Light Science (Part 1 of 2)

Melihat Dunia dari Sudut Pandang Sains


Ketika saya masih belia, orang tua saya selalu menekankan pentingnya untuk membaca. Kebetulan buku-buku yang bertemakan sainslah yang saya baca kala itu. Walaupun kebanyakan dari buku ini berisikan gambar-gambar saja, bagi saya hal kecil ini yang menuntun saya menjadi seorang yang gemar melihat dari sudut pandang sains.

Kemudian muncul pertanyaan, apa manfaatnya sih melihat segala sesuatu dari sudut pandang sains?

Hal pertama yang perlu diketahui adalah hampir semua benda di sekitar kita ini merupakan gejala-gejala alamiah yang bisa dijelaskan dalam sains dan bahkan memiliki aplikasi lebih lanjut. Jika kita melihat ke sekeliling, kita melihat langit berwarna biru, dedaunan berwarna hijau dan sebagainya. Mungkin bagi sebagian orang,  tidak penting mengetahui mengapa benda-benda itu memiliki warna.

Tetapi, Jika dilihat dari sudut pandang sains, Anda bisa mengetahui bahwa warna merupakan pantulan dari sumber cahaya. Ketika suatu benda terkena cahaya, semisal langit yang kita lihat, langit tersebut menyerap semua spektrum cahaya tampak kecuali spektrum warna biru. Cahaya tersebut kemudian dipantulkan dan sampai pada reseptor mata kita dan otak kita menerjemahkan cahaya itu sebagai warna biru.

Ketika kita sudah memahami penjelasan di balik fenomena tersebut, lalu apakah ada manfaatnya kita tahu tentang bagaimana warna benda diinterpretasikan? Tahukah bahwa ilmuwan mampu mengaplikasikan pengetahuan mengenai spektrum warna dalam berbagai hal, salah satunya dalam mengklasifikasikan spektrum warna pada bintang. Ilmuwan dapat mengelompokkan jenis-jenis bintang berdasarkan suhunya.

Setiap spektrum warna pada bintang memiliki karakteristik yang memberikan informasi mengenai temperatur pada bintang tersebut, yang diklasifikasikan menjadi tujuh kelas, O bintang biru (30.000-60.000 K), B bintang Biru keputihan (10.000-30.000K), A Bintang Putih (7.500-10.000 K), F Bintang kuninng keputihan (6.000-7.500 K), G Bintang kuning,matahari contohnya (5.000-6.000 K), K Bintang jingga (3.500-5.000 K), M bintang merah (<3.500 K).

Ketika ocehan ini mulai membuat kita bosan, pergi ke rumah kekasih merupakan pilihan yang tepat. Namun, dikarenakan rumah dia jauh, tersesatlah di jalan. Ternyata aplikasi Waze yang memanfaatkan GPS-lah yang menyelamatkan kencan pada hari itu. Lagi-lagi terpikirkah oleh kita bahwa dibalik GPS terdapat perhitungan yang menerapkan relativitas umum Einstein? Teori yang tampaknya hanya berguna bagi para ahli fisika ternyata dapat digunakan untuk membantu menentukan posisi kita sebenarnya dan pada peta agar kita tidak keliru dan tidak semakin tersasar.

Namun, apa sih implikasi langsung teori relativitas dengan sistem GPS? Sebelumya, satelit bekerja dengan cara mentransmisikan sinyal berupa gelombang mikro yang kemudian ditangkap oleh receiver GPS. Seperti yang kita ketahui, satelit mengorbit pada ketinggian sekitar 20.000 Km di atas permukaan bumi dan bergerak dengan kecepatan tetap. Di sinilah teori relativitas khusus dan relativitas umum bekerja.

Menurut teori relativistik khusus, waktu yang tercatat pada satelit tersebut menjadi lebih lambat daripada waktu menurut kita di bumi, singkatnya mengalami dilatasi waktu. Sedangkan menurut teori relativitas umum, waktu yang dialami objek ketika berada di ketinggian tertentu atau letaknya semakin jauh dari bumi (memiliki potensial gravitasi yang semakin besar) berjalan lebih cepat dibandingkan benda yang terletak lebih dekat dengan bumi. Di sinilah perhitungan relativitas berperan dalam mengoreksi tingkat akurasi dalam pengukuran posisi suatu objek.


Semua konsep sains ternyata bukanlah sebatas ocehan yang membuat orang awam akan bosan. Semua fenomena yang kita alami dapat diamati dari sudut pandang sains. Jika kita menggunakan kacamata sains, terlihat bahwa ide dari hal-hal sederhana dalam kehidupan kita memiliki potensi penerapan yang begitu besar bagi kehidupan kita. Tidak menutup kemungkinan, Dengan melihat dari perspektif  sains, dapat merevolusi cara berpikir kita dalam menjawab suatu tantangan di masa mendatang.

 

Galih W. Soerosoediro
Perspektif’s Kontributor
All Rights Reserved


Sumber:

http://www.astronomy.ohio-state.edu/~pogge/Ast162/Unit5/gps.html (GPS)

http://hyperphysics.phy-astr.gsu.edu/hbase/starlog/staspe.html (Spektrum warna bintang)

Sumber gambar :

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s