In Defense of LGBTQ – Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Queer

Beberapa follower kami sempat mengirimkan artikel berjudul “Eksistensi LGBT bukan solusi, tapi ANCAMAN” oleh Ida Mar’atus Sholihah dan meminta kami untuk membahas secara spesifik mengenai bantahan terhadap argumen-argumen yang sering digunakan oleh para anti LGBT.

Berikut adalah argumen-argumen anti LGBTQ yang akan saya bahas:


 Gay itu penyakit

Persepsi mengenai gay adalah kelainan mental itu bermulai dari awal 1800-an oleh seksolog Richard von Krafft-Ebing. Sejak itu stigma bahwa homoseksual adalah penyakit mulai diterima masyarakat termasuk kalangan professional sekalipun.

Setelah National Institute of Mental Health di Amerika mengadakan riset lebih lanjut, American Psychiatric Association akhirnya menghilangkan label “penyakit” dari homoseksualitas pada tahun 1973 dan menyatakan “homosexuality per se implies no impairment in judgment, stability, reliability, or general social or vocational capabilities”. Setelah semakin banyak riset mengenai homoseksual akhirnya WHO pun menyatakan gay bukan penyakit, diikuti oleh negara-negara lain.


Gay itu enggak alami

“Gay itu enggak natural, binatang mana ada yang gay? Semua makhluk itu diciptakan berpasangan pria dan wanita.”

Sayang sekali pernyataan ini salah. Gay, lesbian, bisexsual, transgender, hermaphrodite itu ada di alam liar. Perilaku homoseksual ditemukan di spesies monyet, Lumba-lumba Bottlenose, Jerapah, Penguin, Bonobo, dan masih banyak lagi. Bukan hanya berhubungan seksual, dua penguin jantan di Central Park Zoo New York bahkan mengerami telur adopsi dan membesarkan anak mereka.

Argumen “semua makhluk itu diciptakan berpasangan pria dan wanita” sebenarnya tidak sepenuhnya benar juga. Siput hermaphrodite, ikan clown fish bisa berganti gender, clam shrimp memiliki 3 gender (pria, dan dua jenis hermaphrodite), Tetrahymena thermophile memiliki 7 “gender”.

Biasanya setelah diberi penjelasan ini, beberapa akan berkomentar “Manusia kan bukan hewan. Manusia punya moral. Masa manusia harus disamaan sama hewan?” Padahal mereka yang membawa topik hewan duluan.


Gay itu baru muncul jaman modern karena moral manusia semakin rusak.

Terkadang argumen ini ditambah dengan pernyataan “Tanda-tanda sudah mau kiamat! Bertobatlah! Istighfar!”

Homosexuality sudah tercatat sejak awal mula peradaban manusia. Bukan hanya ada, bahkan cukup banyak kultur dan budaya yang menganggapnya lumrah.

Dari suku-suku pedalaman di Amerika, Thailand kuno (hingga sekarang toleransi terhadap LGBT masih bertahan), Yunani kuno, Kekaisaran Romawi, Assyria, hingga Persia. Kebudayaan dan peradaban yang saya sebutkan diatas itu semua memiliki toleransi tinggi terhadap LGBT, bahkan kaum LGBT cukup banyak dan bisa berekspresi dengan bebas selayaknya kaum heterosexual. Konon raja Thailand dulu memiliki simpanan selir pria. Nero, salah satu kaisar Roma merayakan pernikahannya dengan sesama jenis secara terbuka. Alexander The Great, memiliki hubungan homoseksual dengan temannya Hephaestion.

Toleransi terhadap kaum LGBT ini mulai hilang sejak kemunculan dan penyebaran pengaruh agama samawi (Judaism, Kristen, dan Islam).


 LGBT memicu PMS (Penyakit Menular Seksual)

Anda hanya akan terjangkit PMS adalah berhubungan sex dengan yang memiliki PMS, bukan karena berhubungan dengan sesama. Selain itu unsafe sex juga berperan dalam penyebaran STD.

Melakukan hubungan seks, terlebih kaum LGBT, memang memiliki resiko PMS. Tetapi resiko ini bisa diminimalkan dengan pendidikan seks dan melakukan safe sex. Lihat saja daerah-daerah yang PMSnya banyak merupakan negara-negara yang kurang berkembang, bukan negara-negara maju yang katanya banyak melakukan seks bebas, melegalkan LGBT, atau bahkan melegalkan prostitusi.

Kalau hanya karena asalan “beresiko” menjadikan LGBT perlu dihilangkan, maka dengan logika yang sama kita larang saja keberadaan kendaraan karena ini beresiko kematian akibat kecelakaan.


LGBT bertentangan dengan konsep illahiah ketuhanan)

Ada lebih dari 4000 agama di dunia masing-masing dengan konsep ketuhanannya sendiri ditambah setiap agama memiliki denominasinya dimana pandangannya bisa sedikit berbeda. Belum lagi konsep ketuhanan itu sendiri bisa berbeda pada tiap-tiap individu yang memiliki agama yang sama.

Taoism, Confucianism, Paganism, Wicca, Sikhism merupakan beberapa agama yang gay-friendly meskipun beberapa pemeluknya tetap ada yang menentang. Buddha dan Hindu sendiri meskipun tidak secara explicit menentang atau mendukung LGBT, opini setiap pemeluknya mengenai LGBT cukup bervariasi dan berbeda.

Kristen dan Islam pun, kedua agama yang paling keras menentang LGBT, terdapat beberapa pemeluknya yang menganggap LGBT itu normal dan tidak bertentangan dengan agama mereka.


 Gay itu tidak sesuai dengan budaya ketimuran

Saya kadang kurang mengerti apa itu budaya ketimuran. Jepang dengan budaya JAV, dan Hentai? Afghanistan dengan budaya Bacha Bazi? Korea dengan budaya “love motel”-nya? Thailand dengan toleransinya terhadap ladyboy? Papua dengan koteka dan “pakaian”-nya yang serba terbuka? Atau mungkin yang dimaksud adalah budaya Arab dengan pakaiannya yang serba tertutup?

Lagipula kebudayaan itu bukan sesuatu yang kaku dan tidak berubah. Budaya itu terus berubah mengikuti perkembangan jaman dan kehidupan sosial masyarakatnya. Toh budaya sendiri merupakan produk dari masyarakat, bukan sebaliknya. Jadi kalau memang budayanya sudah tidak cocok dengan masyarakat yang sekarang kenapa tidak kita ubah kearah yang lebih baik?


Gay is morally wrong.

Apa itu moral? Morality itu sendiri berasal dari Bahasa Latin “moralitas” yang berarti manner, character, proper behaviour. Atau dalam artian bebasnya sesuatu yang dianggap baik dan buruk.

Nilai moralitas itu subjektif dan dipengaruhi oleh banyak hal seperti situasi, lingkungan, latar belakang budaya, kultur, agama, kemajuan jaman, dan sebagainya. Seiring berkembangnya kehidupan bermasyarakat maka kultur, peradaban dan nilai moralitas itu sendiri terus berubah.

Kalau kita lihat balik kebelakang nilai-nilai moral yang kita punya sudah jauh berbeda dengan seribu tahun lalu. Banyak hal yang dulu dianggap lumrah menjadi sesuatu yang dianggap buruk jaman sekarang seperti perbudakan, diskriminasi ras, pernikahan anak dibawah umur, perusakan lingkungan, dan sebagainya. Hal-hal yang dianggap buruk jaman dahulu seperti wanita bersekolah, gender equality, pernikahan dengan kasta/ras yang berbeda, sekarang sudah dianggap sesuatu yang lumrah dan bahkan baik.

Perubahan nilai-nilai moral ini memang hampir selalu menimbulkan kontroversi dan pertentangan. Penghapusan perbudakan, gender equality, hingga perlindungan lingkungan memerlukan perjuangan panjang dan waktu yang lama untuk diterima luas oleh masyarakat. Tidak bisa dipungkiri saat ini perubahan pandangan terhadap LGBT sendiri mulai terjadi secara perlahan terutama pada generasi-generasi muda.

Keberadaan nilai-nilai moral dan aturan kemasyarakatan itu ada untuk mengatur kehidupan masyarakat. Pada jaman dahulu, beberapa nilai tersebut mungkin memiliki tujuan yang baik, tetapi seiring berkembangnya peradaban beberapa nilai-nilai ini sudah menjadi tidak relevan.

Contoh saja tribalistic nature manusia dimana jaman dahulu manusia masih hidup dalam kelompok-kelompok kecil. Pada jaman tersebut dimana kita masih perlu berebut sumber daya yang terbatas dengan suku lain, memiliki pandangan rasis terhadap suku lainnya memiliki keuntungan tersendiri. Apalagi jaman dahulu suku satu dengan yang lainnya sering berselisih dan jika kita tidak menaruh curiga pada suku asing, resikonya suku kita sendiri bisa binasa. Sedangkan pada jaman globalisasi sekarang, pandangan jelek, diskriminasi, dan rasisme terhadap suku  lain dianggap sesuatu yang buruk.

Nilai moral itu bukan sesuatu yang absolut dan kaku tidak berubah, bukan pula suatu produk dari kitab tertentu atau ajaran tertentu. Morality itu sendiri produk dari kemanusiaan dengan adanya rasa empati dan sikap altruistic.  Ini adalah konsekuensi kita sebagai makhluk  social yang perlu hidup berkelompok.

Dengan melihat dari sejarah, kita sebagai suatu komunitas kemanusiaan, bisa berkaca dan belajar dari masa lalu untuk membedakan mana yang bagus dan nilai “moral” mana yang perlu diperbaiki untuk kehidupan yang lebih baik. That’s how humanity progress to becoming a better unified global community.

Silahkan lihat negara-negara yang melegalkan LGBT, apakah moral mereka rusak? Apakah masyarakat mereka menjadi kacau? Tidak. Jadi menurut saya alasan moral atau alasan menggangu kehidupan bermasyarakat adalah alasan yang tidak berdasar.

Secara pribadi, saya tidak melihat ada yang salah dengan LGBT. Keberadaan LGBT tidak mengancam kesejahteraan dan kehidupan manusia. Bukankah tujuan nilai moral dan norma itu untuk mengatur kehidupan masyarakat? Kalau keberadaan LGBT itu sendiri tidak merusak tujuan tersebut, untuk apa dianggap sebagai ancaman? Pemikiran rasis, fanatisme, diskriminasi, dan sikap tidak toleran, itulah ancaman yang sebenarnya.


So, apakah eksistensi LGBT masih bisa dibilang ancaman? Mungkin pembaca sekalian yang merasa ‘terancam’ bisa menambahkan di komen untuk didiskusikan lebih lanjut.

We, as one humanity, should be more understanding and supportive toward each other. No matter what the race, ethnicity, age, nationality, religion, or even sexual orientation and sexual identity. For the better world we live in.

FH @ Perspektif (admin bukan seorang gay :p)
All Rights Reserved


Related topic and further reading:

http://www.bbc.com/earth/story/20150206-are-there-any-homosexual-animals

http://www.port.ac.uk/uopnews/2014/11/25/homosexuality-may-help-us-bond/

http://www.livescience.com/50058-being-gay-not-a-choice.html

http://www.randomhistory.com/history-of-gay-marriage.html

http://jama.jamanetwork.com/article.aspx?articleid=187846

http://www.livescience.com/33283-what-if-more-than-two-sexes.html

Advertisements

18 thoughts on “In Defense of LGBTQ – Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Queer

  1. Menurut saya selalu akan ada pertentangan antara kaum LGBT dan agama, salah satunya LGBT memberontak di negeri yg beragama kesimpulannya LGBT jg harus toleran dong sama yg punya negeri jgn egois, solusinya satu buat kaum LGBT tolong bikin negeri sendiri, saya personally jg gak gak akan komentar, sekali lg kaum LGBT jg harus menghormati. Caranya? Bikin negeri sendiri

    Like

      1. LGBT itu kayak komunis, ditolak! Meskipun mostly org2nya punya agama. Secara tdk langsng aja sdh bertentangan dg agama2 di indonesia. Lg pula indonesia merdeka karena org2 yg punya agama(islam,kristen,budha,hindu, dll.) Bukan org LGBT. Makanya kalo mw bicara hak, yg punya hak d sni org yg punya agama, kalo LGBT yg notabenenya udh bertentangan dg agama itu sndiri, kembali saya katakan BIKIN NEGARA SENDIRI

        Like

    1. Tsk… Tskk… Kamu itu ya.

      Masih aja mengkotak-kotakkan orang. Indonesia merdeka itu karena org2 yang cinta tanah air. Ga usah maen klaim pake agama deh. Situ sendiri uda ngelakuin apa buat Indonesia, cuma karena situ muslim beragama A dan bnyak pejuang yg beragama A, situ langsung merasa paling berjasa. Pfftt..

      Bertentangan dengan agama yg ada di Indonesia? Memang situ tau di Indo ada berapa agama dan uda belajar smua n tau daleman2an nya? Pinter banget deh situ.

      Dan apa hubungannya LGBT sama nafsu? Dan lagi memang hetero ga punya nafsu?

      – FH

      Like

  2. Menurut saya lgbtq itu sangat mengganggu, yg saya bicarakan disini adalah perilakunya. Saya beragama dan di agama saya perilaku ini sangat dikecam. Tp saya juga tidak ingin mengucilkan mereka, saya tidak jauhi mereka seolah2 mereka adalah mahluk yg patut dimusnahkan. Tp saya rasa perilakunya yg perlu di benahi, bukan manusianya yg harus di musnahkan.

    Like

    1. I don’t care. Yang saya mau anak saya bisa hidup mandiri, happy, have a good life and able to give a positive contribution for people. Itu definisi sukses menurut saya. Mau dia LGBT ato enggak, itu urusan dia.

      Memang apa masalahnya kalo dia LGBT? Apa masalahnya?

      -FH

      Like

  3. Amazing article. Semoga setelah membaca ini pikiran orang yang masih merasa LGBTQ merupakan ancaman bisa terbuka bukannya malah makin defensif dan menutup pintu logika.

    Like

  4. Asik sudut pandangnya.
    Satu hal yang ku pengen tambahin:
    Per info soal apapun itu mungkin bisa di cantumin sumbernya. Mungkin udah ada further reading ya, menurutku lebih baik diberi nama sumber saja kalau memang itu sumbernya.

    Liked by 1 person

  5. Setidaknya gausah dibenci/dianggap ancaman, harusnya kalo gasuka ya udah sekedar gasuka gausah sampe nentang2 gitu toh kan ga merugikan kita juga,kalo bisa si respect aja.
    Setuju bgt sama mimin nih hohoho

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s