Adakah Sisi Jahat Kafein dalam Kopi?

Di tengah-tengah semester, saat tugas sedang tak ada habisnya layaknya kasih seorang ibu, saya ditanya oleh seorang teman:

Sohib: “Bro, ayo ntar begadang nyelesain tugas makul X”

Saya: “Males, udah ngantuk banget nih”

Sohib: “Seloow ntar gw bawain kopi lampung biar nendang”

Betapa sudah menjadi “adat” apabila akan begadang maka hal pertama yang dicari adalah kopi, apa pun jenisnya (yang penting murah). Terlihat biasa, bukan? Namun, apakah Perspekter sadar bahwa di balik bantuannya, kopi ternyata memiliki sisi gelap.

Kandungan utama dalam kopi yang kita cari adalah kafein, yang merupakan substansi farmakologi aktif yang paling sering digunakan di dunia. Efek kafein terhadap tubuh berbeda-beda tergantung dari berbagai faktor, yakni dosis yang dipakai, sumber kafein itu sendiri, serta berat badan konsumen kafein.

Kata “kafein” berasal dari turunan bahasa Jerman, yakni kaffee yang artinya kopi. Struktur kafein sendiri baru dapat diidentifikasi pada tahun 1819 oleh ilmuwan berkebangsaan Jerman bernama Friedlieb Ferdinand Runge. Menurut legenda, kafein sudah sejak lama digunakan oleh para biksu biara Yemenite agar mereka dapat tetap terjaga selama berdoa pada tengah malam.

Kafein (1,3,7-trimethylxanthine) merupakan senyawa alkaloid yang dapat meningkatkan rangsangan terhadap sistem saraf simpatik. Perlu Perspekter tahu bahwa salah satu tanggung jawab sistem tersebut adalah mengontrol detak jantung dan pernafasan. Oleh sebab itu, acapkali sehabis mengonsumsi kopi denyut jantung akan terasa cepat. Itu adalah pertanda bahwa kafein sudah mulai bekerja dalam tubuh.

Sebenarnya, kafein berguna bagi tubuh apabila dosis penggunaannya tidak berlebihan. Dosis kafein yang sesuai dapat meningkatkan daya ingat, energi, serta kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar. Lalu, apa bahayanya? Tampak semua baik-baik saja gitu kok? Tenang, tenang. Setelah ini akan saya paparkan mengenai bahaya kafein.

Kafein dapat mempengaruhi mood. Pada penggunaan dosis rendah, kafein memang dapat meningkatkan kewaspadaan. Namun konsumsi kafein dalam dosis tinggi (250 mg dalam sekali konsumsi atau 3 mg per kilogram berat badan) dapat menimbulkan rasa cemas dan gelisah pada beberapa individu.

Kafein dikatakan mematikan apabila kandungannya dalam tubuh sudah mencapai 150-200 mg per kilogram berat badan. Bahkan, kafein sudah dapat menimbulkan keracunan apabila kandungannya dalam tubuh sudah mencapai 10-15 mg per kilogram berat badan.

Apakah kafein dapat membuat seseorang meninggal? Jawabannya adalah bisa. Pada akhir tahun 2015 di Tokyo dilaporkan bahwa seseorang meninggal akibat terlalu banyak mengonsumsi minuman berkafein. Hal tersebut diperkuat dengan keterangan tim forensik dari Universitas Fukuoka. Sebenarnya bagaimana kafein dapat menjadi racun bagi tubuh?

Kafein dapat menjadi racun bagi tubuh karena substansi tersebut dapat menyerang sistem kardiovaskuler tubuh secara langsung, yang akibatnya adalah peningkatan detak jantung serta meningkatnya serum kolesterol dan homosistein yang merupakan pemicu hipertensi. Selain itu, kafein dapat mengubah irama kontraksi otot jantung dan pembuluh darah serta dapat mengganggu transmisi saraf. Adapun rangkuman dampak kafein terhadap sistem kardiovaskuler tubuh adalah sebagai berikut:

caffeine

Lalu, bagaimana konsumsi kafein yang aman? Badan POM Indonesia—selaku lembaga yang berwenang meregulasi penetapan pedoman peredaran obat dan makanan—melalui surat keputusannya menetapkan bahwa batas konsumsi kafein maksimum adalah 150 mg/hari, dibagi minimal dalam tiga dosis. Berdasarkan hal tersebut, maka batas kandungan kafein dalam minuman adalah 50 mg per sajian. So, Perspekter harus berhati-hati apabila mengkonsumsi kafein. Selalu pastikan batasan-batasan konsumsi yang aman.


Wisnu Kusuma Atmaja
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
@ Perspektif
All Rights Reserved


Referensi:

“Japanese Man Dies after Daily Heavy Consumption of Caffeinated Beverages.” Japan Times. N.p., 21 Dec 2015. Web. 03 Aug 2016.

Caballero, Benjamin. Encyclopedia of Food and Health. Amsterdam: Academic, 2016.

Clark, Ian, and Hans Peter Landolt. “Coffee, Caffeine, and Sleep: A Systematic Review of Epidemiological Studies and Randomized Controlled Trials.” Sleep Medicine Reviews (2016).

Deus, Cláudia, Ana F. Branco, Paulo J. Oliveira, and Vilma Sardão. “Caffeine Cardiovascular Toxicity: Too Much of a Good Thing.” Coffee in Health and Disease Prevention (2015): 699-707. Web.

Glade, Michael J. “Caffeine—Not Just a Stimulant.” Nutrition 26.10 (2010): 932-38.

Purwanto, Setiyo. “Mengatasi Insomnia dengan Terapi Relaksasi.” Jurnal Kesehatan Volume I no 2 (2008):141-148.

Republik Indonesia. 2004. Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan No. HK.00.05.23.3644 Tahun 2004 tentang Ketentuan Pokok Pengawasan Suplemen Makanan. Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan. Jakarta.

Smith, A. “Effects of Caffeine on Human Behavior.” Food and Chemical Toxicology 40.9 (2002): 1243-255.

Wexler, Philip. Encyclopedia of Toxicology. San Diego, Ca: Elsevier/Academic, 2014.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s