​Are there benefits of self-deception/delusion?

“Lebih baik menerima kenyataan pahit daripada kebohongan/delusi yang menentramkan.”

Inilah salah satu perkataan yang cukup terkenal yang memotivasi seseorang untuk menerima kenyataan sepahitnya kenyataan tersebut. Semua orang setuju bahwa kita harus mencari kebenaran.
Orang yang memilih kebohongan yang menentramkan hanyalah orang-orang yang delusional. Dan orang-orang yang delusional ini sedang membohongi dirinya sendiri dan dianggap gila. Dalam dunia medis sekalipun terdapat kelainan mental yang disebut sebagai psychotic disorder seperti psychogenic illness, delusional parasitosis, schizophrenia, dan penyakit-penyakit lainnya yang memang berhubungan dengan delusi.

Pada kenyataannya (the hard truth is), kita semua sering berdelusi tanpa kita sadari. Memang semua orang yang berdelusi tidak akan pernah menyadari akan delusinya. Penderita schizophrenia akut sekalipun tidak pernah menganggap dirinya gila, meski klaimnya yang terkesan tidak masuk akal dari bertemu dengan doraemon, hingga diculik alien.

Ya, semua orang berdelusi. Delusi yang saya maksud bukanlah delusi akut seperti terbang ke langit ketujuh atau membelah gunung karena jika Anda berdelusi seperti ini Anda mungkin perlu kunjungan ke RSJ. Delusi yang saya maksud lebih “subtle”, delusi mengenai kepercayaan tertentu atau persepsi yang bisa dibilang unrealistic bagi sebagian orang lainnya. Dalam batas-batas tertentu delusi ini memiliki keuntungan dan tidak jarang merupakan sesuatu yang menyelamatkan kita, yang membuat kita waras.
Seberapa realistisnya kita, seberapa objektifnya kita, kita tidak bisa lepas dari subjektifitas, unrealistic belief, dan cognitive bias. Selogikanya kita, kita memiliki kepercayaan atau prior belief dan persepsi mengenai realita sekitar kita. Dan tidak jarang, persepsi yang kita miliki terhadap realita, tidak lebih baik dari orang yang sering kita anggap “unrealistic” atau bahkan “gila” karena pandangannya yang kita anggap ‘aneh’.

Contoh saja self-enhancement bias. Berapa orang yang menganggap dirinya jahat? Hampir semua orang selalu menganggap dirinya baik atau lebih unggul dibandingkan orang lainnya. Salah satu penelitian di UCLA membuktikan hal ini. Periset melakukan survei pada 25.000 orang dan menemukan bahwa lebih dari 70% dari mereka menganggap dirinya lebih baik dari orang lain. Hampir semua orang menganggap dirinya di atas rata-rata. Jelas tidak mungkin semuanya di atas rata-rata karena untuk sebagian orang berada di atas rata-rata harus ada sebagian lagi yang berada di bawah rata-rata.

Lalu ada yang disebut dengan optimism bias, kecenderungan manusia untuk menganggap dirinya akan baik-baik saja ketika dihadapkan pada masalah yang ada. Seperti seorang perokok yang menganggap dirinya akan menjadi minoritas perokok yang selamat dari kanker, atau pengendara mobil yang menganggap dirinya tidak akan celaka ketika kebut-kebutan di daerah rawan kecelakaan, atau mungkin seseorang yang merasa yakin bisnisnya akan berkembang di masa krisis ekonomi. Meskipun data menyuguhkan hal yang berbeda, kita dengan tidak realistis tetap yakin bahwa kita akan menjadi sebagian minoritas yang akan selamat dan pada akhirnya segala sesuatu akan menjadi baik.

Hindsight bias, atau disebut juga “I know it all along bias”, kecenderungan dimana kita sedikit “meyesuaikan” prediksi kita agar sesuai dengan informasi baru dan pada akhirnya mengklaim bahwa kita sudah memprediksi hal tersebut jauh sebelumnya. Contohnya adalah ramalan, atau “pertanda” (dari mimpi atau kejadian tertentu) dan tiba-tiba kejadian buruk benar terjadi. Lalu kita berusaha menghubungkannya dan mengklaim, “Saya memang sudah merasa bakal kejadian”. Hal ini sebenarnya memberikan kita a sense of control dan berkontribusi terhadap sedikit perasaan nyaman ketika dihadapkan pada situasi buruk.

Self-serving bias, dimana kita selalu menganggap diri kita berjasa terhadap hal-hal baik yang terjadi tetapi selalu menyalahkan faktor eksternal (situasi, kondisi, takdir, nasib, keberuntungan, suasana, atau orang lain) ketika hal buruk terjadi.

Ada pula confirmation bias, kecenderungan kita untuk melihat data atau informasi yang mendukung kepercayaan kita dan kecenderungan untuk mengindahkan informasi yang kontradiktif. Lihat saja bagaimana cocoklogi agama bekerja. Menurut saya itu adalah contoh paling nyata dari confirmation bias. Bukan hanya itu, para fans konspirasi teori, flat earth society, anti-GMO, alien believer, anti-vaksin hingga kaum pro-vegan sendiri sering melakukan confirmation bias. Mereka mempercayai dan mendukung informasi yang memperkuat “pahamnya” dan menolak atau mengindahkan informasi yang kontradiktif, terkadang dengan sikap tidak peduli akan kebenaran informasi tersebut. Tanya saja pro-vegan, mereka bisa memberikan segudang alasan kenapa Anda harus vegan, tetapi ketika ditanya efek negatif vegan biasanya mereka diam.

Ya, kita bisa saja menyangkalnya. Kita bisa bilang bahwa kita tidak demikian, kita rasional dan realistis. Tetapi cukup banyak riset yang membuktikan bahwa kita semua melakukan hal ini hampir setiap saat tanpa kita sadari, dan ironisnya, terkadang menganggapnya sebagai kebenaran.

Kesehatan mental well-being dan kebahagiaan hidup merupakan salah satu faktor yang mendukung kemampuan kita bertahan hidup. Memang terkesan kontradiktif, tetapi dalam batas tertentu, self-deception dan delusi bisa memberikan jaminan kesejahteraan, kenyamanan dan kebahagiaan hidup, meski ketika kita dalam situasi yang buruk sekalipun. Dengan menganggap segala sesuatunya akan lebih baik, menganggap kita lebih baik dari orang lain, orang lain lebih buruk dari kita, adanya purpose dalam hidup kita, dunia menjadi lebih baik karena keberadaan kita, dan lain sebagainya, terlepas dari benar atau tidaknya hal tersebut akan membuat kita menjadi lebih termotivasi untuk berkompetisi dalam hidup.

David McRaney, seorang journalist, psychology enthusiast, dan penulis buku You are Now less Dumb, menjelaskan bahwa: “Your wildly inaccurate self-evaluations get you through rough times and help motivate you when times are good. [Research shows] that people who are brutally honest with themselves are not as happy day to day as people with unrealistic assumptions about their abilities.
Sedangkan untuk orang yang benar-benar realistis cenderung lebih rentan terhadap depresi. Lauren Alloy dan Lyn Yvone, American Psychology Professor, menyebutnya dengan istilah “depressive realism”.
Hal ini masuk akal kalau kita pikir lebih jauh. Pemikiran yang terlalu analitikal dan logical, terkadang malah melumpuhkan kita, mencegah kita bertarung, melakukan hal-hal yang riskan meski dihadapkan pada imbalan yang besar pula. Sedangkan pemikiran yang sedikit delusional, instinct, dan cognitive-bias kita, mencegah kita untuk terlalu realistis sehingga kita memiliki kepercayaan diri untuk maju ketika dihadapkan pada suasana suram sekali pun.

Lagipula tujuan kita secara biologis, sama seperti spesies lainnya, memang untuk berkembang biak dan meneruskan gen kita untuk menjamin keberlangsungan spesies. Sudah sejak jaman leluhur kita tinggal di gua, spesies manusia selalu dihadapkan dengan kenyataan hidup seperti masa depan tak menentu, ketidakpastian hidup, kemisteriusan alam, kematian, kegagalan, predator, bencana alam, keputusan yang riskan, dan sebagainya. Untuk itulah leluhur kita menciptakan beberapa delusi ini sebagai alat untuk menghibur, membuatnya lebih nyaman, percaya diri dalam menghadapi hidup memenangi kompetisi survival mengalahkan 99.99% spesies makhluk hidup lainnya yang telah kalah bersaing dan punah sejak kemunculan pertama makhluk bersel satu sekitar 3.5 milyar tahun yang lalu.

Saya pikir dari kepercayaan mengenai kebaikan diri sendiri, kemampuan diri sendiri, kejahatan orang lain, hingga kehidupan setelah mati dan keberadaan suatu agen yang mengawasi kita serta membantu kita di saat susah, terlepas dari apakah kepercayaan ini sebuah kebenaran atau kebohongan, satu hal yang pasti adalah hal ini membuat kita melihat segala sesuatu dengan pendekatan yang lebih positif. Itulah kenapa terkadang akan sangat sulit bagi kita untuk menangkap delusi kita sendiri. Apalagi ketika delusi atau pandangan ini merupakan sesuatu yang memberi hidup kita makna, sesuatu yang membuat kita bangun di pagi hari dengan semangat baru untuk menghadapi keseharian kita.

Lagipula, manusia bukanlah spesies yang hanya menggunakan logika. Kita memiliki perasaan dan perasaan inilah yang lebih sering menjadi faktor utama, bukan logika. Saya sering mengatakan bahwa human is a feeling being first, logical being second.
Manusia selalu menganggap bahwa mereka selalu berpikir logis dan objektif sehingga mereka mampu membuat keputusan yang rasional. Kenyataannya justru sebaliknya, lebih sering manusia menggunakan perasaannya dalam menentukan, lalu merasionalitaskan keputusan tersebut setelahnya. Karena kita makhluk yang logislah, maka kita sangat mampu untuk menciptakan alasan yang terdengar logis untuk menjustifikasi pilihan dan keputusan yang telah kita buat.
Pada dasarnya, kita semua terkadang memiliki “kebohongan yang menentramkan” versi kita masing-masing. “Kebohongan” ini tidak selalu merupakan sesuatu yang buruk. Seperti apa yang pernah disampaikan oleh Michael Shermer, penulis buku ‘Why People Believe Weird Things’ bahwa kecenderungan manusia untuk mempercayai hal-hal tertentu yang terkadang aneh, berasal dari fungsi utama otak kita yaitu hard-wired survival skills. Tetapi sayangnya, hal ini pulalah yang juga bisa memberi efek buruk dan menimbulkan masalah besar pada kita.

So, is bitter truth better than comfortable delusion?

Januari 2016
FH @ Perspektif
All Rights Reversed

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s