Sebelum memahami pikiran penggiat anti vaksin, kita harus tahu dulu lah, apa itu vaksin? Jadi vaksin sebenarnya merupakan antigen yang di dalamnya terkandung bakteri, racun, ataupun virus penyebab penyakit yang hidup (sudah dilemahkan) atau yang sudah dimatikan. Vaksin ini bekerja untuk merangsang sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga tubuh merasa sedang diserang kuman aktif. Nah, proses tersebut lalu direspons tubuh dengan cara memproduksi antibodi dimana hal itu diam dalam tubuh dan secara lambat laun akan melindungi tubuh di masa yang akan datang. Proses pembentukan antibodi inilah yang dinamakan imunisasi.

Setelah ditemukan pada tahun 1789, vaksin berhasil menyelamatkan jutaan nyawa manusia dari penyakit infeksi, seperti polio, difteri, campak, tetanus, TBC, dan lainnya.

Proses pemberian vaksin kita sebut vaksinasi, biasanya ini menjadi program wajib pemerintah untuk mengatasi wabah penyakit pada warganya. Selain ada yang mendukung, ada juga yang menentang program ini, karena disebabkan oleh beberapa hal seperti; Adanya Teori konspirasi tentang vaksin, Testimoni testimoni palsu yang disebarkan, pandangan politik sampai kepercayaan agama. Iya, ini terjadi karena ada kelompok antivaksin yang salah paham tentang apa itu vaksin dan bagaimana ia bekerja. Gerakan antivaksin ini sudah muncul semenjak vaksin diciptakan meskipun konsensus ilmiah menunjukkan bahwa, vaksin itu aman dan efektif.

Yang perlu dicatat adalah kekebalan dari vaksin tidak hanya bekerja secara individu, namun juga komunal. Dengan arti, jika seluruh anak di suatu lingkungan bisa memiliki kekebalan yang sama, maka penyakit akan sulit muncul. Sebaliknya jika ada beberapa anak yang orangtuanya bersikap antivaksin, maka bisa terjadi kemungkinan penyakit merebak dan mewabah, dimulai dari beberapa anak yang kekebalannya lemah. Polio dan difteri adalah contoh penyakit yang seharusnya sudah hilang namun muncul kembali di Indonesia akibat kelalaian dan sikap anti vaksin.

Pemerintah Indonesia hari ini sedang menggiatkan vaksin terhadap penyakit campak/rubella. Setiap tahunnya dilaporkan lebih dari 11.000 kasus suspect campak, 12-39% campak pasti dan 16-43% adalah rubella pasti. Berdasarkan data dari 2010-2015 terdapat 23.164 kasus campak dan 30.463 kasus rubella. Sayangnya angka ini tergolong rendah dibanding fakta di lapangan, karena masih banyak kasus yang tidak terlapor atau terdata yang disebabkan oleh berbagai permasalahan teknis.

Di Amerika, sebelum diadakannya kegiatan vaksinasi terhadap campak yaitu pada tahun 1963, penyakit ini sempat menjangkiti 3-4 juta jiwa penduduk disana. Dimana dilaporkan setiap tahunnya 400-500 meninggal. Setelah dilakukan vaksinasi, penyakit ini dinyatakan bisa 99% berkurang, bahkan kini bisa dinyatakan musnah pada negara adidaya ini.

Terlepas dari data data di atas, di Indonesia masih terdapat tindakan pro dan kontra terhadap program vaksinasi tersebut, salah satunya adalah pertanyaan yang bersifat sangat penting nan mendesak seperti Halal/Haram. Bagaimana jika Vaksin tidak bersertifikasi Halal? Kalau dikutip dari Fatwa MUI Nomor 4 Tahun 2016 tentang pembolehan imunisasi yang dimana isinya terdapat kelonggaran hukum berimunisasi dengan vaksin yang haram/najis, asalkan digunakan pada kondisi yang “darurat” atau belum ditemukan bahan vaksin yang halal/suci serta adanya keterangan tenaga medis yang kompeten dan dipercaya bahwa tidak ada vaksin yang halal lagi selain vaksin tersebut.

Penyakit ini harus dicegah dengan serius dan sedini mungkin, pasalnya, dampak penyakit ini luar biasa dan bisa mematikan, apabila tidak dilakukan vaksin terhadap anak-anak, maka akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan mereka ke depannya.”

Sepertinya kutipan di atas itu hanya konspirasi saja, ini tidak benar, ini kutipan yang dibuat buat untuk melemahkan umat pastafarian.

Faktanya, Imunisasi hanya program licik Wahyudi untuk melumpuhkan generasi umat pastafarian dan vaksin adalah “alatnya”. Umat pastafarian ini lemah, tertindas dan tidak berdaya sama sekali. Pada masa hidupnya, wahyudi hanya melakukan hal licik tersebut, setelah selesai melakukan misinya itu, biasanya mereka membelah dirinya menjadi dua bahkan tiga (regenerasi), lalu melanjutkan lagi agenda agenda tersebut dengan jumlah yang masif dan terstruktur.

Ibu rumah tangga wahyudi sehari hari memasak sambil berpikir, bagaimana cara membuat resep yang beracun untuk meluluhlantakan segenap umat pastafarian. Anak anak sekolah wahyudi, di kurikulumnya didoktrin dengan visi menghancurkan peradaban pastafarian, mata pelajarannya hanya ada dua; cara mebodohi/mendzolimi dan membinasakan pastafarian. Sementara para bapak bapaknya mencari uang untuk 70% didonasikan kepada organisasi-organisasi non profit yang memiliki visi misi sangat sangat anti pastafarian.

Begitulah skema kehidupan orang Wahyudi, mereka bahkan tidak peduli dengan hidupnya sendiri.

Selain itu, data data medis yang dipaparkan oleh penggiat imunisasi yang dimotori oleh dinas kesehatan diatas, tentang jumlah kasus campak/rubella itu hanyalah akal akalan pemerintah untuk mengalihkan berita terhadap kematian anak anak di Palestina, saya sangat yakin akan hal itu.

Bila kita telusuri secara seksama, vaksin dari kosakatanya saja sudah tidak lazim untuk di dengar bagi masyarakat timur yang jauh lebih beradab dari masyarakat barat, pada kamus britanika campakrubelia, kata vaksin berasal dari kata, vak yang berarti; f*ck dimana hal tersebut berkonotasi sangat negatif bagi kami, seperti persetan; menyetubuhi (tergantung konteks penggunaan kalimat) dan sin yang jelas artinya adalah dosa. Jadi vaksin adalah persetubuhan setan yang penuh dosa, make sense kan? Enggak? Ah yang penting cocok, coba bayangkan, masa sih hal itu dimasukkan ke dalam sistem tubuh manusia agar kebal terhadap bakteri dan virus yang dapat menyebabkan berbagai penyakit? Itu tidak boleh dan tidak bisa. Karena kita terlalu suci untuk itu.

Terdapat penelitian dari seseorang profesor dari Universitas Brazerz yang terkenal bagi umat Pastafarian, dia menemukan bahwa vaksinasi itu berbahaya bagi kesehatan, hal ini terbukti dan diakui oleh ilmuwan lainnya sebagai sebuah kemajuan scientific yang luar biasa, karena ini berhubungan dengan iman dan sudah dicocokkan sebelumnya.

Berkat penelitian tersebut, nama beliau sejajar dengan saintis saintis legendaris seperti Newton, Albert Einstein, Stephen Hawking dan ilmuwan tersohor lainnya. Karena umurnya masih muda, bisa saja beliau ini akan menjadi peraih nobel terbanyak di alam semesta. Dia adalah Prof. Dr. Bernard Mahfouz.


Penulis: Resedivis_

Follow Resedivis_ di Instagram: https://www.instagram.com/tripradnyana/


Further read:

https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/vis/vis-statements/mmr.html#

https://www.cdc.gov/vaccines/vpd/measles/index.html

https://www.vaccines.gov/basics/index.html

http://www.searo.who.int/indonesia/topics/immunization/

http://e-journal.biologi.lipi.go.id/index.php/berita_biologi/article/view/2862

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Antivaksin

http://www.halalmui.org/mui14/index.php/main/detil_page/8/23242

2 thoughts on “Memahami Pikiran Penggiat Anti Vaksin”

Leave a Reply

%d bloggers like this: