Luck: What makes a good fortune?

Kenapa ada orang yang berturut-turut mendapatkan durian runtuh, sedangkan orang lainnya yang berturut-turut jatuh tertimpa tangga? Kebetulan? Memang ada benarnya keberuntungan hanyalah random chance dan “kebetulan” seperti apa yang diyakini kebanyakan skeptis. Tetapi kalau ditilik lebih jauh sebenarnya masih ada faktor lainnya yang menentukan nasib baik loh.

Bukan, ini bukan tentang “The Secret”-nya Rondha Bryne, atau penjelasan mengenai kekuatan pikiran ala “Law of Attraction”, itu hoax dan pseudoscience. Bukan juga tentang astrologi, ramalan, takdir atau karma. Di sini kita akan membahas pandangan mengenai keberuntungan dari sudut pandang lain.

Serendipity adalah kesempatan atau “kecelakaan” tiba-tiba yang menghasilkan hal baik atau keberuntungan dalam hidup seperti kebetulan ketemu jodoh ketika nganterin nyokap ke pasar, kebetulan ditawari beasiswa ketika nemenin temen ke education fair, atau tiba-tiba menang undian besar, dan sebagainya. Orang yang beruntung lebih sering mendapatkan serendipity ini dibandingkan orang yang bernasib sial. Kenapa? Karena orang yang beruntung memiliki beberapa karakteristik yang membuat mereka beruntung.

Richard Wiseman, psychologist, menghabiskan waktu tahunan untuk meneneliti mengenai keberuntungan dan masalah serendipity ini. Kesimpulan dari penelitiannya, ternyata orang yang selalu berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat dimana keberuntungan terjadi, hanyalah orang yang lebih pintar melihat kesempatan tersembunyi (hidden opportunity) atau menciptakan kesempatan dari event tertentu.

Pada salah satu eksperimen sederhana yang dia lakukan, dia mengumpulkan lebih dari 700 subjek dan memisahkan mereka kedalam kategori nasib buruk dan nasib baik, berdasarkan pendapat para subjek mengenai nasib hidup mereka masing-masing. Dia lalu menyuruh para subjeknya untuk menghitung berapa banyak total gambar pada sebuah koran. Dalam koran tersebut dia menyelipkan pesan dihalaman kedua “BERHENTI MENGHITUNG – ADA 43 GAMBAR DI KORAN INI!”. Para subjek dalam kategori nasib baik, ternyata lebih mudah menemukan tulisan tersebut dibandingkan subjek bernasib buruk yang harus menghabiskan waktu untuk menghitung secara manual. Wiseman menaruh pesan lainnya di salah satu halaman bagian belakang yang bertuliskan “Berhenti menghitung sekarang, beritahu peneliti anda menemukan pesan ini dan menangkan £250” Sekali lagi banyak subjek dari kategori nasib buruk melewatkan kesempatan ini sedangkan mayoritas yang bernasib baik berhasil menemukan pesan ini dan mendapatkan £250.

Riset lainnya dari University College London yang mencari kesamaan pola dari kisah-kisah orang yang mengalami serendipity. Dari cerita seorang wanita yang ketemu jodohnya akibat menaiki kereta api yang salah, hingga seorang kakek yang mendapatkan impiannya mengendarai motor Harley setelah bercakap-cakap dengan orang asing di Café. Menurut Dr. Stephann Makri, ternyata ada kesamaan pola dari kisah-kisah tersebut yang mengindikasikan keberuntungan tidak hanya sekedar “kebetulan”.

“Pertama, mereka menemukan adanya kesempatan tersembunyi. Lalu mereka mengambil kesempatan dan bereaksi sesuai keadaan.”

“Ketika bertemu dengan seorang teman lama dijalanan yang tiba-tiba memberikan Anda tawaran pekerjaan, beberapa hal harus terjadi” Makri menjelaskan. “Pertama Anda harus menyadari dia teman lama Anda (menyadari ‘kesempatan’ – pen). Lalu Anda berhenti dan menyapa, meskipun Anda mungkin sedang sibuk. Lalu Anda mungkin harus follow up kembali ke depannya.”. Singkatnya serendipity mengandung unsur “random” diluar kemampuan kita, tetapi kita sendiri harus memiliki kemampuan untuk melihat kesempatan yang datang dan berani bertindak. Ingin menjadi beruntung? Berikut beberapa kumpulan trik dan saran dari beberapa pakar:

 


Kesempatan ada dimana saja, lihatlah “hint” disekitar Anda

Wiseman berkata, “Orang yang sial secara umum lebih tense dan mudah gugup dibandingkan orang yang beruntung dan rasa gugup ini menghalangi kemampuan mereka untuk melihat hal yang unexpected”. Itulah kenapa dalam penelitiannya, orang bernasib buruk tidak mampu melihat pesan rahasia yang disisipkan di koran karena mereka terlalu fokus pada menghitung gambar sehingga mereka tidak melihat kesempatan yang datang.

Orang yang beruntung lebih memiliki relaxed approach terhadap kehidupan mereka. Mereka lebih santai dan tidak mudah stress dengan keadaan. Selain itu, mereka juga lebih flexible dalam hidup mereka. Kepribadian inilah yang menjadi keunggulan mereka dalam melihat ‘kesempatan-kesempatan’ tersembunyi di sekitar yang siap untuk diambil. Terkadang dalam hidup kita memang banyaknya masalah yang harus diatasi dari masalah pekerjaan, mengejar deadline proyek, menjemput anak di sekolah, masalah percintaan, hingga masalah simple seperti apa yang akan kita masak untuk makan malam.

Hal-hal ini membuat kita lebih tense dan terlalu fokus dengan masalah-masalah tersebut sehingga kita lupa untuk melihat ‘hint’ disekitar kita yang berpotensi menjadi serendipity ini. Tidak jarang ‘hint’ ini hanyalah event kecil yang terlihat tidak bermanfaat. Orang-orang yang bernasib baiklah yang mahir dalam melihat ‘hint’ kecil ini dan bertindak. Ketika Anda menemukan ‘hint’ ini, maka bertindaklah. Tidak ada salahnya Anda menyapa teman lama yang Anda temui di jalan, atau berhenti sejenak ketika melihat seseorang terlihat tersesat, atau mungkin pergi ke sebuah pesta yang sepertinya membosankan. Meskipun terlihat seperti tidak bermanfaat, siapa tahu keberuntungan sedang menanti Anda.

 


Take risk! Be open to new things

Ketika kita dihadapkan pada kesempatan, maka ambillah kesempatan tersebut. Terkadang orang yang tidak beruntung adalah orang yang memiliki mental “menghindar” atau “peragu” ketika dihadapkan pada kesempatan tertentu. Sebanyak apapun kesempatan, jika Anda tidak mengambilnya ya percuma saja.

Inilah salah satu kriteria penting yang dimiliki orang bernasib baik, “openness”. Dalam penelitiannya, Wiseman melihat bahwa orang yang sering mengalami keberuntungan dalam hidupnya merupakan orang yang lebih terbuka terhadap hal-hal baru dan berani bertindak. Orang bernasib buruk merupakan makhluk yang suka rutinitas. Mereka cenderung menggunakan rute yang sama ketika bepergian, hang-out dengan orang-orang yang sama, melakukan kegiatan dan habit yang sama, jarang bepergian ketempat baru.

Sedangkan orang yang beruntung, menurut Ben Fletcher, psychologist dari University of Hertfordshire, mereka lebih bisa menciptakan variasi dalam hidupnya. Mereka biasanya lebih terbuka dan berani mencoba hal-hal baru. Perilaku seperti ini meningkatkan probabilitas kesempatan yang akan datang ketika kita menciptakan variasi baru. Hal baru ini tidak perlu sesuatu yang wah dan besar, bisa saja hanya hal kecil seperti mengganti rute perjalanan anda, menyapa orang yang sering anda temui di jalan setiap pagi, mencari hobi baru, atau bahkan sekadar keluar cari angin berjalan-jalan sekitar daerah rumah.

 


Tingkatkan probabilitas Anda

Ya, keberuntungan hanyalah masalah probabilitas. Tapi kita masih bisa meningkatkan probabilitas tersebut dengan menempatkan diri kita di situasi atau tempat dimana kesempatan lebih mungkin terjadi. Orang beruntung pintar dalam hal ini.

Jika kita sering bermain di laut, secara tidak langsung kita meningkatkan probabilitas kita untuk mengalami kesialan diserang ikan hiu atau mati tenggelam. Hal ini juga berlaku untuk keberuntungan. Dengan sering bermain di laut, kita meningkatkan probabilitas kita untuk bertemu cewek seksi berbikini yang bisa jadi potensi jodoh kita atau kesempatan mendapatkan pengalaman seru seperti surfing, diving, jetboating, bertemu lumba-lumba dan sebagainya dibandingkan jika kita hanya diam di rumah.

Ingin mendapatkan kerja? Enggak ada salahnya Anda mendatangi job fair, menemani ayah Anda dalam perjalanan bisnisnya, mendaftar internship, menjadi sukarelawan atau mengikuti gathering komunitas tertentu. Kesempatan Anda akan lebih besar dibanding sekedar melihat iklan lowongan kerja saja.

 


Positive attitude!

Ketika dihadapkan pada masalah buruk, orang bernasib baik lebih mahir menjadikan hal tersebut sebagai suatu hal yang baik (turn bad breaks into good fortune). Sikap mereka yang lebih relaxed dan easy going juga membuat mereka cenderung lebih “tahan banting”, tipe yang mudah “shrug it off” (cuek) ketika dihadapi kegagalan. Berdasarkan pengamatan Wiseman, orang yang extrovert dan outgoing juga cenderung lebih beruntung. Dengan memiliki banyak kenalan, mereka secara tidak langsung memperbesar probabilitas munculnya kesempatan baru.

 


Luck is in your hand. Instead of waiting for luck to come, you have to look for it and keep an eye for any hidden opportunity that might arise. Because you DO make your own luck! Banyak kesempatan yang siap Anda ambil diluar sana kalau saja Anda jeli melihatnya.

Dalam hidup itu, menurut pengalaman saya, opportunity itu memang banyak banget. Saya sendiri sadar, meskipun saya berhasil mendapatkan beberapa kesempatan baik, cukup banyak juga hidden oportunity yang saya “miss“. Salah satu serendipity yang mungkin paling berdampak bagi saya adalah kejadian yang berawal dari salah satu teman menunjukkan brosur mengenai kesempatan tinggal di luar negeri. Dari sana, kejadian ini menimbulkan efek kupu-kupu (efek dari kejadian kecil yang menyebabkan perubahan besar di kemudian hari – pen) yang membawa saya pada beberapa impian-impian masa kecil saya. 5 tahun kemudian saya berhasil mendapatkan status penduduk tetap di luar negeri. Yes, I consider myself as a lucky person 🙂

Mungkin ada perspekter yang bersedia berbagi pengalaman serendipity yang berhasil mengubah nasib kamu?

 

Desember 2015
FH @ Perspektif
All Rights Reversed


Sumber gambar: http://www.incimages.com/uploaded_files/image/ 1940×900/four-leaf-clover-luck-1940x900_35783.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s