Tuhan…?

Gagasan manusia tentang Tuhan memiliki sejarah yang mempunyai arti berbeda bagi setiap kelompok manusia yang menggunakannya di berbagai periode waktu. Gagasan yang dibentuk oleh sekelompok manusia pada satu generasi bisa saja tidak bermakna bagi generasi lain. Bahkan, pernyataan “saya beriman kepada Tuhan” tidak mempunyai makna objektif, tetapi baru akan bermakna dalam konteks tertentu, misalnya ketika dicetuskan oleh komunitas tertentu. Akibatnya, tidak ada satu gagasan pun yang tidak berubah dalam kata “Tuhan”. Kata ini justru mencakup keseluruhan spektrum makna; sebagian di antaranya ada yang bertentangan atau bahkan saling meniadakan.

Jika gagasan tentang Tuhan tidak memiliki keluwesan semacam ini, niscaya ia tidak akan mampu bertahan sebagai salah satu gagasan terbesar umat manusia. Ketika sebuah konsepsi tentang Tuhan tidak lagi mempunyai makna atau relevansi, ia akan diam-diam ditinggalkan dan digantikan oleh teologi baru.

Seorang fundamentalis akan membantah hal ini, karena fundamentalisme bersifat antihistoris. Mereka meyakini bahwa Ibrahim, Musa, dan nabi-nabi setelahnya diberikan wahyu oleh Tuhan dengan cara yang persis sama seperti pengalaman orang-orang pada masa sekarang. Namun, jika kita memperhatikan tiga agama terbesar, jelaslah bahwa tidak ada pandangan yang objektif tentang “Tuhan”. Setiap generasi harus menciptakan citra Tuhan yang sesuai bagi mereka.

Dari pemikiran kompleks seperti ini, saya pikir selama hidup saya tidak memerlukan bantuan Tuhan. Hal yang sama juga terjadi pada ateisme. Pernyataan “saya tidak percaya kepada Tuhan” mengandung arti yang secara sepintas berbeda pada setiap periode sejarah. Orang-orang yang diberi julukan ateis selalu menolak konsepsi tertentu tentang ilahiah . Apakah Tuhan yang ditolak oleh ateis masa sekarang adalah Tuhan para patriarki, Tuhan para nabi, Tuhan para filsuf, atau Tuhan kaum sufi? Semua ketuhanan ini telah dimuliakan sebagai Tuhan Alkitab dan Al-Quran oleh umat Yahudi, Kristen, dan Islam pada berbagai periode perjalanan sejarah mereka.

Kita akan menyaksikan bahwa mereka sangat berbeda satu sama lain. Ateisme seringkali merupakan keadaan transisi. Oleh karena itulah orang-orang Yahudi, Kristen, dan Muslim disebut “ateis” oleh kaum pagan karena mengadopsi gagasan revolusioner tentang keilahian dan transendensi. Apakah ateisme modern merupakan penolakan serupa terhadap “Tuhan” yang tidak lagi memadai bagi persoalan di zaman ini?

Terlepas dari sifat non-duniawinya, agama sesungguhnya bersifat pragmatik. Kita akan menyaksikan bahwa sebuah ide tentang Tuhan tidak harus bersifat logis atau ilmiah; yang penting bisa diterima. Ketika ide itu sudah tidak efektif lagi, ia akan diganti—terkadang dengan ide lain yang berbeda secara radikal. Hal ini tidak dipusingkan oleh kebanyakan kaum monoteis sebelum era kita sekarang karena mereka tahu bahwa gagasan mereka tentang Tuhan tidaklah sakral, melainkan pasti akan mengalami perubahan. Gagasan-gagasan itu sepenuhnya buatan manusia dan jauh berbeda dari “realitas tak tergambarkan” yang disimbolkan olehnya.

Ada pula yang mengembangkan cara-cara yang sangat berani untuk menekankan perbedaan esensial ini. Salah seorang mistikus abad pertengahan melangkah lebih jauh hingga mengatakan bahwa realitas tertinggi—yang secara keliru dinamai “Tuhan”—bahkan tidak pernah disebut dalam Alkitab.

Sepanjang sejarah, manusia telah mengalami dimensi rohaniah yang tampaknya melampaui dunia material. Adalah salah satu karakteristik pikiran manusia yang mengagumkan untuk mampu menciptakan konsep-konsep yang menjangkau jauh seperti itu. Apa pun tafsiran kita atasnya, pengalaman manusia tentang yang transenden ini telah menjadi sebuah fakta kehidupan.

Namun, tidak semua orang memandangnya ilahiah. Orang Buddha, sebagaimana kita tahu, menolak bahwa visi dan wawasan yang diperoleh lewat pengalaman berasal dari sumber supranatural. Mereka menganggapnya sebagai hal yang alamiah bagi kemanusiaan. Akan tetapi, semua agama besar sepakat bahwa adalah mustahil untuk menggambarkan transendensi dalam bahasa konseptual biasa.

Kaum monoteis menyebut transendensi ini sebagai Tuhan. Tetapi mereka membatasinya dengan syarat-syarat penting. Yahudi, misalnya, dilarang mengucapkan nama Tuhan yang sakral, sementara umat Islam tidak diperkenankan melukis Tuhan secara visual. Disiplin semacam ini merupakan pengingat bahwa apa yang kita sebut sebagai Tuhan berada di luar ekspresi manusia.

Ini bukan sejarah dalam pengertian biasa, sebab gagasan tentang Tuhan tidak tumbuh dari satu titik yang kemudian berkembang secara linear menuju suatu konsepsi final. Teori-teori ilmiah mempunyai sistem kerja seperti itu, tetapi ide-ide dalam seni dan agama tidak. Sebagaimana dalam puisi cinta, orang berulang-ulang menggunakan ungkapan yang sama tentang Tuhan. Bahkan kita dapat menemukan kemiripan telak dalam gagasan tentang Tuhan di kalangan orang Yahudi, Kristen, dan Islam. Meskipun Yahudi dan Islam memandang doktrin trinitas dan inkarnasi sebagai kekeliruan, mereka juga mempunyai teologi-teologi kontroversial versi mereka sendiri. Setiap ekspresi yang amat bervariasi tentang tema-tema universal ini memperlihatkan kecerdasan dan kreativitas manusia ketika mencoba mengekspresikan pemahamannya tentang Tuhan.

Karena hal ini merupakan subjek yang luas, saya sengaja membatasi diri hanya mengkaji tentang Tuhan Yang Maha Esa yang disembah oleh umat Yahudi, Kristen, dan Islam, meskipun terkadang saya juga menyinggung konsepsi kaum pagan, Hindu, dan Buddha tentang realitas tertinggi untuk memperjelas pandangan monoteistik.

Tampaknya, ide tentang Tuhan dalam ajaran agama-agama yang berkembang secara sendiri-sendiri tetap memiliki banyak keserupaan. Apa pun kesimpulan yang kita capai tentang realitas Tuhan, sejarah gagasan ini mengatakan kepada kita sesuatu yang penting mengenai pikiran manusia dan inti aspirasi kita.

Di tengah kecenderungan sekular di kalangan masyarakat Barat, ide tentang Tuhan masih mempengaruhi kehidupan jutaan orang. Tetapi pertanyaannya adalah: Tuhan menurut konsep mana yang mereka anut? Teologi kerap kali memberikan penjelasan yang membosankan dan abstrak.

Akan tetapi, sejarah Tuhan penuh gairah dan ketegangan. Tidak seperti beberapa konsep lain tentang realitas tertinggi, sejarah ini pada awalnya dipenuhi pertarungan dan tekanan yang mengakibatkan penderitaan. Nabi-nabi Israel mengalami Tuhan mereka sebagai penderitaan fisik yang menimpa segenap anggota tubuh dan memenuhinya dengan suka maupun duka. Realitas yang disebut Tuhan acap kali dialami para monoteis dalam keadaan ekstrem, seperti puncak gunung, kegelapan, keterasingan, penyaliban, dan teror.

Pengalaman Barat tentang Tuhan tampak agak traumatik. Apa alasan bagi ketegangan inheren ini? Kaum monoteis lainnya berbicara tentang cahaya dan transfigurasi. Mereka menggunakan gambaran yang amat berani untuk mengungkapkan kerumitan realitas yang mereka alami, yang jauh melampaui teologi ortodoks.

Belakangan ini perhatian terhadap mitologi bangkit kembali, yang mungkin menunjukkan luasnya hasrat akan ekspresi yang lebih imajinatif tentang kebenaran agama. Karya mendiang sarjana Amerika Joseph Campbell telah menjadi begitu populer. Ia melakukan pengkajian mendalam tentang mitologi perenial manusia, dengan menghubungkan mitos-mitos kuno dengan mitos-mitos yang hingga kini masih hidup di kalangan masyarakat tradisional.

Sering diasumsikan bahwa konsep Tuhan dalam tiga agama besar tersebut sama sekali tidak memiliki simbolisme mitologi dan syair. Namun, sekalipun kaum monoteis pada dasarnya menolak mitos-mitos tetangga pagan mereka, mitos-mitos itu sering kembali masuk ke dalam keimanan masa berikutnya. Kaum mistik melihat bahwa Tuhan berinkarnasi ke dalam tubuh seorang wanita, misalnya. Sementara itu, kaum lain secara khidmat membincangkan seksualitas Tuhan dan memasukkan unsur feminin kepada-Nya.

Hal ini membawa saya ke titik yang sulit karena Tuhan telah terlanjur secara khusus dikenal sebagai laki-laki. Dalam bahasa Inggris pun kaum monoteis lazim merujuk Tuhan dengan kata ganti “He”. Pada masa sekarang, kaum feminis dengan sangat sadar berkeberatan terhadap hal ini. Penggunaan kata ganti maskulin untuk Tuhan menimbulkan persoalan dalam bahasa bergender.

Akan tetapi, dalam bahasa Yahudi, Arab, dan Prancis, gender gramatikal memberikan nada dan dialektika seksual terhadap diskursus teologis, yang justru dapat memberikan keseimbangan yang sering tidak terdapat di dalam bahasa Inggris. Misalnya, kata Arab untuk Allah (nama tertinggi bagi Tuhan) adalah maskulin secara gramatikal, tetapi kata untuk esensi Tuhan yang ilahiah dan tak terjangkau—Al-Dzat—adalah feminin.

Semua perbincangan tentang Tuhan adalah perbincangan yang sulit. Namun, kaum monoteis bersikap amat positif tentang bahasa sembari tetap menyangkal kapasitasnya untuk mengekspresikan realitas transenden.

Tuhan orang Yahudi, Kristen, dan Islam adalah Tuhan yang—dalam beberapa pengertian—berkata-kata (berfirman). Firmannya sangat krusial dalam tiga agama besar itu. Firman Tuhan telah membentuk sejarah kebudayaan kita. Kita harus memutuskan apakah kata Tuhan masih tetap memiliki makna bagi kita pada masa sekarang.

Siapa kira-kira Tuhan? Berkaca dari tahun ini, mungkin wujud-Nya masih sama: kedangkalan , uang, dan keserakahan.

Resedivis_ @ Perspektif
All Rights Reserved


Referensi:
A History of God: The 4,000-Year Quest of Judaism, Christianity, and Islam.
http://www.press.uchicago.edu/ucp/journals/journal/hr.html
http://oll.libertyfund.org/titles/340

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s