Menjelajah Ruang dan Waktu: Apakah Bisa?

Apakah time travel bisa dilakukan? Seorang Isaac Newton berkata tidak, karena bagi beliau waktu bagaikan anak panah yang ditembakkan. Waktu bersifat tetap dan mutlak di jagat raya. Lalu, datanglah Albert Einstein yang membuktikan kalau Newton salah – rupanya waktu bersifat relatif.

Pembahasan mengenai time travel pasti berkaitan dengan mesin waktu dan beberapa istilah seperti Teori Relativitas Einstein, gravitasi dan black hole, negative energy, wormhole, fenomena grandfather paradox, dan parallel universe.

Banyak juga film fiksi ilmiah yang bercerita tentang mesin waktu, seperti The Time Machine, De Javu, dan Looper. Di film-film tersebut, dikisahkan bahwa mesin waktu memungkinkan kita melintasi waktu untuk kembali ke masa lalu atau melesat ke masa depan. Adapun jika kita kembali ke masa lalu dan mengubah sejarah, hal itu akan mengubah masa depan. Hal ini lantas memunculkan grandfather paradox; seandainya Anda pergi ke masa lalu dan membunuh kakek Anda sebelum menikah dengan nenek Anda, ayah Anda tidak akan pernah lahir sehingga Anda pun seharusnya tidak pernah terlahir. Terjadilah paradoks, karena Anda seharusnya tidak pernah kembali ke masa lalu dan membunuh kakek Anda karena Anda tidak pernah ada.


Para ahli fisika menuturkan bahwa secara teori, mesin waktu tidak mustahil dibuat. Hal ini didasarkan pada teori Albert Einstein tentang ruang-waktu. Lantas bagaimana caranya? Salah satunya adalah mempertemukan dua titik pada dimensi ruang-waktu dengan menggunakan wormhole.

Jika mesin waktu memang bisa diproduksi oleh manusia, benda tersebut harus mampu membuat wormhole dan mengontrolnya sedemikian rupa agar dapat mewujudkan perjalanan lintas waktu. Berdasarkan teori relativitas Einstein dan penelitiannya bersama Nathan Rosen, ia memperkirakan kalau wormhole adalah sebuah jembatan sempit yang dinamakan Einstein-Rosen bridge.

Jalan pintas antara dua tempat berbeda hanya muncul selama sepersekian detik dan kemudian akan hilang. Untuk menggunakan wormhole sebagai mesin waktu, kita butuh energi untuk menahannya supaya tetap terbuka. Energi tersebut berupa negative energy (energi negatif)sesuatu yang sangat langka dan sulit dibuat. Energi negatif yang diperlukan juga sangatlah banyak – dibutuhkan energi hampir sebesar planet Jupiter untuk membuka wormhole seluas 1 m.

Namun, para ilmuwan belum tahu cara memproduksi wormhole. Hingga saat ini pun keberadaan wormhole masih sebatas hipotesis; mereka masih belum dapat membuktikan eksistensi wormhole secara empiris.

Bagaimanapun, wormhole bukanlah satu-satunya dasar ilmiah dalam perjalanan lintas waktu. Dasar lain yang dapat digunakan adalah kecepatan cahaya. Waktu bergantung pada kecepatan objek yang mengalaminya. Semakin cepat kita bergerak, semakin lambat waktu (relatif terhadap acuan objek lain yang bergerak lambat). Ketika kita bergerak sama cepat dengan kecepatan cahaya, waktu akan terhenti menurut acuan tersebut. Ketika kita kemudian bergerak lebih cepat daripada cahaya, mungkin saja kita bisa menjelajahi waktu.


Dukungan ilmuwan terhadap mesin waktu

Pada kenyataannya, pembuatann mesin waktu bukanlah sebatas wacana. Saat ini sudah ada orang yang mencoba membuatnya. Salah satunya adalah Ronald Mallett, seorang fisikawan berkebangsaan Amerika. Ketika berumur 10 tahun, ayah Mallett terkena serangan jantung dan meninggal. Karena ia sangat mencintai ayahnya, Mallett termotivasi untuk membuat mesin waktu agar ia bisa kembali ke masa lalu dan menolong ayahnya. Meskipun hingga saat ini Mallett memang belum berhasil membuat sebuah mesin waktu, penelitiannya merupakan sebuah batu loncatan yang penting dalam sejarah teknologi mesin waktu.


Penolakan datang dari seorang Stephen Hawking

Fisikawan terkenal bernama Stephen Hawking mengatakan bahwa mesin waktu tidak akan pernah bisa dibuat. Ia berargumen bahwa jika memang suatu saat mesin waktu berhasil diciptakan, tentu saat ini banyak orang yang telah datang dari masa depan untuk mengunjungi kita. Faktanya, hingga saat ini tidak pernah ada bukti otentik tentang “turis waktu” yang kembali ke masa lalu dan mengunjungi kita. Hal itu berarti mesin waktu tidak akan pernah bisa diciptakan.


Argumen terhadap Hawking dan grandfather paradox

Akan tetapi ada juga yang berteori bahwa alam semesta bukan hanya ada satu versi, melainkan banyak versi yang saling berdampingan sebagai parallel universes. Artinya, jika mesin waktu dapat dibuat dan ada orang yang kembali ke masa lalu untuk mengubah sejarah, perubahan tersebut terjadi di alam semesta versi lain, bukannya versi orang yang kembali ke masa lalu itu. Hal ini lantas menjadi solusi terhadap grandfather paradox; orang yang membunuh kakeknya tetap akan ada karena ruang-waktu yang ditinggali oleh kakeknya di masa lalu berbeda dengan yang ditinggalinya di masa depan. Jadi, pengubahan sejarah yang ia lakukan terjadi di alam semesta versi lain. Hal ini juga menjadi solusi bagi argumen Hawking. Mungkin saja telah terjadi “pariwisata waktu,” tetapi di alam semesta versi lain.


Apakah perjalanan menuju masa lalu memungkinkan?

Kalau kita menilik hukum alam, tampaknya hal tersebut mustahil untuk dilakukan. Dalam termodinamika, kita mengenal entropi – perubahan energi yang dibutuhkan untuk mencapai kesetimbangan temperatur dalam sebuah sistem tertutup. Pada skala subatomik, entropi adalah dinamika pergerakan partikel untuk mencapai suatu kesetimbangan (thermal equilibrium) yang berprinsip pada hukum kedua termodinamika. Jadi, memutarbalikkan waktu berarti juga memutarbalikkan momentum pergerakan seluruh partikel di alam semesta agar menempati posisi sebelumnya. Hal ini bertentangan dengan hukum kedua termodinamika.

Meskipun perjalanan menuju masa lalu dibatasi oleh hukum kedua termodinamika, tentu ini tidak membatasi kemungkinan yang ada. Dengan adanya konsep multiverse yang jamak, tidak menutup kemungkinan bahwa kita punya celah untuk menjelajahi waktu.


Kalau menjelajah masa lalu bertentangan dengan hukum fisika, bagaimana dengan perjalanan ke masa depan?

Secara teori, perjalanan ke masa depan memungkinkan untuk dilakukan. Sekarang ini pun kita sedang melakukan perjalanan ke masa depan dengan tingkat perubahan waktu yang konstan dan sama. Albert Einstein—melalui teori relativitas khusus Beliau—menyimpulkan bahwa waktu bersifat relatif. Jika kita memiliki standar acuan yang sama, kita tentu akan setuju dengan durasi waktu tertentu; misalnya durasi satu jam bagi saya sama dengan satu jam Anda. Nah, konsep perjalanan ke masa depan itu bagaimana kita bisa mengubah acuan tersebut sehingga durasi waktu kita tidak sama; misalkan satu jam bagi saya adalah sepuluh tahun atau bahkan seratus tahun bagi Anda. Perbedaan durasi waktu tersebut dikenal dengan istilah dilasi waktu (time dilation).


Perjalanan lintas waktu sekilas memang tampak sebatas fiksi ilmiah belaka karena waktu terasa sepert sesuatu yang selalu berjalan maju dan tak bisa diutak-atik. Mesin waktu juga tampak sebagai teknologi yang mustahil diwujudkan. Namun, kita tidak bisa menggunakan situasi saat ini sebagai tolak ukur sebuah wacana teknologi. Sebagai contoh, jika kita mengatakan kepada masyarakat Yunani Kuno bahwa manusia dapat pergi ke bulan, tentu mereka tidak akan percaya dan menganggapnya sebagai sesuatu yang mustahil. Seiring kemajuan teknologi pada abad-abad berikutnya, kita menjadi saksi bahwa manusia menginjakkan kaki di bulan serta membuat satelit yang mengorbit bumi. Saat ini pun mungkin kita menganggap bahwa mesin waktu adalah teknologi yang mustahil, tetapi bisa saja di masa depan mesin waktu benar-benar dapat dibuat dan digunakan.


Kesimpulannya, time travel mungkin saja terjadi, tetapi teknologi kita masih jauh terbelakang untuk mencapainya. Di Tata Surya sendiri kita hanyalah primata yang berdiri di atas bola batu yang berputar secara konstan. Dengan merefleksikan hal tersebut, tentunya kita belum sanggup untuk memanipulasi wormhole atau membangun pesawat dalam skala kecepatan cahaya. Kita masih temasuk peradaban tipe 0 dalam skala Kadarshev. Untuk melakukan perjalanan waktu, kita harus menjadi peradaban tipe 3 yang mampu mengutak-atik planet dan ruang-waktu, serta memanen energi dari bintang dan galaksi.

Berapa lama lagi kah kita akan mencapainya? Sepuluh tahun? Seratus tahun? Seribu tahun? Sayangnya, mungkin sebelum hal tersebut terjadi kita sudah punah.

Resedivis_ @ Perspektif
All Rights Reserved


Sumber gambar: http://www.party0.org/secret-time-travel-beer/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s