Untuk Apa Kita Hidup Bila Tuhan Tidak Ada?

Beranjak dari teori evolusi, kita hanyalah primata yang berbicara di sebuah planet kecil yang eksistensinya tidak berarti bagi alam semesta yang begitu luas dan tanpa tujuan ini. Anda dan saya hanyalah dua dari 7 miliar individu manusia yang masih hidup dan manusia hanyalah satu dari sekitar 9 juta spesies yang pernah hidup di Bumi. Sementara itu, Bumi hanyalah satu dari delapan planet yang mengitari Matahari. Bahkan Matahari hanyalah satu dari 300 miliar triliun bintang di alam semesta ini.

Sungguh kecil diri kita di hadapan alam semesta nan luas ini. Anehnya, masih banyak orang yang menyombongkan diri seolah-olah berkuasa atas dunia atau bahkan alam semesta.

Sepertinya kita perlu merefleksikan pertanyaan berikut: untuk apa alam semesta ada? Bila Anda melihat jutaan, miliaran, atau bahkan trilunan benda angkasa seperti bintang, planet atau asteroid di luasnya alam semesta, pastinya kamu bertanya: untuk apa semua itu? Apakah semua hal itu memiliki tujuan?

Tidak ada yang tahu apa maksud dari lahirnya alam semesta, mengapa ia ada ada, dan apa tujuannya.


Sebetulnya, secara pragmatis agama memang memiliki manfaat dalam hal ini. Yah, setidaknya sebagai penghibur saat anda “terjatuh” atau sekadar sebagai motivasi. Tetapi hal itu tidak menjadikan klaim-klaim teologis benar. Kalau saya ditanya apa tujuan hidup, maka jawaban saya sederhana: mencari kebahagiaan.

Semua orang, tanpa kecuali, pasti senang dengan kebahagiaan. Walaupun begitu, ukuran kebahagiaan setiap orang berbeda dan relatif. Yang merasa bahagia kalau pergi ke gereja dan berdoa, ya pergilah ke gereja dan berdoa di sana. Yang merasa bahagia ketika shalat di Masjid, maka pergilah ke Masjid dan lakukanlah shalat. Bila berdoa di Pura menjadikan Anda bahagia, maka pergilah ke Pura dan berdoa.

Tetapi adanya rasa bahagia dalam beribadah tidak berarti klaim-klaim agama yang Anda anut menjadi benar dan absolut bagi semua manusia. Namun, seorang fundamentalis bisa dengan lantang mendeklarasikan bahwa agamanya lah yang paling benar dan satu-satunya tujuan hidup seluruh umat manusia.

Ya, agama menggambarkan bahwa Tuhan yang lebih besar daripada alam semesta ini peduli terhadap semua persoalan hidup kita. Padahal, sesungguhnya hidup kita tidak ada artinya sama sekali bagi alam semesta yang sedemikian besar ini. Gambaran Tuhan dalam agama adalah sesuatu yang menenangkan bagi pengimannya.


Lantas untuk apa kita hidup bila Tuhan tidak ada?

Kita mungkin sungguh tidak berharga bagi alam semesta yang luas ini.

Kita mungkin tidak berarti bagi planet Mars, Jupiter, atau Namec.

Kita mungkin tidak berarti bagi negara Jamaika, Etiopia, atau Argentina.

Lupakan semua hal itu. Mari kita lihat realitas hidup kita sekarang.

Anda berarti bagi orang-orang yang mencintai Anda.

Anda berharga bagi pacar, sahabat, keluarga, kolega, atau bahkan ikan peliharaan Anda.

Anda berarti bagi orang–orang yang hidupnya semakin baik karena pekerjaan Anda.

Anda sungguh berarti bagi wajah-wajah pertama yang terlintas ketika Anda mengingat paragraf ini.

Ya, Anda bermanfaat bagi orang di sekitar Anda. Keberadaan Anda sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan Anda.

Anda sendiri yang menciptakan tujuan hidup Anda. Ibarat sebuah kanvas kosong, hidup Anda menunggu dilukis oleh Anda sendiri. Apakah lukisan itu indah atau buruk rupa, Anda sendiri yang menentukannya.

Secara biologis, tujuan hidup Anda adalah bertahan hidup, berkembang biak, dan menjaga keturunan Anda karena itulah perintah dasar informasi genetik dalam tubuh Anda. Informasi itu jugalah yang membuat Anda menjadi seperti sekarang ini.

Seperti kata Sartre, ‘existence precedes essence’. Ada dulu, baru berarti. Tujuan atau makna hidup, Anda sendiri yang membuatnya. Kebebasan kitalah yang mampu memaknai arti hidup kita sendiri.

Resedivis_ @ Perspektif
All Rights Reserved

Advertisements

2 thoughts on “Untuk Apa Kita Hidup Bila Tuhan Tidak Ada?

    1. “kesadaran”

      Mau nambah dikit biar beneran sadar.

      “Ya, agama menggambarkan bahwa Tuhan yang lebih besar daripada alam semesta ini peduli terhadap semua persoalan hidup kita. Padahal, sesungguhnya hidup kita tidak ada artinya sama sekali bagi alam semesta yang sedemikian besar ini.”
      Yakin ga kecampur Monoteisme dg Panteisme? Dg lantangnya mendeklarasikan kalau Tuhan = alam semesta dan ekstrapolasi linear/monoton berlaku utk semua kepercayaan?

      “…seorang fundamentalis bisa dengan lantang mendeklarasikan bahwa agamanya lah yang paling benar…”
      Introspeksi.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s