Ironi Pembenci LGBT

Tulisan di bawah ini sepenuhnya diambil dari tulisan Arman Dhani di Facebook


Mari kita mulai dengan analogi. Jika saya membela seorang teroris untuk mendapatkan peradilan yang fair dan menolak hukuman mati padanya, apakah saya serta merta membenarkan tindak kriminal terorisme yang dilakukannya? Jika anda menganggap demikian, baiknya anda berhenti membaca tulisan ini lalu berdoa pada tuhan agar diberikan kinerja nalar yang lebih baik.

Sikap saya soal LGBT sudah saya tuliskan sebelumnya. Saya seorang muslim, masih mengaku muslim, dan semoga dianggap Muslim oleh Gusti Allah. Saya tidak bisa dan tidak akan membenarkan mereka, tapi saya meletakkan agama sebagai sesuatu yang personal dan hanya saya saja yang tahu.

Saya tidak akan memaksakan apa yang saya yakini pada orang lain, saya menganggap Homoseksualitas itu salah. Tapi dalam hal ini saya menganggap kelompok LGBT sebagai manusia yang punya hak setara terlepas orientasi seksnya. Dan saya meyakini surga dan neraka adalah hak milik Gusti Allah seorang.

Ada yang salah jika anda berpikir penggiat dan pembela HAM yang membela LGBT mendiamkan perilaku seks beresiko mereka. Jika anda pikir demikian, maaf apa kata yang tepat ya? Dungu? Tolol? Bebal? Pembela HAM tidak membela perilaku seks beresiko kelompok LGBT, tapi hak mereka untuk hidup dan mendapatkan perlakuan sama sebagai warga negara dan manusia beradab

Membela hak LGBT bukan membela perilaku seks beresiko yang mereka lakukan. Ini adalah logika yang picik dan cabul bisa dibangun oleh manusia yang mengaku beradab. Tidak semua hal dalam LGBT adalah tentang perilaku seks, ia bisa jadi soal ekspresi jender dan juga identitas seksual. Jika anda tidak tahu, baiknya bertanya pada yang tahu dan mencari tahu, bukan berkomentar asal jeplak.

Seseorang menulis artikel Ironi Penggiat LGBT. Inti dalam tulisan itu, jika saya tak salah paham, menggambarkan bahwa sebenarnya aktivis HAM sedang mengadvokasi perilaku seks LGBT. Seseorang dengan gelar intelektual dokter sepesialis saraf bahkan tidak mampu membedakan antara lesbian, gay dan biseksual sebagai orientasi seks interseksual dan transeksual sebagai kondisi biologis terkait tubuh seseorang. Lalu anda berharap kita bisa percaya tulisan yang ia bikin kredibel?

Perilaku seks yang dilakukan oleh Gay memang beresiko menyebabkan HIV/AIDS, hal serupa juga beresiko dialami oleh heteroseksual. LGBT bukan kata kerja, ia lema untuk menjelaskan satu kelompok seksual, jika dokter syaraf saja ga bisa paham lema ini, bagaimana ia mau menjelaskan sesuatu? Jika basis argumen yang dibangun saja sudah salah kaprah bagaimana ia mau berkotbah soal yang lain?

Kondisi transeksual dan interseksual tidak serta mereta membuat seseorang beresiko mendapatkan HIV/AIDS. Seorang hetero dan dengan jenis kelamin yang jelas pun dapat menderita HIV/AIDS jika ia menjalani hidup yang tidak sehat dan beresiko. Yang dibela oleh kelompok pegiat HAM, sekali lagi saya jelaskan, bukan aktivitas seksual mereka (itu wilayah privat dan tiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya) tapi hak dasarnya sebagai warga negara dan manusia.

Kelompok penggiat LGBT membela kelompok minoritas Lesbian, Gay, Biseksual, Interseksual dan Transeksual terkait hak seperti memperoleh pendidikan, mendapatkan akses pekerjaan, diperbolehkan tinggal, hidup secara aman, you know? Like a fucking decent human being! Jadi tolong tinggalkan otak cabul anda di rumah, penggiat HAM tidak sedang membela perilaku seks itu, tapi perlindungan dari diskriminasi, presekusi, ancaman kekerasan, ancaman pembunuhan, dan lainnya.

Wacana menyembuhkan LGBT juga menggelikan. Bagaimana cara menyembuhkan Interseksual? Bagaimana jika seseorang lahir dengan memiliki penis dan payudara? Jika ia tak ingin memilih jadi perempuan atau laki-laki siapa yang berhak menentukan jenis kelaminnya? Jika Interseksual dianggap sebagai “penyakit” ketimbang kelainan genetis, dan berpikir kondisi itu bisa disembuhkan, saya ga tahu dokter itu belajar soal kesehatan di mana.

Si dokter juga menyebutkan data dan seolah menunjukan bahwa HIV AIDS paling besar terjadi pada kelompok LGBT. Mau main data? Ayok.

Sebanyak 1.328 anggota TNI terjangkit HIV/AIDS, dan hingga 30 Juni 2015 tercatat 343 orang di antaranya meninggal dunia sumber ini resmi dari Wakil Komandan Lantamal IV/Tanjungpinang Kolonel Laut (P) Guntur Wahyudi. Apakah 1.328 itu adalah dari kelompok LGBT? Go figure.

Data kementerian Kesehatan menyebutkan Ibu rumah tangga menempati urutan terbesar orang dengan HIV-AIDS ODHA, menurut kelompok mata pencahariannya, sebanyak 9.096. Angka itu terungkap dalam laporan data kumulatif HIV-AIDS sepanjang tahun 1987 sampai dengan September 2015.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Menular Sigit Priohutomo mengatakan ibu rumah tangga rentan tertular HIV karena suaminya merupakan orang yang memiliki perilaku berisiko tinggi terkena HIV.

“Sekitar 4,9 juta dari mereka menikah dengan pria berisiko tinggi dan sebanyak 6,7 juta pria di Indonesia merupakan pembeli seks,” jelas Sigit.

Kata kunci ibu rumah tangga, menikah, pria pembeli seks. Masih butuh penjelasan? Mau ngomong moral? Atau kemunafikan?

Soal merawat korban HIV/AIDS? Hanya orang keji yang menggunakan keluarga untuk membenarkan kebencian terhadap satu kelompok rentan. Dengan atau tidak sakit HIV/AIDS keluarga akan secara sadar menjadi yang paling depan menjaga dan merawat mereka yang sakit. Ganti HIV/AIDS dengan salah diagnosis, mal praktik, keracunan obat, salah operasi, apakah dokter yang akan mendampingi 24/7? Tidak, tetap akan keluarganya.

Keluarga akan selalu ada dan menerima, sementara bigot berkembang biak dengan ketidaktahuan, kebencian tanpa alasan, dan ketidakmauan belajar mencari tahu di luar apa yang menurutnya benar.

Kelompok LGBT dijauhi karena masyarakat tidak tahu dan curiga atas mereka. Diperparah oleh pseudo intelektual-intelektual yang nulis ngasal tanpa pemahaman atas masalah. Dengan atau tanpa HIV/AIDS, kelompok LGBT dimusuhi karena kecurigaan: Mereka akan merayu keluarganya dan membuat mereka jadi LGBT, berpikir bahwa LGBT itu soal aktivitas seks.

Tidak semua kajian tentang Lesbian, Biseksual dan Gay soal aktivitas seksual. Beberapa komunitas LGBT mengajarkan soal agama sampai ada pesantren waria, beberapa mengkaji fenomena sosial di masyarakat seperti 5 gender di bugis dan relasi warok gemblak dan bahkan mairil dalam pesantren. Tidak tahu apa itu tadi? Jika anda tidak tahu, belajar, bukannya asal ngomong.

Oh iya, apakah tidak ada aktivis atau penggiat LGBT yang membela LGBT yang sekarat ketika kena HIV/AIDS ? Coba cek nama Vinolia Wakijo. Mungkin bisa menyelamatkan kita dari buruk hati dan kecurigaan.

Advertisements

One thought on “Ironi Pembenci LGBT

  1. Setuju dengan hak hidup mereka sebagai manusia, kalo ditindas terus, bukannya malah korbanisasi hingga makin menjadi2? Kapan sembuhnya?

    Agak geli juga sih dengan komentar soal “penyembuhan interseks”, soalnya selama ini yang mau disembuhkan bukan yang itu, tapi perilaku homo/biseksual mereka yang jenis kelamin fisiknya jelas. Menyamakan kondisi mental dengan kondisi fisik kesannya seolah memaksa. Polanya mirip dengan mencibir usaha penyembuhan kemalasan gara2 adanya orang koma, kemudian mengesankan bahwa kemalasan tidak dapat disembuhkan karena keduanya termasuk kategori “orang yang sulit meninggalkan kasur”, dan salah satunya alami.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s