Menganalisis Cerita Hoax Ateis Mualaf

Mungkin sudah banyak para pembaca yang mengerti cerita viral yang sudah banyak tersebar di dunia maya, yaitu cerita ateis yang bertanya pada seorang muslim hingga si ateis terdiam dan akhirnya menjadi mualaf.

Berikut ini adalah ringkasan ceritanya.


Pemuda itu menjawab satu per satu pertanyaan sang ateis:

  1. Apakah engkau tahu, dari angka berapakah angka 1 itu berasal? Sebagaimana angka 2 adalah 1+1 atau 4 adalah 2+2?? Ateis itu diam membisu. “Jika kamu tahu bahwa 1 itu adalah bilangan tunggal. Dia bisa mencipta angka lain, tapi dia tidak tercipta dari angka apapun, lalu apa kesulitanmu memahami bahwa Allah itu Zat Maha Tunggal yg Maha Mencipta tapi tidak bisa diciptakan?”
  2. Saya ingin bertanya kepadamu, apakah kita ketika dalam perut ibu, kita semua makan? Apakah kita juga minum? Kalau memang kita makan dan minum, lalu bagaimana kita buang air ketika dalam perut ibu kita dulu? Jika anda dulu percaya bahwa kita dulu makan dan minum di perut ibu kita dan kita tidak buang air di dalamnya, lalu apa kesulitanmu mempercayai bahwa di Surga kita akan makan dan minum juga tanpa buang air
  3. Pemuda itu menampar sang ateis dengan keras sampai sang ateis marah dan kesakitan. Sambil memegang pipinya, sang ateis pun marah-marah kepada pemuda itu, tapi pemuda itu menjawab: “Tanganku ini terlapisi kulit, tanganku ini dari tanah dan pipi anda juga terbuat dari kulit dari tanah juga, lalu jika keduanya dari kulit dan tanah, bagaimana anda bisa kesakitan ketika saya tampar? Bukankah keduanya juga tercipta dari bahan yg sama, sebagaimana Syetan dan Api neraka?

Sang ateis itu, untuk ketiga kalinya, terdiam…

Sahabat, pemuda tadi memberikan pelajaran kepada kita bahwa tidak semua pertanyaan yg terkesan mencela/merendahkan agama kita harus kita hadapi dengan kekerasan. Dia menjawab pertanyaan sang ateis dengan cerdas sehingga sang ateis tidak mampu berkata-kata lagi atas pertanyaannya.

Itulah pemuda yg Islami, pemuda yg berbudi tinggi, berpengtahuan luas, berpikiran bebas, tetapi tidak liberal… tetap terbingkai manis dalam indahnya Aqidah


Cerita di atas mungkin sudah berulangkali kita baca atau dengarkan dari dunia maya. Sayang sekali, terkadang dalam cerita yang kontras hitam-putih seperti itu, selalu ada yang dijadikan tokoh “protagonis” yang harus menang (muslim dalam cerita tersebut), dan tokoh “antagonis” yang harus kalah (ateis dalam cerita tersebut). Namun, mungkin anda bertanya-tanya, pernahkah seorang ateis yang asli bertanya demikian? Atau mungkin pernahkah seorang ateis langsung bergeming dan menjadi mualaf setelah mendengar jawaban muslim tsb? Klaim tanpa bukti bisa dibuat oleh siapa saja. Banyak cerita hoax yang seringkali dicocok-cocokan dengan filsafat, matematika, atau bahkan sains (fakta ilmiah), agar banyak orang Indonesia tetap teguh pada imannya, walaupun bertentangan dengan logika mereka.

Nah, alangkah lebih baiknya sekarang kita lebih berpikir kritis dengan menganalisa jawaban muslim tersebut.

LET’S GO!


Berikut ini adalah jawaban dari tiga orang ateis asli (ex-Islam, ex-Kristen Buddha, dan ex-Katolik) yang sudah dirangkum menjadi satu:

Pertama :
Angka 1 masih bisa tercipta dari dua angka 0.5, dari log 10, dari 0 faktorial, dan lain sebagainya. Kalau Tuhan diibaratkan sama dengan 1, berarti Tuhan bernilai kecil, masih dapat dibagi lagi, dan hanya terdapat di atas kertas. Lagipula, matematika tidak bisa memberikan bukti yang empirik. Kita tidak akan pernah melihat 2 atau 4 atau 7 di kehidupan nyata, namun kita menggunakan angka dan bilangan untuk merepresentasikan jumlah sesuatu hal karena angka hanyalah sebuah konsep berhitung.

Jadi, kita tidak bisa membuktikan eksistensi suatu hal apapun itu hanya dengan matematika, termasuk Tuhan. Sebuah bukti dapat disebut sebagai bukti, apabila bukti tersebut dapat dideteksi, diamati, dan diukur secara objektif di dunia nyata. Itulah mengapa matematika tidak termasuk ke dalam sains. Natural Science (fisika, kimia, biologi, dan sebagainya) dan Social Science (ekonomi, hukum, geografi, politik, sosiologi, dan sebagainya) butuh observasi dan experimen, matematika tidak.

Sederhananya:
Menyamakan Tuhan dengan angka atau bilangan, sama saja dengan mengatakan bahwa Tuhan yang Anda percayai itu hanyalah konsep buatan manusia yang tidak dapat dibuktikan secara objektif dan empirik. Konsep yang hanya bisa diterapkan sebagai coret-coretan atau hitung-hitungan di atas kertas dan buku belaka. Jadi muslim di cerita tersebut sebenarnya ingin menjawab,“saya tidak tau siapa yang menciptakan Allah.”, hanya saja dia mencoba memilintirnya ke dalam konsep bilangan dan matematika. Sayang sekali, permainan kata-katanya terhadap angka tetap tidak membuat jawabannya menjadi bernilai benar.

Kedua :
Just to let you all know. Bayi dalam kandungan itu bisa buang air.

Untuk pipis/buang air kecil, bayi buang air kecil ke dalam amniotic fluid atau air ketubannya sendiri, yang pada akhirnya bisa ditelan dan dicerna kembali oleh sang bayi. Ya, setiap manusia yang hidup pernah meminum dan mencerna air pipisnya sendiri saat masih berada di dalam kandungan. Untuk buang air besar, ya, bayi biasanya tidak BAB melalui anus di dalam kandungan karena sistem pencernaan mereka belum berkembang dengan benar. Akan tetapi ekskresi bayi disalurkan melalui plasenta dan dikeluarkan oleh sang ibu.

Oh dan terkadang, bayi juga mengakumulasikan sejumlah kecil “fetal poop” bernama meconium yang mengandung sel-sel mati yang biasanya ikut keluar pada saat ibu bersalin. Untuk beberapa kasus, bayi bisa BAB ke dalam air ketuban sehingga mengubah warna air ketuban menjadi hijau. Dokter akan lebih hati-hati pada saat membantu melahirkan bayi, karena cairan tersebut dapat terhirup si bayi dan menyebabkan bayi terkena radang paru-paru.

Jadi, pernyataan bayi tidak buang air ketika di dalam kandungan itu salah.

Sederhananya:
Alangkah lebih baik mempelajari natural science seperti biologi atau embriologi sebelum menjawab pertanyaan dengan ngawur dan terkesan memaksa karena hanya akan membuat Anda terlihat bodoh.

Ketiga :
Setiap orang normal dapat merasakan rasa sakit karena adanya pain receptor dan nervous system. Tubuh kita mempunyai sistem syaraf yg bisa mengirim sinyal rasa sakit dari pain receptor menuju ke otak kita. Jadi, bukan karena sama-sama terbuat dari tanah atau sama-sama terbuat dari api lantas rasa sakit itu menjadi ada dan terasa. Kerja nervous system itu sendiri sebenarnya bisa dimanipulasi sehingga Anda tidak dapat merasakan sakit, seperti diberikan pain killer maupun anesthesia (obat bius/ anesthetic). Sedangkan, pada saat di neraka (menurut kitab suci agama yang bersangkutan), raga ini sudah tidak ada, hanya roh saja yang ada di neraka / akhirat. Maka pertanyannya menjadi, apakah roh juga mempunyai pain receptor dan nervous system yang sama seperti raga ini?

Dalam Quran dan Hadist manapun, tidak pernah ada deskripsi roh juga mempunyai pain receptor dan nervous system seperti raga manusia. Sedangkan dalam natural science, neraka, iblis, dan roh tidak terbukti ada. Jadi, jawaban yang diberikan oleh si muslim diatas dapat disebut sebagai Hoax karena mengasumsikan bahwa roh itu ada dan juga mempunyai pain receptor serta nervous system sama seperti raga manusia.

Sederhananya:
Alangkah lebih baiknya mengamati dan melakukan percobaan terlebih dahulu terhadap suatu hal sebelum mengambil kesimpulan. Membuat kesimpulan ngawur (bahwa roh juga mempunyai pain receptor dan nervous system sama seperti raga manusia) sebelum mengamati dan melakukan percobaan terhadap roh itu sendiri, dinamakan OMDO atau omong doang. Setiap orang yang tidak berilmu juga bisa omong doang.


Sahabat, para ateis memberikan pelajaran kepada kita agar kita seharusnya senantiasa belajar terlebih dahulu sebanyak-banyaknya dan agar tidak membiasakan kebiasaan menggunakan perumpamaan yang tidak berhubungan, serta memutarbalikkan fakta untuk membuktikan sesuatu yang tidak ada.

Inilah ateis yg berbudi tinggi, berpengetahuan luas, berpikiran bebas dari dogma manapun tapi tetap bermoral… tetap terbingkai manis dalam indahnya kemanusiaan.

SEBARKAN SAINS, LAWAN HOAX!

October 2015
DJ Silvershare and FH @ Perspektif
All Rights Reserved.


Sumber gambar : http://thevoopreview.com/wp-content/uploads/2016/03/hoax.jpg

Advertisements

19 thoughts on “Menganalisis Cerita Hoax Ateis Mualaf

  1. Kata siapa ga nyambung? Menunjukkan kalau manusia bisa merasakan sakit justru menunjukkan kemungkinan bahwa walaupun bahan dasarnya(tanah) tidak merasa sakit, jika susunan kimianya berubah menjadi struktur saraf jadi bisa merasa sakit. Nah sekarang bayangkan seseorang yang bertanya “mana mungkin kristal dapat melakukan perhitungan seperti manusia?”, kemudian ketika disodorkan komputer orang tersebut langsung menyanggah dan bilang “itu tidak berhubungan, komputer tidak memiliki otak yang terbuat dari neuron, sedang kuarsa tidak memiliki neuron apalagi otak. Anda hanya menghindari pertanyaan”. Kelihatan miripnya? Kenapa harus memaksakan analisis ke api? Bukannya malah pola pikir seperti itu yang menghindar? Malah kedengarannya seperti sarkasme strawman salah satu admin. Sekalian saja tolak mekanika kuantum/relativistik dengan mekanika klasik.

    Udah dikasih contoh yang menunjukkan kalau bahan dasar yang strukturnya diubah bisa memiliki sifat yang baru, kok malah ngotot balik ke mikirin bahan dasar? Ini udah zaman designed material lho, bukan zaman batu lagi.

    Katanya sebarkan sains, kok pola pikirnya berlawanan dengan kemajuan ya?

    SEBARKAN SAINS ASLI, LAWAN SAINS ABAL-ABAL!

    Like

  2. Bagian Ateisnya masuk Islam gaada ya? Kesannya diam = mualaf

    Soal api ga punya saraf, emang tanah punya? Kenapa ga membandingkan tanah dengan api atau jin dengan manusia? Kenapa manusia harus dibandingkan dengan api? Sama aja membandingkan jin dengan tanah.

    “Tanah hanya sekedar campuran mineral dan bahan organik, jadi mana bisa merasakan sakit. Therefore manusia tidak mungkin merasa sakit. CHECKMATE MUSLIM DJINNS!”

    Like

  3. Tulisan ini dicompile oleh Silvershare (admin lama Perspektif) dari jawaban saya FH (meski saya sebenarnya tidak mengasosiasikan diri saya sebagai ateis) dgn beberapa jawaban tambahan dari sumber laennya.

    Saya hanya ingin klarifikasi saja sekalian menjelaskan jawaban ketiga yg menurut saya dalam artikel belum benar2 ‘menjawab’. Pada cerita steis vs cendikiawan muslim versi aslinya diceritakan bahwa si ateis bertanya:

    “3. Ini pertanyaan ketiga, kalau iblis itu terbuat dari Api, lalu bagaimana bisa Allah menyiksanya di dalam neraka?? Bukankah neraka juga dari api??”

    Lalu dijawab:
    “3. Pemuda itu menampar sang atheis dengan keras. Sampai sang atheis marah dan kesakitan. Sambil memegang pipinya, sang atheis-pun marah-marah kepada pemuda itu, tapi pemuda itu menjawab : “Tanganku ini terlapisi kulit, tanganku ini dari tanah..dan pipi anda juga terbuat dari kulit dari tanah juga..lalu jika keduanya dari kulit dan tanah, bagaimana anda bisa kesakitan ketika saya tampar?? Bukankah keduanya juga tercipta dari bahan yg sama, sebagaimana Syetan dan Api neraka??”

    Nah, jawaban saya sebenarnya kulit memiliki pain receptor dan tubuh kota punya nervous system dimana pain reseptor akan mengirimkan signal pada otak yg akan ditranslate menjadi rasa sakit oleh otak. Kita bisa memanipulasi proses ini dengan mematikan pain reseptor, memanipulasi nervous system, atao proses pengolahan rasa sakit di otak, maka rasa sakit tidak akan kita rasakan. Sedangkan api itu adalah hasil reaksi kimia combustion, bukan suatu materi atau bahan. Pertama, api bukan materi pembentuk sesuatu seperti karbon dsb. Bagaimana api bisa merasakan rasa salit toh api tidak memiliki sistem syaraf dan sensor tertentu untuk merasakan sakit.
    Jawaban pemuda sholeh yg nenampar si ateis dan menggunakan perumpamaan kulit vs kulit (dengan menampar) sama dengan api vs api (syetan n neraka) tidak menjawab pertanyaan sama sekali. dia tidak menjelaskan tapi menghindari pertanyaan dgn menggunakan kasus laen yg enggak berhubungan. Dan dgn menampar seseorang itu bukanlah suatu hal yg terpuji.

    Saya memang menyadari di artikel diatas kurang menjawab artikel aslinya mengenai ateis vs cendikiawan muslim. Semoga jawaban saya memberi penjelasan lebih 🙂

    Sekian…

    – FH

    Like

  4. “Sedangkan dalam natural science, neraka, iblis, dan roh tidak terbukti ada”, saya menyanggah pernyataan ini, yang belum terbukti blm bisa ditarik sebuah kesimpulan bahwa hal tersebut benar2 tidak ada. Karena manusia memiliki keterbatasan.

    Like

    1. Umm, bisa kok ditarik kesimpulan. Tapi kesimpulannya pun bersifat sementara. Maksudnya, ketika nanti terdapat bukti bahwa roh itu ada, baru kesimpulan ini bisa disalahkan. Berarti kesimpulan ini bisa difalsifikasi, dan ga ada hal yang salah dengan itu. Karena ya memang untuk sekarang ini belum terbukti.

      Like

    2. berarti superman, spiderman dan naga belum tentu tidak ada ya. sebab sesuai logika anda -” yang belum terbukti blm bisa ditarik sebuah kesimpulan bahwa hal tersebut benar2 tidak ada. Karena manusia memiliki keterbatasan.”_

      Like

      1. Ketika suatu objek belum bisa dibuktikan secara empiris maka objek itu tidak bisa diakui atau disangkal eksistensinya.
        Menyamakan tuhan dgn naga dsb hanyalah permainan kata agar terkesan tuhan itu tidak nyata.
        Bagaimana dengan hal2 yg masih menjadi misteri bagi sains. Scientist akan menjawab hal yg sama, kita belum mampu memahaminya. Seiiring dgn perkembangan sains hal tsb akan terjawab.
        Seperti itulah permainan kata.

        Like

      2. Dulu gelombang gravitasi belum ada buktinya, apa bisa membuat keputusan seolah final bahwa gelombang itu tidak ada?

        Ironisnya, menggunakan tokoh komik itu perbandingan yang gak nyambung, yang di komen admin dibilang sesuatu yang tidak menjawab & menghindari pertanyaan

        Like

  5. I agree with your statement, but did you post this article to show your racism? Dalam alquran disebutkan, manusia di neraka itu tidak hidup, tidak juga mati. Karena tidak mungkin manusia masih hidup merasakan siksa neraka, tetapi manusia tidak mati kalau bisa merasakan. Jadi tolong author juga pelajari quran sebelum menulis ini!

    Like

  6. Sayang sekali, terkadang dalam cerita yang kontras hitam-putih seperti itu, selalu ada yang dijadikan tokoh “protagonis” yang harus menang, dan tokoh “antagonis” yang harus kalah.

    Inilah ateis yg berbudi tinggi, berpengetahuan luas, berpikiran bebas dari dogma manapun tapi tetap bermoral…

    Like

    1. Ya, sayang sekali dalam analisis seperti ini harus ada “roh memiliki pain receptor dan nervous system” yang harus kalah, padahal tidak ada dalam cerita.

      Inikah ateis yg berbudi tinggi, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas?

      Like

  7. Dalam Quran dan hadits kan disebutkan kalau roh mengalami rasa sakit. Kelihatannya seolah pura2 itu gaada, terlalu memaksa. Kalau gitu Anda membaca kata2 saya ini cuma hoax gara2 gaada gelombang suara dong? Pikiran kritis macam apa ini? Lebih mirip cocoklogi

    Like

    1. “agar tidak membiasakan kebiasaan menggunakan perumpamaan yang tidak berhubungan, serta memutarbalikkan fakta untuk membuktikan sesuatu yang tidak ada.”
      Ironis.

      Kalau sakit hati dan efek placebo gmn?

      Like

    2. Betul itu, bahkan di An-Nisa’:56 disebutkan kalau penghuni neraka punya kulit, yang diganti tiap hangus *agar merasakan azab*. Klaim Quran dan Hadits ga bilang gitu mirip kayak bilang “makhluk darat ga mungkin berevolusi dari makhluk laut karena tidak ada makhluk amfibi transisi”. Yang katanya Islamnya khatam mana nih?

      BTW santai mas, beritahu yg mereka tidak tahu ttep dengan cara yang baik:)

      Like

      1. Sederhananya:
        Alangkah lebih baiknya mengamati dan melakukan percobaan terlebih dahulu terhadap suatu hal sebelum mengambil kesimpulan. Membuat kesimpulan ngawur (bahwa di Quran dan Hadist tidak pernah ada deskripsi roh mempunyai pain receptor) sebelum mempelajari Quran dan Hadist itu sendiri, dinamakan OMDO atau omong doang. Setiap orang yang tidak berilmu juga bisa omong doang.

        Irony at its finest.

        Eh tunggu dulu, di bagian mana Muslimnya menyimpulkan bahwa roh juga mempunyai pain receptor dan nervous system sama seperti raga manusia? Bukannya dia cuma menunjukkan bahwa manusia yang berbahan tanah bisa merasakan sakit, lantaran sudah berwujud manusia? Seperti kata Avant-garde diatas, komputer ga harus punya otak neuron agar bisa berhitung. Buah pikiran siapakah keharusan roh punya organ manusia agar merasa sakit? Terdengar strawman fallacy sekali. Jadi siapa sebenarnya yang bikin asumsi & kesimpulan ngawur dan OMDO?

        Mengasumsikan hal2 yang tidak ada dalam cerita? Cek. Membuat kesimpulan soal Quran dan Hadist sebelum mempelajari dengan baik? Cek. Apa artikel ini juga dapat disebut hoax?

        Memang menanggapi cerita2 yang kita terima dengan cermat & kritis itu baik agar terhindar dari hoax, tapi jangan malah membuat “hoax” baru lagi. Kalau menganalisisnya dengan membuat asumsi strawman fallacy seperti itu, sia2 juga. Kesannya for the sake of acting smart. Yah, setidaknya bisa dijadikan bahan pelajaran.
        & refleksi diri. Namanya analisis juga bisa dianalisis lagi kan?

        Satu lagi , mungkin ini waktunya untuk mulai mengkritis & mempertanyakan sumber Anda belajar Quran dan Hadist.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s