Humanity, Science, and Religion

Atheism is more than just the knowledge that gods do not exist, and that religion is either a mistake or a fraud. Atheism is an attitude, a frame of mind that looks at the world objectively, fearlessly, always trying to understand all things as a part of nature.

~ Carl Sagan

Nature—atau saya lebih suka menyebutnya sebagai Universe (alam semesta)adalah segala sesuatu yang kita saksikan setiap hari dalam kesadaran kita yang paling sederhana sekalipun. Oksigen yang kita hirup secara gratis adalah satu di antara banyaknya realitas yang sulit untuk dibantah dengan pendekatan logika mana pun. Kita telah menjadi bagian alam semesta sejak awal; unsur-unsur kimia dalam tubuh kita adalah bukti bahwa semua yang ada dialam semesta ini pada prinsipnya bekerja dengan cara-cara unik yang berinteraksi antara satu dengan lainnya.

Kita hadir untuk mengekspresikan alam semesta itu sendiri. Jika kita mencintai keindahan, reaksi kimia yang berinteraksi dalam otak kita adalah keindahan. Sebaliknya, ketika kita mencintai kekerasan reaksi kimia yang dihasilkan oleh otak adalah kekacauan. Di saat kita mencintai persaudaraan, kita sedang mengekspresikan harmoni dalam kehidupan. Kita adalah alam yang menghadirkan kompleksitas, baik pada skala semesta maupun kuantum.

Sejak ratusan tahun lamanya, manusia terjebak pada konsep Tuhan yang bagi saya hanyalah delusi. Di era informasi dan teknologi pun tidak ada orang yang sanggup menghadirkan bukti keberadaan Tuhan. Mengapa manusia menghabiskan waktunya untuk mencari sesuatu yang tidak ada, sementara di hadapan matanya terhampar realitas yang jauh lebih menakjubkan daripada mimpi-mimpi surga yang tidak bisa dibuktikan dengan cara apa pun?

Di sisi lain, pertentangan yang cukup sengit terjadi antara kaum teis dan ateis, yang bagi saya justru lebih banyak menampilkan kesalahpahaman daripada mencoba membangun sebuah jembatan pengertian antara keduanya. Ateis berpijak pada nalar, sementara teis berpegangan pada iman, di mana nalar dan iman tidak akan pernah bertemu. Jika kembali pada sejarah kelahiran manusia, saya kira setiap manusia terlahir tanpa label apa pun. Orangtualah yang kemudian melabel anak-anaknya menjadi seperti apa yang mereka percaya dan yakini. Budaya telah mengubah segalanya. Kalau saya lahir di India, kemungkinan besar saya akan beragama Hindu; kalau saya tlahir di Indonesia, kemungkinan besar saya akan menjadi Islam; kalau saya lahir di USA, bisa jadi saya akan menganut agama Kristen. Lalu adakah yang salah dengan tempat dan waktu kelahiran saya? Sama sekali tidak ada. Terlahir di dunia artinya hidup, di mana saya sama sekali tidak pernah meminta untuk terlahir di sebuah negara yang kaya atau miskin, negara beragama atau tidak beragama. Siklus kehidupan sangat jelas: terlahir, berproses, dan kembali.

Persoalan kemanusiaan di mana pun selalu sama. Masyarakat yang dibangun atas dasar pengertian, sains, dan nalar biasanya jauh lebih toleran terhadap perbedaan dibandingkan masyarakat yang sejak awal tidak siap menyaksikan keberagaman. USA, misalnya, adalah negara yang bukan hanya multi-etnis, ras, bahasa, dan lain-lain. USA adalah negara yang sanggup menampung negara lainnya. Sederhananya, USA adalah tempat bertemunya berbagai negara. Mungkin saja Anda bertanya mengapa USA begitu kuat menampung semua identitas kebangsaan yang begitu plural and kompleks. Jawaban yang bisa saya ajukan adalah karena USA memiliki konstitusi yang pertama-tama membicarakan manusia. Dari mana pun anda berasal, berdasarkan konstitusi USA Anda adalah sama, yaitu manusia yang harus diperlakukan selayaknya. Inilah yang menjadi dasar mengapa USA begitu kuat menampung segala perbedaan di atas planet ini. USA persis seperti peradaban Alexandria yang termasyhur ratusan tahun yang lalu. Penghargaan terhadap pluralisme telah menjadi semangat yang sulit dipadamkan, yang akan terus bertumbuh seiring semakin luasnya pengertian manusia atas kemanusiaan.

Seperti halnya alam semesta yang tidak berhenti bergerak, kita adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari alam. Tetapi mengapa masih ada kekerasan atau pembunuhan atas nama Tuhan? Inilah masalah kemanusiaan yang harus bisa kita jawab bersama.

Reality is magic, delusion is an empty mind.

Advertisements

One thought on “Humanity, Science, and Religion

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s