LGBT & Kekotoran Berpikir

Bila saya menulis tentang lesbian, gay, biseksual, dan transgender (istilah kerennya LGBT), biasanya akan ada beberapa yang berpikir bahwa saya adalah seorang lesbian. Namun, dugaan ini salah. Saya adalah seorang heteroseksual yang tidak saja sempat memandang LGBT dengan negatif, tetapi juga dengan jijik.

Lalu, apa yang mengubah saya? Adalah seorang sahabat, yang kemudian menjadi salah satu teman akrab saya. Ia mengakui bahwa ia adalah seorang lesbian beberapa tahun kemudian.

Bila ia sendiri tidak mengakuinya, apakah saya akan tahu? Mungkin tidak, tetapi ada sedikit kecurigaan setiap kali saya menceritakan tentang lelaki yang menarik perhatian saya, sedangkan dia sendiri tidak pernah. Bertahun-tahun lamanya ia bersahabat dengan saya tanpa pernah menyatakan adanya pria yang ia sukai. Namun, hal ini sebenarnya tidak terlalu mengganggu saya selama itu.

Justru ketika ia berterus terang, ada rasa campur aduk yang sulit diceritakan. Pada satu sisi, saya merasa lega dan bisa menjelaskan mengapa ia tidak pernah tertarik pada lelaki. Di sisi lain, saya juga masih merasa janggal mempunyai sahabat lesbian dan juga ada dorongan untuk meninggalkan dia karena orientasi seksualnya.

Mengapa? Hal inilah yang kemudian saya tanyakan berulang-ulang. Mungkin karena ada rasa penolakan.

Tapi apakah hal itu masuk akal? Bukankah saya sudah berteman dengan dia, seorang lesbian, bertahun-tahun lamanya dan mengapa rasa ini timbul tiba-tiba hanya karena dia mengaku lesbian? Mengapa pengakuan ini yang justru menyebabkan saya menolak dia? Bukankah ini berarti penolakan yang mengada-ada? Kejijikan yang timbul bukan karena orientasi seksual teman saya ini, tetapi akibat pikiran saya sendiri ketika mengetahui bahwa ia adalah lesbian.

Itulah bedanya. Selama bertahun-tahun bersahabat dengannya, saya tidak pernah merasa aneh. Justru kesadaran saya bahwa ia adalah lesbian-lah yang membuat saya merasa aneh.
Jadi, bukankah penolakan tersebut disebabkan hanya karena pikiran saya sendiri?

Kemudian saya pun bisa mengakui bahwa saya sendiri pernah terangsang bila membayangkan perempuan. Mungkin ketakutan untuk mengakui hal ini jugalah yang menyebabkan saya menolak teman tersebut.

Semua pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat saya tetap bersahabat dengan dia. Justru pengakuan dia membuat kita semakin dekat, karena dengan begitu ia tidak lagi merasa janggal akan identitasnya. Hubungan kita bertambah erat dan lebih terbuka.

Lalu, apa pentingnya orientasi seksual? Saya dan dia bisa menjadi sahabat apa pun orientasi seksualnya. Berapa di antara teman, saudara, dan anggota keluarga kita yang sebenarnya telah memendam rahasia ini begitu lama? Penelitian tentang hal ini memang beragam. Ada yang menyatakan LGBT di antara 1:7 sampai 1:9, dan yang paling rendah angkanya adalah 1:10. Namun, mari kita pakai rasio 1:10 untuk membayangkan adanya mereka di antara kita. Bila kita berkumpul dengan teman sekelas di sekolah (yang jumlahnya sekitar 30-40), maka kemungkinan besar akan ada 3-4 di antara mereka yang mempunyai orientasi seksual tersebut. Bila kita mempunyai sepuluh sepupu, maka kemungkinan besar satu di antara mereka adalah LGBT. Bila kita menonton pertandingan sepak bola, maka di antara semua pemain kemungkinan ada dua orang yang gay, apalagi di antara penontonnya yang ribuan.

Mereka ada di antara kita. Mereka mungkin sedang duduk di sebelah kita, berbicara dengan kita dan begitu dekat dengan kita, tanpa kita sadari. Dan ketika kita menyadarinya, kesadaran ini seringkali membuat kita memusuhi mereka.

Bukankah ada begitu banyak kisah di mana orang tua menjodohkan dengan paksa seorang lelaki dengan anak perempuan mereka karena ketahuan bahwa ia lesbian? Salah seorang teman lesbian saya bahkan bercerita bahwa kekasihnya dijodohkan dengan lelaki yang dipandang rendah oleh orang tua itu sendiri (karena ia adalah pengangguran). Tetapi karena sang orang tua begitu menghina anaknya sendiri (hanya karena ketahuan lesbian), ia dicampakkan dan tidak dihargai. Yang penting adalah pemuasan “ego” mereka yang tanpa alasan menabukan lesbian, bukannya nasib anak tersebut. Hal itulah yang seringkali membuat para LGBT menyembunyikan diri.

Sayangnya, interpretasi agama yang kolot selalu digunakan untuk menyerang mereka. Dalam Islam dan Kristen, yang paling sering disebut adalah kisah Sodom dan Gomorrah. Sodom dihubungkan dengan sodomi dan dosa manusia-manusia homoseksual. Padahal, kata Sodom berasal dari bahasa Ibrani S’dom yang berarti terbakar, sedangkan Gomorrah berasal dari kata Amorah yang artinya tumpukan yang hancur. Ini menyiratkan bahwa kota-kota itu diberi nama setelah keduanya hancur, bukannya nama awal kota tersebut. Artinya, interpretasi sodomi itu muncul sesudahnya, bukan sebelum kejadian.

Dalam masa milennium ini pun tsunami di Aceh masih sering dikaitkan dengan murka Tuhan yang menghukum orang-orang Aceh dengan bencana alam. Apa dosa mereka?Timbullah berbagai interpretasi akan dosa manusia Aceh. Hal ini terjadi di saat teknologi sudah begitu maju. Bayangkan ribuan tahun yang lalu ketika kehancuran besar-besaran atas dua buah kota terjadi. Apa penjelasan yang paling masuk akal bagi manusia yang masih belum mengenal teknologi yang mendeteksi gejala alam? Yang terjadi pada dua kota tersebut kemungkinan besar adalah bencana alam yang kemudian diberi interpretasi oleh orang-orang yang menuliskannya.

Memang, dalam masyarakat, LGBT masih sering dianggap penyakit. Saya sendiri tidak setuju bila orientasi seksual tertentu dipandang sebagai penyakit. Tetapi bila memang mereka masih menganggap sebagai penyakit, bukankah ketika kita mendengar teman kita terkena penyakit, kita akan berbaik hati kepada mereka? Kita akan menolong pekerjaan mereka dan bahkan menyumbang kepada mereka. Kita akan memberi mereka kemudahan dan memaklumi bila mereka lebih gampang naik darah karena mereka sedang dalam kondisi yang kurang baik.

Namun, yang terjadi pada kaum LGBT adalah sebaliknya: mereka dianggap sakit, namun yang sehatlah yang mengusik mereka, menyakiti mereka, dan bahkan memberi berbagai masalah baru yang tidak perlu.

Bukankah dalam hal ini, para manusia heteroseksual yang merasa normal, yang telah berpikir rancu?

Ditulis oleh Soe Tjen Marching
Agustus 2011
Dengan sedikit pengubahan

Advertisements

2 thoughts on “LGBT & Kekotoran Berpikir

  1. Iya, saya bingung karena lingkungan saya yang dulu selalu menghina LGBT. Untungnya org tua saya lumayan berpikiran terbuka. Sampai akhirnya saya benar2 bersahabat dengan para LGBT. Hal itu tidak membuat saya terbawa arus LGBT, justru saya jadi lebih peka terhadap orientasi seksual saya sebagai heteroseksual. Yang pasti, saya lebih memahami arti mencintai, mengasihi, dan menjadi manusia yang mausiawi. Spread love.

    Like

  2. Artikel yg bagus! Sekedar tambahan, pada dasarnya orientasi seksual sendiri tdk bisa dikategorikan sbg sebuah gangguan. Hal itu ada dlm panduan diagnosis gangguan kejiwaan. Bisa dikatakan gangguan, jika orang tsb tidak nyaman dgn dirinya. Dalam hal ini orang2 yang tidak sepakat akan lgbt justru menjadi penyumbang terbesar terjadinya gangguan kejiwaan bagi teman2 lgbt. Self stigma salah satunya. Tak jarang, banyak lgbt yang akhirnya memutuskan utk mengakhiri hidupnya.

    Sampai kapan kita hanya fokus kepada orientasi seksual seseorang ketimbang fokus akan kepintaran/ bakatnya yg dpt berguna bagi masyarakat?? 😦

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s