​Inteligensi: Tunggal atau Majemuk?

Apa itu inteligensi? Bisakah kita mengukurnya? Apakah inteligensi merupakan sifat biologis atau konstruk sosial? Pertanyaan-pertanyaan mengenai inteligensi, khususnya inteligensi manusia, telah mengundang perdebatan dan menuai kontroversi di kalangan biologis, neurosaintis, dan psikolog. Ada berbagai teori yang diajukan oleh para saintis untuk menjelaskan inteligensi. Sebagian besar teori-teori tersebut jatuh kepada dua pemikiran utama: inteligensi tunggal dan inteligensi majemuk. Di artikel ini, kita akan membahas mengenai dua pemikiran tersebut.


Inteligensi Tunggal

Teori inteligensi tunggal menyatakan bahwa ada suatu faktor, dinamakan g factor, yang dapat menggambarkan secara umum seberapa inteligen seseorang. Faktor ini dapat diukur oleh tes IQ dan diklaim berkorelasi positif dengan kesuksesan seseorang dalam hidup.

Teori inteligensi tunggal pertama kali dipopulerkan oleh Charles Spearman, seorang psikolog berkebangsaan Inggris, pada tahun 1904. Dia melakukan sebuah penelitian yang ia publikasikan dalam American Journal of Psychology di tahun tersebut. Dalam penelitiannya itu, ia menerapkan sebuah teknik yang dinamakan analisis faktor ke dalam data skor IQ sekumpulan siswa dan anak-anak. Apa itu analisis faktor?

Analisis faktor adalah sebuah teknik dalam statistik untuk mengukur tingkat variasi dalam variabel-variabel yang berhubungan satu sama lain, dengan hipotesis kita dapat mengurangi jumlah variabel-variabel tersebut. Sebagai contoh, bisa saja variasi dari lima buah variabel hanya merefleksikan variasi dari dua buah variabel lain. Ketika Charles menerapkan teknik ini pada data respondennya, ia menemukan bahwa siswa yang mendapatkan skor tinggi pada beberapa kemampuan kognitif tertentu seperti matematikal, visual, dan memori juga mendapatkan skor tinggi pada kemampuan kognitif yang lain. Begitu juga sebaliknya. Hasil ini mensugestikan adanya faktor umum yang menggambarkan inteligensi seseorang secara keseluruhan. Ia menamainya g factor dengan g untuk “general”.

Pada tahun 2007, Jung & Haier mempublikasikan studinya tentang teori pemetaan inteligensi yang mereka sebut sebagai “Parieto-Frontal Integration Theory” atau teori P-Fit. Teori ini diklaim telah membuktikan adanya basis biologis dalam inteligensi.  Dalam penelitiannya, Jung & Haier mempelajari hasil 37 jenis brain imaging dari 1557 sukarelawan. Mereka berhasil memetakan inteligensi dalam otak dengan menggunakan tes IQ dan berbagai metode brain imaging seperti MRI (Magnetic Resonance Imaging) dan PET (Positron Emission Tomography). Temuan Jung & Haier dianggap memperkuat teori inteligensi tunggal karena keterkaitan antara g factor dengan seberapa efektif koneksi neuron antara bagian-bagian tertentu pada lobus frontal dan parietal dalam otak. Penelitian ini secara tidak langsung mengartikan inteligensi sebagai ukuran keefektifan koneksi neuron di antara region-region tersebut.

Selain mendapatkan dukungan, teori inteligensi tunggal juga mendapatkan berbagai kritik. Salah satu kritik yang kerap diterima teori ini adalah tidak adanya konvensi umum mengenai pengertian inteligensi, sehingga tes IQ tidak dapat dijadikan acuan untuk mengukur hal tersebut. Tes IQ juga dianggap bias dan tidak memperhitungkan faktor-faktor seperti gender, pendidikan, dan budaya. Terlebih lagi, ada yang menganggap teori inteligensi umum dan penggunaan tes IQ dapat menimbulkan efek negatif karena bersifat menstigmatisasi dan melabeli tingkat inteligensi seseorang. Jika seseorang mendapatkan skor IQ rendah misalkan, ada kemungkinan dia menganggap dirinya memang tidak cerdas. Hal ini dapat memicu hilangnya rasa percaya diri dan tidak termaksimalkannya bakat dan potensial dari orang tersebut.


Inteligensi Majemuk

Teori Inteligensi Majemuk adalah teori yang membagi-bagi inteligensi manusia ke dalam berbagai modalitas yang independen terhadap satu sama lain. Teori ini pertamakali dikemukakan oleh Howard Gardner pada tahun 1983 dalam bukunya Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. Dalam bukunya tersebut, ia mengartikan inteligensi sebagai potensial biopsikologi untuk memproses informasi yang dapat diaktifkan dalam keadaan budaya tertentu, serta dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah atau membuat suatu produk yang bisa dihargai masyarakat. Ia membagi modalitas inteligensi ke dalam 9 kategori: musikal-ritmik, visual-spasial, verbal-linguistik, logikal-matematikal, bodi-kinestetik, intrapersonal, interpersonal, naturalistik, dan eksistensial. Gardner mengkritik keras penggunaan tes IQ sebagai alat ukur utama dalam menilai inteligensi seseorang. Menurutnya, tes IQ terlalu menekankan pada modalitas inteligensi verbal, spasial, dan matematikal serta mengabaikan modalitas-modalitas yang lain. Lebih jauh lagi, ia menyatakan bahwa sebenarnya setiap orang mempunyai kemampuan dalam tiap-tiap modalitas, namun seiring dengan bertambahnya umur, ada modalitas inteligensi yang terasah dan ada yang tidak, tergantung pada stimulus internal dan lingkungan seseorang.

Salah satu bukti untuk teori inteligensi majemuk adalah hilangnya kemampuan kognitif seseorang saat terkena cedera otak. Sebagai contoh, orang-orang yang kehilangan bagian tertentu dari otaknya dapat mengalami kesulitan berbicara atau hilangnya kemampuan menghitung. Menurut Gardner, ini adalah tanda bahwa otak manusia bekerja secara uniform ketika melakukan tugas-tugas kognitif kompleks, dengan setiap bagian otak memiliki tugas untuk memproses jenis informasi tertentu. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat dikaitkan hanya pada bagian otak tertentu saja, namun keseluruhan otak dengan fungsi yang berbeda-beda. Dari situlah ia lalu membuat teori inteligensi majemuknya.

Teori inteligensi majemuk mendapatkan banyak dukungan, terutama dari kalangan pendidik. Teori ini dianggap memiliki implikasi yang positif di bidang pendidikan. Salah satu alasannya adalah karena pendekatan inteligensi majemuk dalam kelas membuat pendidik dapat memfasilitasi kebutuhan pribadi siswa dalam belajar, mengingat fakta bahwa setiap siswa berpikir dengan cara yang berbeda-beda. Berbagai studi yang telah dilakukan mengenai penerapan teori inteligensi majemuk dalam pendidikan menyimpulkan bahwa siswa mengalami peningkatan performa dalam belajar, baik secara nilai ujian maupun antusiasme, saat metode tersebut diterapkan.

Namun selain mendapatkan dukungan, sebagaimana teori inteligensi tunggal, teori inteligensi majemuk juga mendapatkan berbagai kritik. Salah satu diantaranya adalah kurangnya bukti empirik yang mendasari teori inteligensi majemuk. Hal ini karena sifat dari teori Gardner sendiri yang memang sulit diuji dengan fasilitas dan peralatan yang ada sekarang. Selain itu, Gardner dan para peneliti lain di bidang inteligensi manusia masih belum sepakat sepenuhnya tentang pengertian inteligensi. Beberapa peneliti menganggap pengertian Gardner terhadap inteligensi terlalu berfokus pada fungsi manusia dalam masyarakat daripada bagaimana otak belajar dan menyerap informasi.


Kesimpulan

Otak manusia adalah organ yang amat kompleks. Bahkan Michio Kaku, seorang fisikawan terkenal, mengatakan bahwa otak manusia adalah organ terkompleks di alam semesta yang kita ketahui. Otak manusia dewasa memiliki 100 miliar neuron, dan setiap neuron terhubung dengan 1000 sampai 10.000 neuron lain. Menjadi tantangan tersendiri bagi saintis, untuk memetakan fungsi neuron-neuron tersebut dan memahami sepenuhnya cara kerja otak manusia. Oleh karena itu, wajar saja jika terdapat perbedaan pendapat di kalangan saintis untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi dalam otak, termasuk perbedaan teori dalam menjelaskan inteligensi seperti yang telah kita bahas. Kedua teori di atas memiliki bukti dan lingkup penerapan yang cukup kuat dan beragam. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengeliminasi salah satu dari kedua teori tersebut dan benar-benar memahami bagaimana inteligensi bekerja pada manusia dan makhluk hidup lain.

Taufiq Murtadho
KAIST
@ Perspektif
All Rights Reserved


Referensi:

Gottferdson, Linda. (1998) The General Intelligence Factor. Scientific American, Inc.

Spearman, C. (1904). General intelligence, Objectively Determined and Measured. American Journal of Psychology, 15, 201-293.

Wikipedia. Factor Analysis. https://en.wikipedia.org/wiki/Factor_analysis

Jung, Rex dan Haier, Richard. (2007) The Parieto-Frontal Integration Theory of Intelligence: Converging Neuroimaging Evidence. USA: Behavioral and Brain Sciences.

Boundless (2016). Boundless Psychology. Retrieved from https://www.boundless.com/psychology/textbooks/boundless-psychology-textbook/intelligence-11/measuring-intelligence-62/controversies-in-intelligence-and-standardized-testing-241-12776/

Gardner, Howard. (1983) Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. New York: Basic Books.

Paik, Han. Personality Research (1998).  http://www.personalityresearch.org/papers/paik.html

 Armstrong, Thomas. (2009) Multiple Intelligences in the Classroom 3rd ed. Alexandria, VA: Association for Supervision and Curriculum Development.

Sumber gambar: https://d267cvn3rvuq91.cloudfront.net/i/images/ai_0.jpg?sw=1500

Advertisements

One thought on “​Inteligensi: Tunggal atau Majemuk?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s