Feminisme (Part 3 of 3)

Peran Peradaban Manusia: Periode Berburu dan Mengumpulkan Makanan

Sulit untuk memahami bahwa diskriminasi antar gender terjadi dikarenakan peradaban manusia itu sendiri. Oleh karena itu kita perlu memahami bagaimana peradaban dapat membentuk diskriminasi, dalam hal ini patriarki, sehingga memunculkan gerakan feminisme.

Pada zaman prasejarah ketika manusia melakukan peradaban “berburu dan mengumpul”, seksisme tidak terdengar. Aktivitas berburu dan mengumpul semata-mata dilakukan bukan karena gender, namun lebih kepada pembagian tugas. Adapun perempuan lebih banyak melakukan mengumpul dikarenakan perempuan memiliki anak-anak yang harus dirawat. Mengumpul merupakan hal vital yang diperlukan dalam suatu suku, karena daging buruan datang tidak tentu dan tidak sering, dan daging tidak dapat disimpan dalam waktu yang lama terutama pada wilayah yang panas. Bekerja sehari-hari, kaum wanita menyediakan hampir 80% dari kebutuhan makanan.

Hunting was a whole-group activity, not a heroic solo adventure
● Hunting did not mean fighting
● Men and women relied on each other’s skills, before, during, and after the hunt

(Miles, 2001)

Berburu, yang selintas berada dalam pikiran bahwa hanya dilakukan pria dan berdarah-darah, sejatinya tidak demikian. Berburu merupakan kegiatan kerja sama yang dilakukan oleh keseluruhan anggota suku—lebih banyak lebih baik, yaitu tidak hanya pria, namun juga wanita dan anak-anak. Makin banyak anggota yang berburu, maka makin banyak makanan yang didapat. Untuk berburu binatang besar maka diperlukan kerjasama dalam suatu grup. Berburu pun tidak berarti sebuah pertarungan, karena secara lazim berburu dilakukan secara; mengendap-endap, membuat jebakan, berhati-hati, dan pada binatang yang lemah atau lambat karena jika bertarung, maka resiko terluka akan besar dan meningkatkan kematian, ditambah dengan pengetahuan kedokteran yang sangat tidak cukup. Pembagian tugas ketika berburu selesai acapkali dilakukan dengan pria mengecek jebakan kembali untuk sasaran, dan wanita mengangkut bangkai untuk kemudian diolah menjadi makanan, baju, dan tulang untuk ornamen dan perkakas.


Tokoh Feminisme Indonesia: Dewi Sartika

Pada zaman pra-kemerdekaan, terdapat perbedaan besar dalam cara hidup antara anak gadis kalangan priyayi dengan gadis-gadis petani atau pedagang. Kehidupan anak gadis biasa lebih longgar dan bebas, dapat ikut membantu orangtuanya ke sawah dan bermain. Namun pendidikan anak-anak gadis petani hanya mendapat pelajaran mengaji dari guru ngaji di rumahnya atau di surau saja, karena pendidikan di sekolah dirasakan tidak perlu oleh orang tua mereka—dikarenakan jauh atau belum ada sekolah, dan anak-anak gadis tersebut cepat dikawinkan. Sedangkan anak gadis priyayi harus patuh terhadap sopan santun dan dibatasi dalam pertemanan dan permainannya. Mulai usia 10-12 tahun, gadis priyayi mengalami pingitan untuk bersiap memasuki kehidupan keluarga. Walaupun kaum priyayi mendapat hak-hak istimewa mengenai pendidikan, tidak berarti seluruh anak menikmatinya. Selalu yang didahulukan adalah pendidikan bagi anak laki-aki. Hal ini disebabkan adat istiadat yang beranggapan:

  1. Pendidikan bagi anak perempuan tidak perlu
  2. Bersama-sama dengan anak laki-laki dalam satu sekolah tidak baik, sehingga orang berkeberatan terhadap ko-edukasi
  3. Anak perempuan pada usia muda banyak membantu pekerjaan rumah tangga
  4. Bertentangan dengan adat
  5. Anak perempuan cepat menikah
  6. Anak perempuan yang sekolah akan sulit dalam memilih jodoh dan kemudian tidak mau lagi mengerjakan pekerjaan di dapur
  7. Meskipun sekolah, anak perempuan toh tidak akan bekerja, sehingga pendidikannya sia-sia
  8. Anak perempuan yang sekolah kelak akan bersikap sombong terhadap suaminya yang tidak sekolah, dan alasan-alasan lainnya

(Wiriaatmadja, 1980 : 29 – 34)

Maka, keadaan kaum wanita menjelang berakhirnya abad ke-19 membutuhkan perbaikan yang menyeluruh, baik bagi kaum priyayi dan rakyat biasa. Dewi Sartika mencetuskan sekolah Kautamaan Istri yang ditujukan agar para wanita di saat itu memiliki keahlian—meskipun keahliannya berupa merenda, menjahit, dan keterampilan lainnya—agar dapat berguna dan menjadi sumber mata pencaharian secara mandiri. Tanggal 16 Januari 1903 didirikanlah Sekolah Istri, yang untuk jenisnya, pertama kali didirikan di Indonesia. Bertempat di Paseban Kabupaten Bandung sebelah barat, Sekolah Istri terdiri dari dua kelas dengan dua puluh murid dan tiga pengajar, yaitu: Dewi Sartika, Ibu Purma, dan Ibu Uwit. (Wiriaatmadja, 1980).

Dewi Sartika berpendapat sebagai berikut:
“Apa yang dibutuhkan pada umumnya untuk meningkatkan moral dan intelektual wanita pribumi? Menurut pendapat saya yang sederhana wanita dalam hal ini tidak berbeda banyak dari kaum laki-laki. Dia juga untuk pendidikan yang baik harus disekolahkan dengan baik pula. Pengembangan pengetahuan akan berpengaruh terhadap moral wanita pribumi.” (Wiriaatmadja, 1980 : 39 p.2)


Kesimpulan dan Solusi

Hingga saat ini, belum ada negara yang benar-benar menjalankan persamaan gender secara penuh, namun Islandia dapat menjadi percontohan paling baik. Setidaknya, selama lima tahun berturut-turut dari 2009 hingga 2013, Islandia adalah negara yang paling memilki sistem kesetaraan gender yang paling baik, diikuti oleh Finlandia dan Norwegia (World Economic Forum, 2013). Indonesia sendiri berada di urutan 95 dari 133 negara (BBC, 2013). Islandia memiliki tingkat partisipasi politik tiap gender berkisar pada 75% (gap gender yang terdapat hanya 25%). Sebagai negara yang dirangking nomor 1, Islandia memiliki perbandigan keikutsertaan pendidikan di mana wanita dan pria berbanding 1.5 dan 1, artinya setiap 2 pria yang mendapat pendidikan, maka terdapat 3 wanita lainnya yang juga bersekolah (World Economic Forum, 2013).

2015

@ Perspektif

All Rights Reserved 


Daftar Pustaka
BBC. 2013. Women gain as gender gap ‘narrows’. http://www.bbc.com/news/world-24650912 (diakses 18 Februari 2015)
Bhinneka. 2012. Tubuh dan Kekuasaan. Lembaga Bhinneka
Bhinneka. 2013. Gender. Lembaga Bhinneka
DK Publishing. 2013. The Politics Book. New York: DK Publishing
EU-Initiatives. 2013. The current situation of gender equality in Iceland – Country Profile. Roland Berger Strategy Consultants GmbH in partnership with ergo Unternehmenskommunikation GmbH & Co. KG
Hooks, Bell. 2000. Feminism is for Everybody. Cambridge, MA: South End Press
Krolokke, C., Sorensen., A. 2006. Gender Communication Theories and Analyses. Thousand Oaks, California: SAGE Publications
Miles, Rosalind. 2001. Who Cooked The Last Supper? – The Woman History of The World. New York: Three Rivers Press
Plank, Elisabeth. 2014. 23 Ways Feminism Has Made the World a Better Place for Men. http://mic.com/articles/88277/23-ways-feminism-has-made-the-world-a-better-place-for-men (diakses tanggal 16 Februari 2015)
Suryakusuma, Julia. 2012. Agama, Seks, dan Kekuasaan. Jakarta: Komunitas Bambu
Wiriaatmadja, Rochiati. 1985. Dewi Sartika. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
World Economic Forum. 2013. Insight Report – The Global Gender Gap Report. Cologny/Geneva, Switzerland: World Economic Forum
Yayasan GAYa NUSANTARA. 2010. Jurnal Gandrung Vol.1 No.2 – Kajian Seksualitas Kritis. Surabaya: Yayasan GAYa NUSANTARA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s