Memperingati Pembantaian 1965 G-30S (Part 2 of 3)

MENGKRITISI G-30S

Setelah saya membuat dan menyebarkan petisi “Sarwo Edhie bukan Pahlawan” di www.change.org, pembahasan tentang G-30S bergulir lagi. Film Joshua Oppenheimer jelas menyajikan bagaimana para jagal telah membabat nyawa manusia-manusia tak bersalah. Begitu juga akademik seperti John Roosa dan Benedict Anderson, menyatakan bagaimana sejarah pembunuhan massal yang begitu kejam itu telah dimanipulasi oleh Orde Baru menjadi sejarah kepahlawanan Suharto. Baru-baru ini, sejarawan Asvi Adam juga memaparkan tentang trik-trik keji Sarwo Edhie dalam penumpasan mereka yang di-PKI-kan.

Namun, setelah semua usaha pengungkapan sejarah ini, tetap saja ada yang bertanya: “Lalu versi siapa yang mesti kita percaya?” Ada juga yang masih ngotot setelah nobar film Jagal/The Act of Killing. “Itu kan cuma versinya Joshua Oppenheimer. Masih banyak versi lain yang membuktikan kekejaman PKI dan pembunuhan ’65 itu harus dilaksanakan demi menyelamatkan bangsa.” Dengan orang-orang yang ngotot tanpa mau meneliti ataupun membaca lebih lanjut, saya sodorkan lima argumen berikut:

PERTAMA

Jika memang PKI yang melakukan pembunuhan para jendral, apa buktinya?
Bukti utama yang ditampilkan oleh Suharto dan pasukannya adalah mayat para jenderal (yang dipertontonkan fotonya di televisi dan di koran-koran). Tetapi mayat adalah bukti bahwa orang tersebut sudah mati, bukan bukti PKI melakukan pembunuhan.

Hal ini seperti mengatakan bahwa rumah saya dibakar oleh warga desa A. Buktinya?Rumah saya rata dengan tanah & telah menjadi abu. Lalu, apa bukti bahwa penduduk desa A membakarnya? Hanya abu rumah saya!

Jika saya mengatakan demikian, banyak orang akan berpikir bahwa saya gila. Tetapi mengapa tidak dengan Gestapu?


KEDUA

Bagaimana mereka bisa dengan begitu cepat sampai pada kesimpulan bahwa PKI serta para komunislah yang melakukan pembunuhan para jenderal?

Kejadian 30 September banyak dikenal sebagai saat di mana enam orang jenderal dibunuh oleh komunis (meskipun sebenarnya kejadian itu terjadi pada 1 Oktober karena telah melewati tengah malam). Versi sejarah Suharto adalah para Jenderal disiksa dan dimutilasi sebelum dibunuh. Tersebar juga berita bahwa perempuan Gerwani menari telanjang di sekitar jenderal saat menyilet-nyilet mereka.

Kemudian, sim salabim abrakadabra

Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober:
Suharto berhasil menemukan biang keladinya dan menegakkan Pancasila dengan komandan Sarwo Edhie, yang pada tahun 2013 akan dinobatkan menjadi pahlawan oleh menantunya sendiri.

Bahkan pembunuhan terhadap satu orang saja, MUNIR, memakan waktu investigasi bertahun-tahun dan masih saja belum terselesaikan. Tetapi pembunuhan enam orang memakan waktu hanya beberapa hari bahkan beberapa jam saja untuk diselidiki. Mengapa keputusan untuk membinasakan para komunis datang begitu tiba-tiba, bahkan terburu-buru?

Segera setelah pemakaman para jenderal pada tanggal 5 Oktober 1965, kampanye yang menuduh PKI sebagai dalang pembunuhan para jenderal itu menyebar luas di seluruh Indonesia. Tidakkah kita berpikir bahwa hal ini pasti bukan keputusan hati-hati atau bijaksana, tetapi soal peluang bagi sebagian orang yang memiliki keinginan untuk melakukan genosida?


KETIGA

Mungkin sudah waktunya kita mengalah dengan Suharto dan Sarwo Edhie. Kita anggap saja mereka berdua sesakti Batman. Tanpa proses pengadilan atau penyidikan yang ruwet, mereka langsung tahu siapa yang jahat. Katakanlah Suharto benar bahwa pembunuhan para jenderal itu dilakukan oleh komunis.

Namun, berapa banyak dari mereka melakukannya? Semua anggota PKI dan komunis di seluruh Indonesia? Sekitar 1-3 juta dari mereka dibunuh dan jutaan lainnya dipenjara tanpa pengadilan. Apakah jutaan orang-orang ini semua mengambil bagian dalam pembunuhan para jenderal? Apakah mereka berhasil menangkap pembunuh para jenderal yang sebenarnya? Atau pembunuhan itu adalah dalih belaka, skenario untuk memberi mereka alasan untuk melakukan genosida?

Jika memang anggota PKI membunuh para jenderal, mengapa tidak mencari pembunuh tersebut, dibawa ke pengadilan dan dihukum selayaknya? Namun, tidak! Mereka malah sibuk membunuh jutaan orang, yang banyak di antaranya tidak tahu tentang komunis.


KEEMPAT

Pembunuhan para jenderal berlangsung di Jakarta. Tetapi mengapa pasukan harus pergi mengembara ke seluruh Indonesia, bahkan sampai ke desa-desa kecil untuk memusnahkan mereka yang dikomuniskan? Banyak dari korban adalah petani, seniman tradisional dan buruh yang belum pernah ke Jakarta ataupun aktif terlibat dalam politik!


KELIMA

Jika komunis memang agresif dan sadis, mengapa pemberantasan mereka cukup cepat dan efisien? Jika orang-orang komunis memang licik dan sedang mempersiapkan kudeta ambisius seperti yang digambarkan oleh Orde Baru, mengapa mereka tidak bersenjata? Mengapa tidak ada perlawanan balik dari mereka? Jika orang-orang komunis memang kejam, mestinya yang terjadi bukan pemberantasan yang singkat, tetapi perang besar! Kebanyakan dari mereka tidak bersenjata, tidak siap atas serangan itu!

Dan bila yang dikudeta adalah Sukarno, mengapa nasib Sukarno hampir sama dengan PKI: digulingkan dan diasingkan? Bahkan beberapa anggota keluarga Sukarno menguak bahwa Sukarno tidak mendapat perawatan ketika sakit. Ini ternyata menjadi argumen keenam.


Apakah Anda masih berpikir bahwa genosida jutaan jiwa pada 1965-67 dapat dibenarkan?Jika seseorang dirampok dan orang ini dengan cepat menuduh sekelompok manusia, kemudian meminta mereka untuk dihukum seberat-beratnya, Anda akan mempertanyakan motif di balik tindakan ini. Terutama ketika orang ini masih belum puas dan menstigma anak dan cucu dari kelompok manusia yang telah dituduh sebagai perampok dan telah dihukum berat itu. Jika ini adalah tentang salah satu pembunuhan massal terbesar dalam sejarah, mengapa kita tidak bisa berpikir serupa?

Karena itulah, lebih baik saya tutup argumen ini dengan pertanyaan:
Masihkah Anda mendukung Sarwo Edhie sebagai pahlawan?

12 Desember 2013
Soe Tjen Marching
Koordinator IPT 65 seluruh Britania dan sedang menulis buku tentang korban Genosida 1965
https://id.wikipedia.org/wiki/Soe_Tjen_Marching

P.S:
Pada 9 November 2014, Sarwo Edhie, dalang pembunuhan ratusan ribu pendukung Soekarno, telah gagal menjadi Pahlawan Nasional.
Presiden Jokowi telah menganulir usulan era Presiden SBY untuk membuat nama mertuanya sendiri sebagai pahlawan nasional.

https://www.change.org/p/presiden-sbyudhoyono-sarwo-edhie-bukan-pahlawan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s