, waduh!)

Tetapi bukan berarti kalian yang tidak memelihara kucing sudah pasti aman dari infeksi T. gondii lho. Infeksi parasit tersebut bisa terjadi tanpa harus ada kontak langsung dengan feses kucing. Infeksi bisa terjadi akibat memakan makanan yang belum matang (atau menggunakan peralatan makan atau memasak yang sebelumnya sudah terkontaminasi akibat kontak dengan daging mentah), meminum susu sapi atau susu kambing yang tidak diproses, memakan buah yang belum dibersihkan, dan lain-lain. Singkatnya, kebanyakan infeksi terjadi akibat kurangnya kehati-hatian dalam menjaga kebersihan dan memakan makanan yang tidak higienis.

So, kalau ga mau jadi budaknya parasit, mulai jaga kebersihan ya 🙂

(PS: tentang foto di atas, itu cuma gambaran iseng admin saja. Ngebayangin kalau parasit berevolusi dan menjadi jauh lebih advanced, serem juga kalau sampai jadi kayak di foto itu :v)

28 April 2016
Freyja
All Rights Reserved


Reference:

http://jeb.biologists.org/content/216/1/127.long

http://wwwnc.cdc.gov/eid/article/9/11/03-0143_article

http://www.cdc.gov/parasites/toxoplasmosis/gen_info/faqs.html

http://www.iflscience.com/brain/brain-changes-which-could-help-explain-parasites-mind-manipulation-discovered

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s