Is MSG Misunderstood?

Sodium adalah bahan utama garam meja. Glutamat adalah komponen utama MSG (monosodium glutamat) yang dapat disamakan dengan asam glutamat, salah satu asam amino alami. Semua makhluk hidup mengandung glutamat, baik itu tomat, ASI, keju, jamur, kacang, dan seterusnya.

*ngiler*

Reputasi negatif MSG berawal dari surat seorang dokter bernama Robert Ho Man Kwok kepada New England Journal tahun 1960. Melalui surat tersebut, ia secara anekdotal melaporkan gejala yang ia alami setelah menyantap makanan Cina-Amerika. Kwok mengemukakan berbagai alasan yang munkgin di balik gejala tersebut, termasuk alkohol dari pemasakan dengan anggur, kandungan natrium, dan bumbu MSG. Tetapi hanya MSG yang menjadi pusat perhatian publik dan sejak saat itu gejala-gejala yang demikian mulai dikaitkan dengan MSG. Efek anggur atau kandungan garam tidak pernah dipelajari. Oleh sebab itu, sindrom ini disebut sebagai “Sindrom Restoran Cina”.

Ahli neurosains bernama John Olney kemudian melakukan studi dan eksperimen. Ia menyuntikkan MSG ke tikus laboratorium, dan hasilnya menunjukkan terjadinya gangguan terhadap perkembangan otak tikus itu.

Studi selanjutnya oleh John Fernstrom—profesor psikiatri, farmakologi, dan biologi kimia—menunjukkan bahwa studi tersebut mungkin saja cacat (flawed). Salah satunya adalah karena dosis MSG yang disuntikkan sangat tinggi. Selain itu, reaksi yang dialami tikus-tikus dalam eksperimen tersebut mungkin tidak merepresentasikan dampak konsumsi MSG karena tubuh manusia memperoleh MSG dengan cara dimakan dan dalam dosis kecil.

Pada tahun-tahun berikutnya, daftar gejala nonspesifik terus bertambah atas dasar anekdot. Dalam kondisi normal, manusia memiliki kemampuan memetabolisme glutamat karena toksisitas akutnya sangat rendah. Dosis letal oral untuk 50% subjek (LD50) adalah 15-18 g/kg berat badan pada tikus dan mencit, lima kali lebih besar daripada LD50 Garam (3 g/kg pada tikus). Karena itu, asupan MSG sebagai zat tambahan makanan dan tingkat alami asam glutamat pada makanan bukanlah persoalan toksikologis pada manusia.

Sebuah laporan dari Federation of American Societies for Experimental Biology (FASEB) yang disusun pada tahun 1995 atas nama United States Food and Drug Administration (FDA) menyimpulkan bahwa MSG aman bila “dikonsumsi pada tingkat yang sesuai”. Meskipun tampaknya ada sebagian kelompok orang yang terlihat sehat yang mengalami reaksi berupa sindrom kompleks MSG ketika mengonsumsi 3 g MSG tanpa makanan, hubungan sebab-akibatnya oleh MSG belum ditetapkan karena daftar sindrom tersebut hanya didasarkan pada testimoni.

Laporan tersebut juga menyatakan bahwa tidak ada data yang mendukung pengaruh glutamat dalam penyakit kronis dan penyakit yang melemahkan. Percobaan klinis multicenter double-blind yang terkontrol tidak memperlihatkan hubungan antara sindrom kompleks MSG dengan konsumsi MSG pada individu yang diyakini bereaksi negatif terhadap MSG. Tidak ada kaitan statistik yang terlihat; hanya ada sedikit respons yang kemunculannya tidak konsisten. Gejala-gejala tersebut tidak teramati ketika MSG diberikan bersama makanan.

Kontrol yang memadai diperlukan untuk mencegah bias eksperimen. Salah satunya adalah desain eksperimen double-blind placebo-controlled (DBPC). Dalam studi yang dilakukan oleh Tarasoff dan Kelly (1993), 71 peserta yang berpuasa diberikan 5 g MSG dan kemudian diberikan sarapan standar. Terdapat hanya satu reaksi, dan itu adalah terhadap placebo pada individu yang mengaku sensitif terhadap MSG.

Dalam studi lain yang dilakukan oleh Geha dkk. (2000), reaksi 130 subjek yang melaporkan diri sensitif terhadap MSG diuji. Berbagai percobaan DBPC dilakukan dan hanya subjek dengan sedikitnya dua gejala yang dilanjutkan. Hanya dua orang dari keseluruhan studi yang memberikan respons pada keempat percobaan yang dilakukan. Karena prevalensi yang rendah, peneliti menyimpulkan bahwa respons terhadap MSG tidak dapat direproduksi.

Penelitian lainnya yang mempelajari apakah MSG menyebabkan obesitas memberikan hasil beragam. Ada beberapa penelitian yang menyelidiki kaitan anekdotal antara MSG dengan asma, namun bukti saat ini tidak mendukung adanya kaitan sebab-akibat apa pun.

Karena glutamat merupakan neurotransmiter penting dalam otak manusia—yang memainkan peran penting dalam pembelajaran dan ingatan, sebuah penelitian sedang dilakukan oleh neurolog tentang kemungkinan efek samping MSG dalam makanan. Tetapi tidak ada penelitian final yang menggambarkan hubungan apa pun.


Australia dan Selandia Baru

Food Standards Australia New Zealand (FSANZ) mengutip “bukti yang sangat berlimpah dari sejumlah besar penelitian ilmiah” untuk menolak secara tersurat segala kaitan antara MSG dengan “reaksi negatif serius” atau “efek jangka panjang”, dan menyatakan bahwa “MSG aman untuk masyarakat umum”.

Namun, badan tersebut menguraikan bahwa pada kurang dari 1% penduduk, individu yang peka dapat mengalami efek samping sementara seperti “sakit kepala, mati rasa/perasaan geli, kemerahan, kekakuan otot, dan kelemahan umum” terhadap sejumlah besar MSG yang diasup dalam satu hidangan tunggal. Orang-orang yang menganggap dirinya sensitif terhadap MSG dianjurkan untuk memastikan hal ini melalui penilaian klinis yang benar.


Amerika Serikat

FDA menganggap label seperti “Tanpa MSG” atau “Tanpa Tambahan MSG” sebagai kampanye menyesatkan jika makanan mengandung bahan yang merupakan sumber glutamat bebas, seperti protein terhidrolisis. Pada tahun 1993, FDA mengusulkan penambahan frase “(mengandung glutamat)” pada nama umum atau biasa dari hidrolisat protein tertentu yang mengandung sejumlah besar glutamat.

Dalam bukunya yang berjudul On Food and Cooking versi tahun 2004, penggemar makanan dan pengarang Harold McGee menyatakan bahwa “[setelah banyak penelitian], toksikolog telah menyimpulkan bahwa MSG merupakan bahan yang tidak berbahaya bagi sebagian besar orang, dalam jumlah besar sekali pun.”

Dan saatnya kita mengatakan bahwa…

kampanye anti MSG hanyalah pembodohan atas dasar mitos!

Credit to Mei


Source:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/9215242/

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/8282275/

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/11080723/

http://en.wikipedia.org/wiki/Monosodium_glutamate

www.compoundchem.com/2014/08/25/msg/

www.theguardian.com/commentisfree/2009/aug/12/msg-allergy-chinese-restaurant-syndrome-myth

www.businessinsider.com/msg-allergy-doesnt-exist-2013-8

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s