Pemerkosaan: Salah Miras dan Korban!

Satu hal yang saya ingin ucapkan di awal paragraf ini adalah salam Mia Khalifa untuk seluruh para pemerkosa di seantero negeri ini. Kalian mendapat dukungan telak dari orang-orang “bermoral” bahwa kalian tidaklah salah. Korban dan cara berpakaiannyalah yang salah. Legalisasi miras dan pabrik miraslah yang salah. Ingat, apa pun masalahnya, Mia Khalifalah solusinya!

Sementara itu para feminazi sibuk menjajakan dagangan kesetaraan gendernya dan menjadikan pemerkosaan Yuyun sebagai celoteh sehari-hari dalam menaikkan popularitas fanpage feminismenya. Di lain sisi para agamawan terus melancarkan kontra kesepakatan “equality” karena napas partriarki yang menggebu-gebu dan selalu melemparkan pernyataan “rape victim blaming” sampai “miras effect blaming“. Jangankan miras; batu, kayu, ataupun pohon kelapa mungkin bakal menjadi sasaran yang disalahkan dalam kasus ini.

Sangat disayangkan, benda-benda tersebut harus bernasib sama dengan iluminati ataupun Jokowi dalam menghadapi sebuah kasus di negara yang sangat beradab ini. Dengan memakai logika “absolut”, maka logika lain bakal terdengar absurd dan sangat tidak pantas untuk dikemukakan. Ingat, jangan melawan logika absolut. Nanti kamu durhaka dan akhirnya masuk ke neraka.

Bukan, ini bukan siasat politik pihak patriarki agar terus bisa mensubordinasi para perempuan untuk bertahan di “kastanya”. Ini adalah logika absolut yang tidak boleh dilawan. Dengan alasan yang cukup logis, seperti penunjukkan bahwa hal tersebut telah tercantum di buku yang diamini jutaan orang di seluruh dunia atau tempat terindah telah diciptakan untuk mereka yang mengikuti aturan tersebut, maka jelas ini adalah aturan main bagi mereka yang “percaya”.


Di negara “biadab”, bila ada binatang buas yang mengancam keselamatan manusia, binatang itulah yang diburu, ditangkap, dikurung, dan “disalahkan”. Bukan malah manusianya yang diberangus dan dibungkus.

Tetapi di Indonesia—negara beradab dengan budaya ketimuran—manusialah yang disuruh “berdiam” di dalam rumah, berjaga-jaga, waspada, cemas karena adanya para “predator”. Kehidupan di negara ini seperti di zaman kolonial dan mendukung ide “absolut” bahwa anak-anak dan wanita adalah kaum lemah yang akan selalu jadi warga negara kelas dua.

Ide waspada dan selalu berjaga-jaga itu baik, sangat baik. Tetapi menyalahkan seorang gadis berusia 14 tahun yang pulang sekolah pada siang hari di sebuah dusun, yang menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan secara acak, apakah itu wajar? Oh iya, saya lupa bahwa tidak ada empat saksi yang melaporkan. Jadi, hal tersebut masih patut diragukan dan poster Mia Khalifa pun tetap berkibar di setengah tiang bendera merah putih kita.

Mereka itu predator. Para predator yang dimaklumi budaya patriarki karena “manusia” tidak dibungkus rapi. Para predator yang mungkin khilaf dengan kelakuannya karena pengaruh eksternal maupun internal. Harap maklumi mereka karena mabuk. Salahkanlah manusia yang tidak membungkus rapi dirinya agar selamat atau malah berjalan sendirian di depan para predator.


Bagaimana? Hebat kan? Kehormatan perempuan sangat dijaga di negara beradab. Itulah mengapa mereka harus menanggung beban moral laki-laki (hawa nafsu); perempuanlah yang harus “dibungkus” rapi dan tidak boleh berjalan sendirian karena para predator tidak pernah salah. Mereka ada karena kelalaian kita.

Oleh karena itu, sama halnya para pencuri tidak pernah salah karena para pemilik rumah yang lalai dalam mengawasi rumahnya. Perampok tidak pernah salah karena kitalah selaku korban yang lalai berjalan sendirian di jalan. Para penipu pun tidak pernah salah. Kenapa? Ya salah siapa jadi korban, kok goblok sampai bisa tertipu?

Maka sebaiknya polisi dibubarkan saja, lalu bentuklah BPKK (Badan Pengawas Kelalaian Korban) karena sekarang yang salah bukanlah para tersangka melainkan korban.


Salah satu solusi pemerkosaan adalah dengan pernikahan. Untuk para jomblo, nampaknya mereka telah menemukan solusi mudah dalam budaya patriarkial karena bila mereka ingin menemukan jodoh, pemerkosaan dapat menjadi sebuah tindakan nyata. Bagaimana tidak, bila pernikahan adalah sebuah solusi, maka jomblowan dan jomblowati berhak memerkosa figur idolanya agar mereka dinikahkan satu sama lain dan meresmikannya sebagai seorang pencari nafkah atau babu di dapur serta kasur.

Maka dengan ini saya nyatakan bahwa pemerkosaan bukanlah kriminalitas. Yang merupakan kriminalitas adalah pakaian korban dan sebotol miras: botol “ajaib” yang bisa memprovokasi manusia untuk melakukan suatu tindakan negatif.

Jadi, jangan mengajari laki laki untuk tidak memerkosa, tetapi ajari perempuan agar “terbungkus” rapi. Ini logika absolut, jadi tidak usah banyak tanya, mengkritik, protes, apalagi menghujat.

Resedivis_ @ Perspektif
All Rights Reserved

Advertisements

One thought on “Pemerkosaan: Salah Miras dan Korban!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s