“Mengenal Suku Piraha”: Bahagia tanpa mengkafirkan


Kebanyakan orang memiliki mindset yang sama tentang Tuhan, di mana ada peradaban Manusia, di sana mereka dianugerahi karunia untuk hidup oleh sang Maha kuasa, dan bila tidak menyembah beliau maka akan masuk neraka dan disiksa selamanya oleh yang Maha pengasih dan penyayang… ah sudahlah lupakan saja.

Tapi pada artikel ini, pikiran Anda bakal lebih sedikit terbuka mengenai bagaimana perspektif peradaban terpencil di bumi ini mengenai eksistensi Tuhan, mereka adalah Suku Piraha.


Suku Piraha adalah suku pemburu-pengumpul yang tinggal di sepanjang Sungai Maici di Amazon, Brasil. Pada tahun 2010, anggota suku ini berjumlah 420 orang namun sensus terbaru menunjukkan angka 700 jiwa. Suku Piraha tidak menyebut diri mereka Piraha tetapi Hi’aiti’ihi, yang secara harfiah berarti “yang lurus”.

Suku Piraha berbicara menggunakan bahasa Piraha. Anggota suku Piraha dapat menyiulkan bahasa mereka untuk berkomunikasi saat berburu di hutan. Bahasa mereka tidak seperti bahasa-bahasa lain, bahasa mereka bergantung pada nada suara (tonal). Apabila Anda tidak dapat mendengar nadanya, Anda tidak dapat berkomunikasi.

Suku Piraha sama sekali tidak memiliki kepercayaan, tidak seperti peradaban yang lainnya dan mereka juga tidak mempercayai suatu entitas yang maha ini maha itu, emosian, misoginis, melaknat kaum ciptaannya sendiri ataupun Tuhan versi deis serta panteis.

Komunitas suku ini bervariasi: keluarga besar tinggal terpisah di desa-desa. Kadang Mereka mengarungi sungai Maici dari hulu ke hilir dengan kano, bahkan ada juga loh yang tinggal di kano berhari-hari. Beberapa ahli berhipotesis suku mereka berasal dari tahun 1784. Mereka merupakan bagian dari suku bangsa yang lebih besar di luar Peru yang bernama Mura pada masa Kekaisaran Inca. Mungkin suku ini pertama kali datang ke tempat ini pada abad 16.


Pada tahun 1977, Daniel Everett, seorang misionaris yang juga ahli bahasa, datang ke pedalaman Amazon untuk hidup bersama suku Piraha. Pada awalnya dia bertujuan datang untuk mengonversi mereka, tetapi malah merekalah yang mengonversi hidupnya.

Tujuan utama beliau datang adalah tinggal bersama Suku Piraha sebagai penerjemah Bible untuk organisasi misionaris Wycliffe (perlu diketahui bahwa Wycliffe menyampaikan misinya dengan cara menerjemahkan Bible ke dalam bahasa suku pribumi, dengan harapan mereka dapat memahaminya. Mereka telah menerjemahkan beberapa Perjanjian Baru ke dalam bahasa-bahasa pribumi di seluruh dunia).

Namun beberapa tahun setelah kedatangannya, hidupnya berubah: melalui pemahamannya mengenai budaya mereka dan bahasanya yang unik, dia mengatakan bahwa dia menemukan nilai-nilai kehidupan baru, dan meninggalkan kepercayaannya, “misi”-nya, dan kehidupan lamanya.

Pengalamannya ini kini telah digambarkan dalam sebuah dokumenter yang berjudul ” The Grammar of Happiness ” yang mempertunjukkan bagaimana suku Piraha dapat berkomunikasi dengan caranya yang khas, yang melibatkan unsur bernyanyi, bergumam, dan bersiul. Dalam melakukan sesuatu, mereka tampak menikmati kegiatan mereka secara penuh, tidak peduli dengan apa yang telah terjadi kemarin atau apa yang mungkin terjadi keesokan harinya.

Mereka menghindari ingatan masa lalu dan menjalani tiap harinya tanpa prasangka apapun. Beliau mengatakan, sebagai hasilnya, mereka sangat bahagia.

Pada misinya menjadi misionaris , jelas Everett “memberi pesan dari Tuhan” untuk mereka, tapi sayangnya mereka menolak mentah-mentah dengan beberapa pertanyaan “nyelekit” seperti; “Apakah kamu pernah melihat Yesus?” dan “Lalu mengapa Anda berkata kepada kami tentang apa yang tidak penah sama sekali Anda lihat ?”. Tidak menyerah di satu desa, di desa lainnya pun dia tetap mencoba hal tersebut, tapi sayang dia gagal dan nampaknya malah dia yang terkonversi.

Filosofi mereka mempengaruhi bagaimana mereka bertindak: prioritas mereka adalah apa yang mereka alami sekarang.


Kamu pasti bertanya tanya, “lantas bagaimana mitos penciptaan yang mereka percayai sebagai suatu konsesus di masyarakat?”, kalau versi saya kan ada tuh tukiyem dan paijo, sehingga LGBT pun dilarang (yang diciptakan kan tukiyem dan paijo bukan tukiyem dan surtinah).

Jawabannya adalah : Tidak ada.

Mungkin unik dalam kebudayaan, masyarakat Piraha di rimba amazon ini tampaknya tidak memiliki kisah penciptaan. Mereka juga tidak punya konsep sejarah matematika dan hampir tidak punya seni.

Walau begitu, Daniel Everett melaporkan kalau Piraha memiliki morfologi verbal paling rumit yang ia kenal dalam bentuk masyarakat paling bahagia dan pecinta kesenangan yg pernah ia ketahui.

Everett menawarkan hipotesis Sapir-Whorf sebagai penyebabnya, dan beliau menegaskan kebudayaan Piraha membatasi komunikasi pada subjek non-abstrak yang ada dalam jangkauan pengalaman pembicara.


Dari admin pribadi terbersit beberapa pertanyaan tidak penting, seperti ;

Apakah Tuhan yang Maha pengasih dan penyayang membiarkan suku ini tidak mempercayainya dan akan tetap memasukkannya ke dalam neraka yang panas, serta menyiksanya selama-lamanya di sana?

Kenapa Tuhan yang Maha Adil ini tetap tidak memberikan hidayah agar mereka mempercayai-Nya dan kembali “katanya” ke jalan yg lurus selama berabad abad ?

Mengapa Tuhan yang Maha Kuasa tidak menurunkan orang yang seketika bisa saja mengonversi orang-orang tersebut menjadi agamis yang taat beribadah dan menyembahnya 6 x sehari ?

Terlepas dari pertanyaan tersebut, dan denial para fundamentalis, pakar akhirat dan yang lainnya yang bisa kalian temukan di kolom komentar nanti.

Saya ingin mengatakan sesuatu “Kebahagiaan Anda itu tidak bisa di justifikasi oleh orang lain, Andalah yang menentukan bagaimana menjalani hidup agar anda bahagia, baik itu dengan mempercayai Tuhan atau tidak, saling menghormati dan menghargai.”

Lagipula kalau Tuhan yang menakdirkan kita untuk tidak mempercayainya sampai kapanpun itu, kenapa Anda ngebet sekali  untuk menghakimi dan mengarahkan ke jalan yang tidak ada tikungannya alias lurus?

Kerap kali, beberapa orang bertanya bagaimana kacaunya hidup di dunia ini tanpa agama? Suku Amazon telah menjawab, dengan harmonisasi terhadap alam serta saling toleran dan memegang teguh prinsip budayanya.

Mungkin Anda harus merefleksikan pertanyaan tersebut malah kepada orang beragama itu sendiri, dengan esensi yang tentunya berbeda “Kapan Timur Tengah bisa damai ?”.

Resedivis_ @ Perspektif
All Rights Reserved


Sumber :

Godreche, Dominique. 2012. “The Amazon’s Piraha People’s Secret to Happiness: Never Talk of the Past or Future

Daniel Everett, “Cultural Constraints on Grammar and Cognition in Pirahã”, Current Anthropology, Volume 46, August–October 2005, pp. 621-46.

Gordon, P. (2004). Numerical cognition without words: Evidence from Amazonia. Science, 306, 496–499.

Sumber gambar:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s