Wanita Hanya Butuh Kepastian: Dihalalkan atau Ditinggalkan, Yakin?

Okay, jika mengacu pada quote ini, kita bisa lihat bahwa kaum wanitalah yang butuh kepastian, bukan laki-laki. Tapi apa benar demikian? Jika iya, maka coba simak ilustrasi ini:

XY: Sayang, maukah kau menikah denganku?
XX: Hmmm, aku pikir-pikir dulu…
XY: Berapa lama?
XX: 3 tahun

Yak, setelah itu si laki-laki akan menunggu pontang-panting sambil galau selama 3 tahun karena tidak ada kepastian dari perempuan. Jadi, siapa yang butuh kepastian?

Mari kita fokus mengenai apa yang ada di quote tersebut.


Hai, perempuan…
Apa kamu yakin bahwa dirimulah yang butuh kepastian?
Apa kamu yakin kamu tidak bisa memberi kepastian?
Dan apa memang benar tugasmu menunggu sang lelaki memberi kepastian?

Huft. Langsung saja deh.

Sebenarnya perempuan punya andil yang sama dalam pengambilan keputusan kapan ia bertunangan atau menikah. Yak, bukankah dalam suatu hubungan percintaan, laki-laki dan perempuan punya hak dan kewajiban yang sama besar? Atau ternyata memang ada peraturan bahwa laki-laki harus deketin duluan, nembak duluan, dan bahwa laki-laki harus jadi “pria” (seperti yang digambarkan oleh beberapa orang di sosial media)? Lalu apa kewajiban perempuan? Jadi perawan? Saya rasa tidak.

Keduanya punya andil yang sama besar dalam menjalani hubungan percintaan. Bukan hanya perempuan yang berhak cemburu sebagaimana bukan hanya laki-laki yang berkewajiban untuk cemburu. Hal ini juga berlaku pada keterbukaan satu sama lain. Tambah lagi deh, bukan hanya perempuan yang harus jaga penampilan, sebagaimana bukan hanya laki-laki yang harus minta maaf. Hubungan kan bukan masalah gender, tapi masalah bagaimana keduanya mau terbuka, jujur, menjaga satu sama lain, menolong satu sama lain, tidakkah ini diperhatikan?


Yak, sekarang tahu bahwa setiap pasangan akan punya upaya yang sama besarnya (gitu idealnya), tapi kalau kita lihat dari quote di atas kesannya seperti perempuan diminta menunggu. Menunggu si laki-laki siap melamar dia. Tapi masalahnya, pernikahan kan bukan hanya urusan laki-laki, apa perempuan tidak bisa ikut membicarakan hal tersebut? Bukaaan… bukan nanya, “mas, kapan kita nikah?”, tapi hal yang lebih mendasar, kayak gini:

Bae/Yang/Honey/Bebih/Dedengkot/Tuyul, kira-kira hubungan kita akan dibawa kemana? Saya berharap hubungan ini bisa serius, menurut kamu, bagaimana?”.

Diskusi deh. Jangan malu, karena kalian berhak loh bertanya demikian.


Kenapa tidak laki-laki saja yang memutuskan semua itu? Bukankah laki-laki adalah kepala keluarga nantinya?

Ya karena, kamu, sebagai perempuan, juga harus bertanggung jawab terhadap masa depanmu. Masa depan kan ngga cuma masalah kamu kerja apa, tapi juga masalah kamu akan hidup dengan siapa, nikah umur berapa, jumlah anak berapa, semua harus diperhitungkan. Ketika kamu melemparkan semua tanggung jawab itu ke laki-laki, itu sama dengan kamu melemparkan semua masa depan kamu. Pertanyaannya, apa semua keputusan pasangan kamu adalah mutlak benar untukmu? Ya tidak juga.

Memang, pandangan terdahulu, seorang laki-laki sejati memandang perempuan dari segi fisik dan bukan dari pikiran dan perasaan perempuan tersebut, selain itu, pandangan terdahulu juga tidak menganggap perempuan memiliki kedudukan yang sama dengan laki-laki di berbagai aspek kehidupan (Menurut Santrock di bukunya yang berjudul Life-Span Development). Namun, tahukah kalian bahwa pandangan seperti ini membuat laki-laki meremehkan perempuan, menjadi keras pada wanita, dan menolak untuk memiliki hubungan yang adil pada wanita? Jadi, masihkah kamu, perempuan, tidak ingin ikut berjuang? Paling tidak masa depanmu sendiri.

Banyak ahli percaya bahwa sangat penting untuk perempuan untuk tidak hanya mempertahankan kempetensi mereka pada suatu hubungan percintaan, ia juga harus menjadi pendorong untuk dirinya sendiri (Hyde, 2007; Matlin, 2008, dalam Buku Life-Span Development oleh Santrock). Penting juga bagi perempuan untuk membawa hubungan mereka untuk menjadi kuat, asertif, independent, dan otentik. Jadi, perempuan, kamu juga punya hak untuk berbicara dalam hubungan kamu.

Ingat, hubungan percintaan bukan hanya sebuah hubungan yang kamu mimpikan untuk lanjut ke jenjang pernikahan. Kamu pun harus berusaha bersama untuk dapat mewujudkan hal tersebut, jika dapat dikatakan, ini seperti kerja tim. Satu sama lain harus saling mendorong untuk dapat mencapai tujuan bersama. Berhasil atau tidaknya suatu hubungan tersebut berlanjut ke jenjang pernikahan itulah yang disebut sebagai kepastian.

Pertanyaannya, masihkah kamu menganggap bahwa perempuan adalah pihak yang menunggu kepastian?

Jester @ Perspektif
All Rights Reserved


Sumber:

Santrock, John W. 2011. Life Span Development 13th Edition. New York: The McGraw-Hill Companies, Inc.

Sumber gambar:

http://www.loveisrespect.org/wp-content/uploads/2011/09/healthy-relationships.jpg

Advertisements

One thought on “Wanita Hanya Butuh Kepastian: Dihalalkan atau Ditinggalkan, Yakin?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s