Inteligensi dan Kebahagiaan: Kamu Pilih Bahagia atau Pintar?

Manusia seringkali terbentur pada konsep inteligensi dan pendidikan, kepuasan dan kebahagiaan. Pada kesempatan kali ini, izinkan penulis berbagi wawasan tentang topik tersebut.

Sejak awal mula kehidupan, manusia selalu mencari kebahagiaan. Namun, manusia juga cenderung bergerak menuju perubahan dan improvisasi kehidupan mereka yang berlandaskan pada pengetahuan dan seringkali berhubungan dengan pendidikan. Nah, sebelum kita maju lebih jauh dalam membahas topik ini, mari kita samakan pemahaman kita tentang inteligensi dan kebahagian itu sendiri.


Definisi Kebahagiaan

Menurut kalangan ilmuan sosial, kebahagiaan bukan sekedar merasa senang atau puas yang sesaat lho. Salah satu skala pengukuran kebahagian yang populer adalah subjective well-being (SWB) yang pertama kali diungkapkan oleh Wilson (1967). SWB dikembangkan lebih lanjut dalam skala ukur yang lebih terjamin oleh Diener et al. (1999) berdasarkan afeksi positif dan kepuasan hidup. Diener dan kawan-kawannya (1997) menjabarkan bahwa komponen kebahagiaan terbagi dalam beberapa faktor afeksi positif dan negatif (i.e. kesenangan dalam lingkungan kerja dan kepuasan finansial) dan menjelaskan bahwa kebahagiaan dilihat secara global atau selama keseluruhan masa hidupnya (Moum, 1996).

Semua hal itu juga tidak terlepas pada predisposisi personal dan predisposisi temperamen masing-masing individu (McCrae & Zonderman, 1987), namun tidak terbatasi olehnya. Veenhoven (1994) dan kebanyakan psikolog pada saat itu menolak mentah-mentah ide bahwa kebahagian adalah sebuah ciri yang terikat dengan genetika dalam kecenderungannya. Intinya, meski ada kecenderungan khusus bagi beberapa orang untuk mempunyai tingkat neurotis atau introversi yang tinggi, kebahagian subjektif atau SWB tidak mematok harga bahwa ada kalangan yang dijamin merasa lebih bahagia daripada manusia lain. Dengan kata lain, SWB mengukur skala kepuasan berdasarkan tendensi dan predisposisi mereka yang dikorelasikan dengan kepuasan yang subjektif selama masa hidup mereka.


Definisi Inteligensi

Mungkin Anda berpikir bahwa orang-orang pintar adalah mereka yang nilainya tinggi atau memperoleh peringkat sewaktu sekolah. Lebih sederhana lagi, mungkin Anda menganggap orang pintar adalah ia yang memiliki IQ tinggi. Anda tidak salah; intelegensi dasar manusia pada awalnya memang diidentifikasi dengan kemampuan-kemampuan dasar kognitif dan kapasitas otak (Spearman, 1904; Binet & Simon, 1916). Pasti pernah kan kalian ikut tes IQ yang dilaksanakan seharian penuh dengan berbagai macam ujian, termasuk hitungan dasar, rotasi imajiner, deduksi-induksi, atau bahkan menggambar. Kalian bisa berterimakasih (atau mengumpat) pada Binet yang telah mengembangkan batasan kemampuan kognitif dan praktis manusia sehingga mampu diukur secara objektif (Binet & Simon, 1916; 1973). Stanford Binet berhasil membagi dan mengklasifikasikan manusia dalam sebuah kurva yang mampu menggeneralisasi populasi manusia berdasarkan kemampuan kognitifnya (lihat The Development of Intelligence in Children: The Binet–Simon Scale, 1916).

Merunut pada kemampuan kognitif manusia dengan pemahaman tersebut, penulis ingin memberikan sedikit pencerahan pada korelasinya dengan kebahagiaan. Tanpa bermaksud menggeneralisasi, banyak sekolah atau institusi formal menganggap bahwa definisi kepintaran seperti itulah yang mendefinisikan kemampuan superior manusia. Banyak yang merasa bahwa mempunyai IQ yang tinggi adalah sebuah kebahagiaan tersendiri atau merasa bahwa anak jenius mampu membawa kebahagiaan kepada keluarga. Dengan tulisan ini, penulis ingin menyanggah pandangan tersebut.


Fakta

Setelah banyaknya riset yang dilakukan, para peneliti menemukan satu pola yang jelas. Inteligensi tidak memprediksi kebahagiaan. Beberapa riset menunjukkan korelasi, tetapi justru secara negatif. Lynn dan Vanhanen (2002, 2006) menemukan bahwa beberapa negara dengan tingkat intelektual tinggi (Cina, Korea, Jepang, Singapura, dan Hong Kong) malah memiliki tingkat kebahagiaan yang rendah. Riset serupa pada pelajar tingkat D3 (college) di Amerika, dalam korelasi hasil Scholastic Aptitude Test (SAT) dan Mathematical Aptitude Test (MAT), juga mengindikasikan bahwa hasil tes tersebut tidak berkorelasi dengan tingkatan mood mereka (Wessman, 1996). Contoh lainnya ditunjukan pada hasil tes IQ pada populasi yang memiliki tingkat IQ di atas rata-rata pada umur 11 tahun dan di Skotlandia pada manula berumur 79 dalam self-report kebahagiaan mereka (Gow et al., 2005).


Kesimpulan

Berdasarkan tiga penelitian di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa sedikit sekali, atau bahkan tidak ada, peranan inteligensi terhadap tingkat kebahagiaan manusia. Namun, pada era globalisasi dan generasi milenial saat ini, banyak sekali kesalahan persepsi dan misinformasi bahwa intelegensi pasti akan berujung pada kepuasan manusia, yang akhirnya malah menjadi faktor utama dalam pendidikan dan pengembangan anak di banyak tempat, termasuk Indonesia. Tentu, masih banyak konsep inteligensi (e.g. Gardner’s multiple intelligences, metacognition, emotional intelligence) dan tak sedikit juga sekolah atau institusi formal yang mulai mengesampingkan kemampuan kognitif belaka. Penulis sendiri, secara pribadi, menganggap bahwa inteligensi bukan hanya berbasis pada IQ, tetapi juga kemampuan seseorang menyesuaikan diri dan beradaptasi pada lingkungannya.

Tentu bukan berarti manusia dengan intelektualitas tinggi tidak mampu bahagia, karena banyak faktor yang mempengaruhi kebahagiaan atau perbedaan pemahaman terhadap intelektualitas. Namun, itu adalah topik lain. Kali ini, penulis ingin menjelaskan bahwa sebagai kalangan (yang mudah-mudahan) berwawasan, kita harus bisa membedakan peranan inteligensi dalam hidup dan tidak menyamakan kebahagiaan dengan kemampuan berpikir. Semoga artikel ini bisa menjadi inspirasi atau pencerahan bagi siapa pun. Jadi, bagaimana dengan kalian? Mau jadi orang pintar atau bahagia?

Kontribusi dari Erka Hutama
Received on 1/02/2016
Posted on 3/02/2016
All rights belong to the respective owner and author of the article.


Catatan Penulis:
Perlu ditekankan kembali bahwa riset inteligensi dan kebahagiaan mengandung banyak faktor dan variabel eksternal yang tidak dijelaskan pada artikel ini. Inteligensi mempunyai banyak bentuk dan perbedaan definisi, begitu juga kebahagiaan. Inteligensi ataupun kebahagiaan tidak memprediksi secara langsung satu sama lain dikarenakan perbedaan konteks sosial, skala alat ukur, atau demografis penelitian. Untuk informasi lebih lanjut berkaitan dengan topik ini, kirimkan pertanyaan Anda ke erkatry@gmail.com.


Referensi:
Diener, E. et al. (1999). Subjective Well-Being: Three Decades of Progress. Psychological Buletin, 125 (2), 276-302.

Gupta, G. (2011). Emotional Intelligence as predictor of Happiness among Professional and Non-professional students. Journal of Psychosocial Research, 6 (2), 221-229.

Kim-Prieto, C., Diener, E., Tamir, M., Scollon, C., & Diener, M. (2006). INTEGRATING THE DIVERSE DEFINITIONS OF HAPPINESS: A TIME-SEQUENTIAL FRAMEWORK OF SUBJECTIVE WELL-BEING. Journal of Happiness Studies , 261-300.

Lynn, R., & Vanhanen, T. (2006). IQ and Global Inequality. Washington, USA: Lynn, R.J. & Vanhanen.

Lyubomirsky, S., Diener, E., & King, L. (2005). The Benefits of Frequent Positive Affects: Does Happiness Lead to Success? Psychological Bulletin, 803-855.

Machek, G. (2003). The Role of Standardized Intelligence Measures in Testing for Giftedness. Human Intelligence, AT.

Veenhoven, R., & Choi, Y. (2012). Does Intelligence Boost Happiness? Smartness of All Pays More That Being Smarter Than Others. International Journal of Happiness and Development, 5-27.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s