Beberapa waktu lalu saya sempat melihat sebuah video dari laman Facebook Dear Alyne berseliweran di timeline saya. Di videonya, dia mengulas tentang PINK TAX.

Apa tuh Pink Tax?

Harga lebih tinggi yang dibebankan pada perempuan daripada laki-laki untuk jenis barang yang sama. Beberapa contoh yang Alyne pakai di videonya adalah alat cukur dan deodorant.

Di video tersebut, Alyne bercerita tentang bagaimana perempuan selalu dibebankan harga lebih tinggi dibanding laki-laki untuk produk yang sama, bahkan ketika bahan-bahan yang digunakan 100% sama.

Dia juga mengutip Obama yang pernah mengatakan, “kenapa kemeja saya selalu lebih murah dari kemeja Michelle?”

Tentu saja banyak orang berideologi x langsung mengamuk melihat video tersebut dan mengaitkannya dengan diskriminasi gender.

Masalahnya, saya melihat ada aspek valuasi produk yang mungkin luput atau sengaja dihilangkan oleh si pembuat video.

Aspek yang dia pertimbangkan antara lain: material (bahan baku), bentuk, jumlah, dan fungsi. Padahal, valuasi produk itu soal persepsi yang tidak melulu bersandar pada hal-hal rasional dan terukur.

Harga adalah pertemuan antara nilai yang dikonstruksi produsen dengan persepsi nilai konsumen. Itu yang menjelaskan kenapa harga barang dari suatu brand berbeda dengan brand lain, meskipun material dan fungsinya persis sama.

Ketika derajat keberhargaan sebuah jenis barang lebih tinggi di mata perempuan, dibanding laki-laki, maka harganya akan jadi lebih tinggi juga. Begitu pula sebaliknya.

Coba kalau di Steam, cek apakah harga game perempuan lebih mahal dari laki-laki? Menurut saya sih yang lebih mungkin adalah sebaliknya: lebih mahal game laki-laki.

Selain itu, ada juga aspek interaksi supply-demand. Apabila supply tinggi, demand rendah, harga anjlok. Tapi, ketika supply rendah, demand tinggi, harga naik.

Faktanya, sebuah survey di Inggris pada tahun 2013 menunjukkan perempuan lebih suka belanja barang fashion dari laki-laki. Hal ini bisa berkontribusi membuat harga barang fashion perempuan lebih tinggi.

Kemudian, marketing cost. Saya menduga ada perbedaan cost iklan yang cukup signifikan antara barang perempuan dengan laki-laki untuk jenis produk yang sama.

Terutama karena model perempuan harganya jauh lebih tinggi dari laki-laki (bisa sampai 75% lebih tinggi). Lha, kenapa bisa begini? Ya balik lagi ke mekanisme pasar (perceived value, interaksi supply-demand, etc).

Aspek-aspek ini luput atau mungkin sengaja dihilangkan oleh Alyne. Padahal, kesemuanya ini harus dilihat sebagai sebundel variabel pembentuk harga yang tidak boleh dipertimbangkan secara sepotek-sepotek, harus menyeluruh.

Sila berpendapat di kolom komentar. Kalau tidak punya argumen, maki-maki juga boleh. Feel free ❤️


Data yang dikutip dalam tulisan:
https://www.bustle.com/articles/19853-why-do-women-like-to-shop-more-than-men-stereotype-or-not-researchers-have-their-theories
https://www.standard.co.uk/fashion/news/gender-pay-gap-in-modelling-industry-sees-women-earn-75-more-than-men-a3597656.html

Video Alyne:
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=194488441235252&id=108819713135459


Penulis:
Cania Citta Irlanie
@Cittairlanie
GEOLIVE ID

One thought on “Pink Tax”

Leave a Reply

%d bloggers like this: