#ThoughtsOnThings: KN, AG, dan Kawan-kawan

Akhir-akhir ini kembali kita sering lihat pembahasan mengenai KN di internet. Jujur saja, saya sendiri bosan membaca 3 berita utama Line Today yang sekarang sering memunculkan nama KN dan AG. Karena penasaran, akhirnya saya menelusuri sebenarnya apa yang terjadi. Yak, ternyata sekarang KN dan AG mulai berurusan dengan KPAI. Singkat cerita, KPAI melaporkan kedua akun media sosial milik KN dan AG ke Kominfo. Dikutip dari newsth.com, “KPAI menilai gaya hidup kedua selebgram itu menjadi contoh buruk bagi remaja Indonesia. Ketua KPAI Asrorun Niam mengatakan KPAI sudah melakukan koordinasi dengan Kominfo terkait laporan yang banyak disampaikan para orang tua.”

Saya kutip sekali lagi dari newsth.com, “Langkah tersebut dilakukan KPAI menyikapi banyaknya laporan orang tua mengenai akun media sosial yang memiliki efek pada remaja Indonesia. Awkarin dan Anya Geraldine saat ini bisa dibilang sebagai dua akun yang memiliki banyak pengaruh pada remaja”.

Yah pokoknya kalian sendiri sepertinya sudah mengerti kasusnya seperti apa.


Tidak, saya buat artikel ini bukan untuk menyalahkan KN, AG, atau pun KPAI. Bukan, mari kita lebih ke dasar lagi. Kita masuk ke bagaimana manusia belajar. Seperti yang dahulu saya bahas pada artikel mengenai kasus KN, bahwa belajar merupakan perubahan yang relatif menetap karena latihan. Masih menggunakan social-cognitive theory dari Bandura, manusia, kognitif, dan lingkungan berpengaruh penting dalam proses belajar individu. Itu berarti, manusia, kognitif, dan lingkungan memegang kunci penting dalam perkembangan siapa pun, dari anak-anak, remaja, hingga dewasa.

Mengacu pada hal tersebut, kita dapat katakan lingkungan berperan penting sebagai sumber informasi orang-orang belajar, entah melakukan modelling atau imitasi. Selain itu, lingkungan juga menjadi kontrol untuk belajar. Mana yang bisa dilakukan dan yang mana yang tidak boleh dilakukan, semua orang akan belajar dari lingkungan. Dengan luasnya lahan seseorang untuk belajar, bukankah akan susah untuk mengontrol agar seseorang sesuai dengan ekspektasi orang-orang sekitarnya (sebut saja orang tua). Lalu bagaimana cara mengontrolnya?

Dahulu juga saya pernah katakan bahwa semua orang memiliki penyaring masing-masing dalam menyerap informasi. Pengetahuan, pengalaman, norma masyarakat, kepercayaan, semuanya dapat menjadi alat untuk menyaring informasi yang ada, yang mana yang buruk yang mana yang baik. Lengkap, komplit, joss deh pokoknya. Jadi jika penyaringnya sudah cukup kuat, mau ditaruh di mana pun, seseorang akan tetap berpegang teguh dengan value yang telah ia anut. Lalu, bagaimana cara membuat penyaring itu kuat? Dengan banyak membaca, banyak mencari pengalaman, diskusi, dan sebagainya juga dapat membuat peyaring yang kuat.

Hmm… lalu apa hubungannya dengan kasus ini?

Sebagaimana kita perhatikan, sebelum KPAI menyoroti dua akun ini, keduanya dilaporkan oleh para orang tua karena terlalu vulgar dan mengunggah foto ciuman. Selain itu, mungkin konten yang diberikan juga dapat memengaruhi remaja. Beruntunglah, kedua akun ini masih bisa dilaporkan kepada pemerintah karena dinilai kurang baik untuk remaja (oleh beberapa orang tua, ya). Tapi coba bayangkan, apa semua hal dapat dikontrol sebegininya oleh orang tua? Apa seluruh lingkungan remaja bisa dijaga supaya remaja cuma terpapar baik-baiknya lingkungan saja? Lalu kapan mereka menghadapi lingkungan yang sebenarnya?

Inilah yang saya herankan, bukannya menguatkan anak untuk dapat menghadapi lingkungannya, mengapa ada beberapa orang yang lebih suka menutup mata anaknya supaya tidak dipengaruhi hal-hal buruk dari lingkungan? Tidakkah itu membuat anak nantinya tidak siap ketika sudah waktunya mereka berjuang sendiri? Atau apakah akan selalu ditutup terus matanya?


Iya, lingkungan merupakan sumber informasi, dan iya juga kalau dengan mengontrol lingkungan, kita bisa membuat remaja berkembang sesuai ekspektasi tadi (mengikuti norma, anak baik, blablabla, anak idaman banget). Akan tetapi, sekali lagi saya tanya, kapan dia belajar? Kapan dia belajar bahwa ada saja hal-hal buruk di dunia ini? Dengan memblokir dua akun tadi, bukan berarti remaja tidak bisa terpapar akun-akun lain yang mungkin (beberapa orang tua pikir) lebih buruk lagi. Akankah semua akun tersebut akan dilaporkan? Ya kalau akunnya punya orang Indonesia, kalau bukan? Kalau ternyata artis terkenal yang endorsenya banyak banget? Da gimana cara blokirnya? Terpaksa blokir Instagram? Lalu apa lagi? Facebook? Google? Internet?

(Dadaaaah, ‘internet sudekat’, kau jauh lagi…)

Ya kan ngga mungkin begitu…

Maka dari itu, ketimbang kita berupaya mengontrol sesuatu yang tidak dapat dikontrol selamanya, kenapa tidak kita mulai menyiapkan diri mereka untuk menghadapi lingkungan ini? Toh tidak ada salahnya kita memberikan penguatan pada mereka. Sebagai orang tua, bukan berarti seseorang dapat mendekap anaknya dan menyingkirkan segala hal buruk yang dapat memengaruhinya. Bagaimana kalau kita biarkan remaja belajar dan pastikan kalian ada untuk mereka ketika mereka butuh kalian. Toh dari kecil, seorang anak akan selalu terpapar pengajaran orang tua, tidakkah itu cukup untuk bekal mereka menghadapi lingkungan?

 

23 September 2016

Jester @ Perspektif

All Rights Reserved

 

Sumber gambar: http://www.babysitting.academy/

Advertisements

3 thoughts on “#ThoughtsOnThings: KN, AG, dan Kawan-kawan

  1. Perubahan itu pasti terjadi, cara saya menyikapinya sebagai remaja yang sedang tumbuh dan berkembang di era globalisasi seperti ini adalah dengan mengontrol diri saya sendiri karena saya sama sekali tidak punya hak untuk mengatur apa yang ada di luar diri saya.
    sekian~

    Like

  2. sebenarnya ini salah kiblat politikasi kita min..seandainya indonesia ga nerapin “ekonomi kapitalis” gabakal ada yg namanya pergaulan bebas,cipokan,blabla deh.. coba min bandingin sama jamanye soeharto lumayan teratur walopun ga teratur amat..ya intinya semuanya tu dari masalah sepele yg ngedepanin 1 titik tapi lup kalo titik itu akan menyebar..

    #salamrevolusi

    Like

  3. Ya wajar kalo orgtua merasa terancam dengan adanya “nilai-nilai yang dianggap menyimpang”. Memang, masyarakat dan kita akan selalu melihat ada sesuatu yang salah di lingkungan yang sebenarnya. Kalau menurut saya wajar, langkah pertama dr orang yg melihat ada ancaman pasti yang pertama muncul “prevent”: entah blok, entah kecam, entah berkoar-koar untuk meniadakan, itu pasti ada. Lalu baru kemudian muncul step-step utk “gimana kita harus bersikap kalo kenyataannya ‘penyimpangan’ akan selalu ada”. Tp menurut saya ini alamiah. Karena pasti ada resistensi terhadap “yaudahlah, terima aja.” Semisal kita melihat sesuatu yang negatif, kita ga mgkn menutup mata. We don’t let murderers walk free, we don’t let criminals walk free – bukannya menyatarakan dgn kriminal – but what of those yg menggembar-gemborkan gaya hidup serba bebas dan konsumtif sementara kita tau generasi muda Indonesia blm siap menanggung akibatnya? Kalo menurut saya pribadi, kalo insting kita (khususnya sbg orangtua) tau sesuatu salah, tdk ada salahnya kita mencoba melindungi anak kita, meneriakkan pada dunia apa yg salah apa yg benar. Karena suatu hal yg negatif bukannya muncul begitu saja. Tp karena org2 yang tau itu salah diam saja.. Tapi perspektif Anda juga benar, orangtua harus menyiapkan anaknya agar tahu lingkungannya bisa seperti apa. Tinggal kelanjutannya saja bagaimana.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s