Pemberitaan Indonesia: Artikel ini bikin kamu, apalah, ngga bisa bikin tercengang.

Coba deh sekarang kamu buka Youtube di komputer, scroll ke bawah, lalu ganti kolom negara jadi United Kingdom atau US. Apa yang terjadi?

Lumayan tuh walaupun yang terlihat terkadang malah video Katy Perry, rekomendasi lainnya biasanya mulai dari BBC sampai dengan TED. Asik ngga?

Say bye terhadap video “Lucu, orang ini nyemplung di kali 3 kali sehari”, “Syahrini pergi jalan-jalan ke Zimbabwe”, atau “Orang ini nyanyi smule sambil ngent*t, akhirnya jadi bur*n”.

Lalu, kamu bisa pergi ke Play Store, download program berita macam CNN, BBC News, The Guardian, atau mungkin Business Insider. Terus kamu buka deh. Kamu bandingkan headline news mereka dengan yang disajikan portal berita Indonesia. Kelihatan ngga bedanya? Kalau kamu bilang berita-berita luar sana ngga seru, coba saja ikuti terus US Election. Lumayan seru kok, orang Kanada malah suka ngikutin itu.

Oh, satu lagi. Coba kamu baca-baca OA macam Interseksionalisme, Curiosity, dan Agnostik Indonesia, lalu bandingkan dengan OA dengan quote bejibun yang membuat post tiap sepuluh menit  dan sering bikin baper. Berasa ngga bedanya?

Coba seminggu saja lakukan tiga hal di atas. Saya yakin kalian akan tahu bedanya.

Lalu, kenapa saya membicarakan hal tersebut?


Entahlah, saya cuma sedang asik scroll di 9Gag. Setiap lihat iklan, iklannya hanya menjual portal berita Indonesia dengan judul berita yang ngalor-ngidul, entah “Perempuan ini kurung anaknya karena main Pokemon Go”, atau “Lelaki ini Mati diskakmat sama Istri”. Bosen ngga sih?

Baru kemarin saya mengunjungi Line Today dan mendapati judul berita seperti ini: “Misteri Tangan yang Merangkul Artis RS di Foto Instagramnya”. Lalu, keluar tuh foto-fotonya serta komentar yang menyatakan adanya tangan dengan posisi aneh di pinggang si artis. Lalu, ada juga komentar dengan nada netral bilang: “Itu tangannya kak RS sendiri kok”.

Pertanyaannya, KENAPA HAL BEGINI JUGA DIJADIKAN BERITA?

Memangnya Laut Cina Selatan harus punya Instagram baru bisa dijadikan berita?

Memangnya Turki harus menampilkan penampakan tangan agar diberitakan di Indonesia?

Memangnya kasus pemasungan Indonesia mesti punya ‘5 kasus pemasungan tercantik’ supaya orang bisa peduli?

Ada sih… iya ada beritanya. Tapi bandingkan deh, lebih banyak berita itu atau berita artis NS pingsan melihat mantan pacar suaminya datang? Atau masalah berita pengakuan artis R bahwa A adalah pacarnya? Bahkan berita itu ngga akan memengaruhi Filipina untuk menarik tindakan yang diambil negara tersebut baru-baru ini.

 


Sadar atau tidak, kita mungkin lebih sering melihat artikel sejenis yang tadi saya ceritakan, walaupun kalau kita buka Kompas atau Jakarta Post kita bisa menemukan berita yang lebih serius. Ngga, saya di sini bukan mau menyela bagaimana pihak sana melakukan tugasnya. Ini hanya sekedar analisis kecil-kecilan.

Pertanyaan saya: Mengapa berita yang disuguhkan lebih banyak seperti itu?

Apa mungkin hal tersebut  dilakukan oleh pihak jurnalis untuk mengalihkan masalah Indonesia sebenarnya? Wah, kalau begitu berat juga kasusnya yak.

Tetapi apa mungkin hal tersebut terjadi akibat permintaan pasar yang demikian? Bahwa sebagian besar dari penikmat berita di Indonesia lebih menikmati paparan berita yang seperti tadi?

Akan tetapi, sekali lagi, kenapa?

Apa sebagian besar rakyat Indonesia lebih sering terpapar acara-acara sinetron atau pertunjukan artis lokal yang membuat mereka menggemari beberapa artis? Lalu ada media-media seperti acara gosip untuk menyalurkan rasa ingin tahu kita mengenai orang-orang yang kita suka? Akhirnya merambah ke portal-portal berita yang ada? Jauh juga ya dampaknya.

Tetapi bukankah mereka seperti itu juga karena permintaan pasar?

Lalu di mana letak akar masalahnya? Apa mungkin kita sendirilah yang membuat media seperti itu? Memunculkan banyak sinetron-sinetron anak muda yang terkadang tidak realistis, membuat banyak acara gosip, acara komedi atau apalah itu namanya (itu, acara yang setiap pembawa acaranya bisa cerita masalah pribadinya sesuka hati), membuat banyak artikel dari masalah artis hingga bagaimana cara menjadi langsing dalam tiga hari.

Apakah mungkin  keyword yang selama ini kita cari lebih sering menanyakan hal tersebut? Jika benar, maka selera kitalah yang bermasalah. Daripada mengurusi nasib negara yang mau perang, mungkin kita lebih suka yang ringan-ringan saja seperti video orang jungkir balik di kandang sapi. Daripada diajak menganalisis suatu gejala sains, kita mungkin lebih memilih membaca quote galau cinta yang terkadang irelevan dengan kehidupan sehari-hari kita.

Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan sebagian besar dari kita seperti itu akibat kurangnya pendidikan yang diberikan. Mungkin juga kita tidak terbiasa dilatih untuk ingin tahu mengenai hal-hal besar yang terjadi di dunia. Mungkin juga… kita hanya sudah terbiasa dengan berita yang ada. Akarnya tak kunjung ditemukan.

Haha, mungkin kita sedang berada di lingkaran setan dan rasanya mendobrak kebiasaan dengan kebiasaan baru dapat membantu kita keluar dari lingkaran ini. Pertanyaan saya hanya satu: “Apa kamu mau?”

Kalau memang mau, mungkin banting stir sedikit seperti contoh di awal cerita saya bisa membantumu.

 

Agustus 2016
Jester @ Perspektif
All Rights Reserved


Sumber gambar: http://b.fastcompany.net/multisite_files/fastcompany/imagecache/1280/ poster/2015/10/3051795-poster-p-1-fast-company-is-hiring-a-senior-editor-for-news.jpg

Advertisements

One thought on “Pemberitaan Indonesia: Artikel ini bikin kamu, apalah, ngga bisa bikin tercengang.

  1. Bener banget, seolah olah sosmed yg punya berita di timelinenya skrg seperti dimanfaatin buat pengalihan isu krn Indonesia adalah salah satu pengguna terbanyak sosmed tsb. Berita gak penting, gak mencerahkan dan gak up to date ttg berita luar negeri (kecuali entertainment, yang disoroti lebih ke sospolekokumham) jadi lesu aja bacanya.

    Nyindirnya ngena sih, apalagi LCS harus punya instagram :v

    Jadi kesannya kaya ngebikin si pembaca wawasannya jadi gak mutu.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s